Dark/Light Mode

Urungkan Niat Buka Mall Dan Pusat Perbelanjaan Di Jakarta

Ingat, Dulu Virus Spanyol Meledak Di Gelombang 2

Kamis, 28 Mei 2020 07:17 WIB
Pondok Indah Mall
Pondok Indah Mall

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebagian warga Jakarta belum setuju mall dan pusat perbelanjaan akan dibuka 5 Juni 2020. Sebab, penularan pandemi belum menurun.
    
Apalagi berdasarkan pengalaman, pandemi influenza 1918 atau yang dikenal sebagai flu Spanyol penyebarannya meledak pada gelombang kedua. 
    
Wabah virus flu Spanyol berlangsung selama dua tahun. Dengan jumlah kematian terbesar terjadi selama tiga bulan yang paling mengerikan pada musim gugur 1918.
    
Para peneliti dan sejarawan meyakini sepertiga penduduk dunia, yang saat itu berjumlah sekitar 1,8 miliar orang, terkena penyakit tersebut. 
     
Sejarawan sekarang memahami bahwa kematian terparah pada serangan gelombang kedua flu Spanyol disebabkan oleh virus yang bermutasi yang disebarkan oleh gerakan pasukan perang.  Virus ini menginfeksi sekitar 500 juta orang di seluruh dunia dan membunuh sekitar 50 juta jiwa.
    
 “Belajarlah dari pengalaman virus flu Spanyol yang meledak pada gelombang kedua. Ini virus corona masih ada, kok mall  dan pusat perbelanjaan mau dibuka. Seharusnya yang menimbulkan keramaian, diurungkan dulu untuk dibuka,’’ kata Arianta, warga Jakarta Timur, kemarin.
     
Rencana  buka mal juga ditentang keras Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Lembaga ini menilai, langkah ini berbahaya dan gegabah. Sebab, pandemi Covid-19 belum berakhir.
     
"Rencana pembukaan mall di Indonesia khususnya di Jakarta 5 Juni kebijakan yang terlalu dini, bahkan terlalu gegabah. YLKI menolak dan menentangnya," kata Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi, dalam keterangannya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.  

    
Kebijakan membuka pusat perbelanjaan harusnya dilakukan setelah kurva kasus Covid-19 melandai. Jika belum menurun dan dipaksakan, mall yang menjadi tempat berkumpulnya orang banyak bisa berpotensi menjadi tempat penularan virus.
     
       
Tulus  mengingatkan, sangat sulit menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19 di pusat perbelanjaan.  "Apalagi dalam pengawasannya. Pasti banyak pelanggaran protokol kesehatan. Akhirnya kurva naik lagi," ujarnya.
      
YLKI pun mendesak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menolak rencana tersebut. "Kalau kurva belum melandai, artinya belum siap dan belum aman. Selain itu, kalau masih PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan masih zona merah Covid-19,  tidak bisa dibuka. YLKI mengimbau masyarakat tak mendatangi mall di tengah pandemi saat ini," paparnya.

                                                  
Itu Imajinasi
    
Menanggapi soal rencana pembukaan mall dan pusat perbelanjaan, Gubernur DKI Jakarta Anies membantahnya. Dia menegaskan, hingga kini belum ada kebijakan yang mengatur soal itu. 
   
 
"Jadi itu imajinasi, itu fiksi. Karena belum ada aturan manapun yang mengatakan bahwa PSBB akan diakhiri 4 Juni nanti," kata Anies saat memantau di check point di KM 47 Tol Jakarta-Cikampek, kemarin.
     

PSBB tahap ketiga memang berlangsung hingga 4 Juni. Apakah berlanjut, atau  berhenti, bergantung pada pantauan perilaku masyarakat dan perkembangan penyebaran virus. 
   

PSBB diakhiri, lanjut Anies, jika  reproduksi virus corona menunjukkan di bawah angka 1.00. PSBB bisa berlanjut jika angka tidak alami penurunan, serta masyarakat tidak patuh selama penerapan fase ketiga.
    

Dia mengakui, memang tengah menyiapkan langkah menghadapi new normal. Sejumlah protokol yang akan diterapkan saat new normal juga telah disiapkan untuk setiap sektor. Seperti perekonomian, keagamaan, sosial dan budaya. Penyusunan protok melibatkan para ahli. Protokol ini akan disampaikan saat penentuan berakhir atau tidaknya PSBB 4 Juni mendatang. 
      

Baca Juga : Jenderal Luhut Kirim Meme Ke Prof Mahfud

Anies   meminta warga tetap disiplin dan patuh dengan membatasi pertemuan dan interaksi antar warga, cuci tangan, dan pakai masker hingga jaga jarak.
      

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat memaparkan, ada 60 mall atau pusat perbelanjaan yang akan kembali beroperasi usai pada Jumat, 5 Juni mendatang. 
    

Berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 489 Tahun 2020, perpanjangan  PSBB di Jakarta   berakhir 4 Juni 2020. 
     

Selama PSBB, sejak 10 April 2020, mall dan pusat perbelanjaan ditutup. Kecuali ritel yang menyediakan bahan pokok karena termasuk dalam usaha yang dikecualikan. Mall-mall besar, pusat perkulakan elektronik, pusat kulakan kain seperti Tanah Abang, praktis tak beroperasi.
     

Usai PSBB, maka diberlakukan kehidupan new normal. Kementerian Kesehatan telah menerbitkan panduan kesehatan lengkap menyambut new normal bagi para pekerja. Aturan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. 
     

Menkes Terawan Agus Putranto mengatakan, dunia kerja tidak mungkin selamanya dibatasi. Sebab roda perekonomian kudu tetap bergulir. Namun harus tetap mengedepankan langkah-langkah pencegahan.
     

Baca Juga : Jakarta Menggembirakan, Jawa Timur Menegangkan

"Perlu upaya mitigasi dan kesiapan tempat kerja seoptimal mungkin sehingga dapat beradaptasi melalui perubahan pola hidup pada situasi Covid-19 atau new normal," tulis Terawan dalam keterangan resminya, Senin (25/5). 

                                             
Pasar Tetap Rame
     
Jika mall dan pusat perbelanjaan tutup, pasar tradisional di Jakarta masih tetap buka. Tapi selama PSBB, pasar  penuh sesak. Aturan jaga jarak kerap diabaikan.
       

Anehnya, kepadatan bukan hanya pasar tradisional yang menjual bahan pokok, tapi juga pasar mainan, seperti Pasar Gembrong, Jakarta Timur. 
      

Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka, pasar yang terletak di Jatinegera ini tetap rame diserbu warga untuk membeli mainan. Hingga hari ketiga setelah lebaran, pengunjung yang kebanyakan orang tua dan anaknya masih berdatangan di pusat mainan di Ibu Kota ini.
     

Puluhan sepeda motor pengunjung parkir di bahu jalan. Bikin lalu lintas lumayan tersendat. Di dalam pasar, pengunjung berdesakan di sejumlah lapak mainan. Tak ada jarak. Tak ada tempat cuci tangan atau hand sanitizer disediakan. Untungnya, pengunjung banyak yang sadar. Pada pakai masker.
     

Selain Pasar Gembrong, pasar hewan yang terletak di Jatinegara, Jakarta Timur, juga kembali rame. Pedagang sampai tumpah di Jalan Matraman Raya. Tak ada jaga jarak antar pengunjung dan penjual. Di lapak jualan hewan peliharaan seperti kelinci, kucing, hingga ikan hias, jarang juga disediakan sabun untuk cuci tangan.
   

Baca Juga : Rakyat Gak Sabar Nongkrong di Mall

Hal serupa terjadi  di Pasar Burung Jatinegara yang terletak di Jalan Kemuning, Jakarta Timur. Pengunjung  yang berjalan kaki maupun pakai motor bolak-balik melintas sembari melihat burung yang dipajang di lapak-lapak. Puluhan sepeda motor parkir di atas trotoar. Pengumuman PSBB pun diabaikan.

                               
Lembek Penegakan Aturan 
  
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak menilai, maraknya keramaian di pasar, ini bukti Pemprov DKI Jakarta lembek menegakkan aturan. 
     

Gubernur Anies Baswedan mestinya tak hanya mengimbau masyarakat, tetapi perlu tindakan tegas supaya protokol kesehatan dipatuhi.
     

Selain itu, lanjut Gilbert,  perlu pengawasan ekstra di lingkungan pasar tradisional selama pandemi Covid-19. Warga juga harus dididik dengan  membuat tanda jarak 1 meter di pasar.
    

"Harus dipaksa dan harus menjadi standar normal baru ke depan. Kondisi ini juga harus diawasi dengan ketat. Kalau tidak, akan meningkatkan risiko gelombang kedua yang lebih besar," tegasnya. [FAQ]