Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Bagas merespon bahwa BRICS merupakan kelompok negara yang beranggotakan Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan yang juga merupakan 5 negara berkembang terdepan di dunia. Meskipun belum menjadi anggota BRICS, menurut Bagas Hapsoro, Indonesia telah menyerukan agar negara-negara anggota BRICS memperjuangkan hak pembangunan setiap negara dan terus memperkuat multilateralisme.
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membangun kerja sama yang lebih erat dan inklusif di antara anggota BRICS, serta meningkatkan koordinasi dengan negara-negara emerging market lainnya, seperti yang ada dalam kelompok MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia).
Menyangkut peristiwa pencegatan rombongan dubes ketika melakukan perjalanan dari Suriah ke Lebanon, Dubes Bagas mengatakan bahwa ketika itu mobil Dubes RI mirip mobil salah satu dubes negara Barat. Sebagaimana diketahui, negara tersebut sering mengecam kelompok bersenjata di Lebanon dan memberikan komentar pedas terhadap kelompok tersebut.
Baca juga : HT Minta Kader Kerja Keras Menangkan Perindo Di Pemilu
Ketika Dubes memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia, Dubes menyapa mereka dengan ramah. Dengan rasa persahabatan mereka menyambut dengan baik. Mengingat sudah mendekati Maghrib, Dubes mengajak para anggota organisasi untuk bersembahyang berjamaah. Setelah itu kembali ke Beirut dengan aman.
Selanjutnya dalam diskusi intimate session, pertanyaan mahasiswa ditujukan kepada Adib Zaidani, Counsellor, PTRI New York, tentang langkah-langkah yang perlu diambil ketika menghadapi konflik kepentingan dengan negara lain.
Selanjutnya juga pertanyaan terkait apa yang harus dilakukan seorang diplomat menghadapi cultural barrier, dan apa saja yang harus dilakukan.
Baca juga : Bamsoet Ajak Hipakad Perkuat Ideologi Pancasila di Kalangan Generasi Muda
Pertanyaan lainnya juga ditujukan kepada Andrea Stafanus, Sekretaris Pertama KBRI Den Haag. Yaitu apakah masih terdapat xenophobia terhadap Indonesia di Belanda. Apa yang harus dilakukan diplomat RI ketika menghadapi permasalahan dalam negosiasi perjanjian internasional.
Pada kesempatan itu, Fitria Yuda Nur Fatihah, Konsul Muda dari KJRI Chicago memberikan penjelasan tentang prioritas politik luar negeri saat ini. Diuraikan pula tentang bentuk-bentuk perjuangan diplomasi Indonesia sejak diplomasi kedaulatan, deklarasi Djuanda sampai saat ini yaitu diplomasi perlindungan dan diplomasi ekonomi. Diskusi menarik lainnya adalah apakah terdapat suatu jaminan dari pemerintah RI terhadap diplomat Indonesia yang menempati pos rawan dan berbahaya.
Di akhir diskusi Presiden FPCI Pandu Satya Rizal menyatakan kegembiraannya, animo mahasiswa Unibraw sangat antusias pada acara diskusi dengan para diplomat lintas generasi itu
Baca juga : Dipuji, Sinergi Pusat Dan Daerah Tuntaskan Beasiswa Otsus Papua
Sejak2021 FPCI meluncurkan diskusi tentang “the Role of Youth in Diplomacy”. Tahun 2022 tentang “Redefine of diplomacy in world conflicts”. Tahun ini tentang “Diplomat’s role in today’s lives”.
Dengan berjalannya waktu, ternyata banyak pihak yang menyambut pembahasan mengenai peranan dan dunia diplomat.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya