Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Jakarta Level 2
Merdeka Dari Corona Dibayangi Gelombang 3
Kamis, 21 Oktober 2021 08:15 WIB
Sebelumnya
Merujuk data Kementerian Kesehatan, enam hari terakhir kasus Corona di Jakarta masih di atas 100. Hal ini membuat DKI selalu menyumbang kasus tertinggi secara nasional. Per hari kemarin misalnya, secara nasional ada tambahan 914 kasus. Dua provinsi penyumbang kasus terbanyak adalah Jawa Barat dengan 124 kasus dan DKI Jakarta 103 kasus.
Penambahan itu membuat DKI menjadi penyumbang kasus positif tertinggi selama enam hari beruntun. Rinciannya, sehari sebelumnya kasus di Jakarta sebanyak 106 kasus. 18 Oktober 107 kasus, 17 Oktober 131 kasus, 16 Oktober sebanyak 154 kasus, dan 15 Oktober sebanyak 124 kasus.
Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman mengingatkan, prediksi gelombang ketiga datang pada akhir tahun. Kata dia, ada beberapa penyebab kenapa gelombang tiga muncul. Antara lain mobilitas masyarakat yang tinggi, tingkat vaksinasi Covid yang masih rendah, hingga munculnya varian baru.
Baca juga : Disiplin Prokes Senjata Utama Hindari Ancaman Gelombang Ketiga
Terkait mulai bertambahnya pasien Covid di RSCM, Dicky khawatir, hal ini menjadi pertanda bahwa gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia semakin dekat. Soalnya, kata dia, lonjakan kasus Corona tak datang secara tiba-tiba, tapi bertahap. Bahkan bisa jadi tak terlihat, karena faktor pelaporan yang tak aktual.
“Karena itu, saya minta pemerintah memperhatikan peningkatan kasus Corona di rumah sakit. Laporan kemunculan pasien baru bisa membantu menggambarkan kondisi lapangan,” sarannya.
Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban mengemukakan gelombang ketiga di Indonesia sangat bergantung pada ketaatan masyarakat terhadap protokol kesehatan dan kebijakan pemerintah.
Baca juga : DKI Tambah Medali Emas Dari Cabor Dayung
“Apakah mau pakai terus protokol kesehatan atau tidak. Artinya, saat ini pergerakan masyarakat cukup sering dan cukup padat, sehingga ada risiko penularan,” kata Zubairi.
Hal berikutnya yang juga perlu diperhatikan, kata Zubairi, adalah konsistensi pemerintah dalam menerapkan kebijakan PPKM. Selain itu, Zubairi juga mengingatkan tentang perilaku virus Corona yang selalu bermutasi untuk bisa beradaptasi dengan keadaan.
Namun, Zubairi berharap, situasi Corona yang menunjukkan tren penurunan di Tanah Air sebagai pertanda menuju endemi. “Semoga tahun depan bukan gelombang ketiga, namun endemi, artinya hanya ada di satu daerah di provinsi, kemudian nanti hilang, kemudian muncul lagi di tempat lain,” harapnya. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya