Dark/Light Mode

Corona Jakarta Nambah 7.746

PSBB Belum Nendang Bro!

Senin, 21 September 2020 06:50 WIB
Ilustrasi penerapan ganjil genap di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta. (Foto: Dwi Pambudo/RM)
Ilustrasi penerapan ganjil genap di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta. (Foto: Dwi Pambudo/RM)

 Sebelumnya 
Kedua, lanjut Dicky adalah dosis. “Pilihan dosisnya apakah PSBB total, PSBB transisi atau PSBB kompromi. Ini saya melihat kompromi PSBB-nya. Awalnya saya pikir total,” ucapnya.

Alasannya menyebut PSBB kompromi, karena masih banyak hal yang dilonggarkan. Seperti 25 persen karyawan perkantoran masih dibolehkan masuk. Pasar dan mal masih beroperasi dan boleh didatangi 50 persen dari kapasitas pengunjungnya. Ibarat obat, dosis untuk mengobati penyakit yang diderita

DKI saat ini menurut Dicky tidak ideal. Karena masih dikompromikan. Ketiga, lanjutnya adalah durasi. Lama waktu PSBB yang diterapkan di Jakarta saat ini, yaitu 2 minggu menurut Dicky belum sepadan. Harusnya, jika positivity rate atau persentase kasus positif di atas 10 persen, lama waktu PSBB idealnya harus diberlakukan selama 2 bulan.

Baca juga : Akhirnya Gareth Bale Balik Ke Kandang Spurs

Sementara positivity rate Corona di DKI Jakarta dalam sepekan terakhir mencapai 13,2 persen. Sedikit di bawah positivity rate Indonesia yakni 14,2 persen, yang sudah melampaui 3 kali lipat dari standar Badan Kesehatan Dunia atau WHO. “Nggak cukup 2 minggu,” nilai Epidemiolog. Apalagi PSBB tu levelnya menurut Dicky masih di bawah lockdown.

Karenanya, ia menyarankan agar durasi PSBB-nya ditambah. “Minimal 1 bulan lah PSBB-nya. Tapi total. kalau nggak, jangan kaget, jika kasusnya meningkat. Dan seminggu ini saja terlihat belum optimal,” sambungnya.

Sementara pakar Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Pandu Riono mengaku belum bisa mengukur efektivitas PSBB di Jakarta dalam waktu satu pekan. Minimal 2 pekan. “Kalau masih naik terus itu sih biasa. Pengetatan juga harus meluas ke seluruh indonesia,” ujar Pandu Riono kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

Baca juga : Kasus Baru Corona Bertambah 3.141, Kasus Suspek Nyaris 100 Ribu

Ditanya apakah PSBB periode di Jakarta sudah on the track, Epidemiolog UI itu enggan membuat kesimpulan. “Tidak tahu, coba deh tanya pada Pak Luhut,” sarannya.

Monica Nirmala, salah saf khusus Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, jumlah kasus positif Covid19 di 9 provinsi itu juga belum bisa menyimpulkan PSBB di DKI Jakarta gagal. “Baru seminggu jalan juga ya. biasanya, keputusan strategis yang diambil itu dampaknya paling tidak 2 minggu. Ini masih naik terus,” kata Monica kepada Rakyat Merdeka tadi malam.

Jika PSBB dalam 2 pekan nanti dinilai tidak efektif, jebolan Fakultas Kesehatan UI dan Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Harvard mengaku pihaknya sudah menyiapkan beberapa langkah alternatif. Salah satunya ‘lockdown’ skala mikro. “Misalnya kalau ada kasus positif di suatu gedung, kemudian gedungnya tersebut yang di-Lockdown lah. bisa dibilang begitu. Jadi itu yang sedang dipikirkan oleh tim,” terangnya.

Baca juga : Jakarta Silakan PSBB, Tapi Urusan Nikah Jalan Terus

Tim Luhut yang diminta mengurus tata laksana klinis itu menyebut 2 kunci penting agar upaya penurunan kasus Covid-19 saat ini berhasil. Pertama perilaku, kedua surveillance. “Perilaku didisiplinkan. Ada operasi yustisia,” jelasnya. [SAR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.