Dewan Pers

Dark/Light Mode

Generasi Sandwich Kota

Sabtu, 27 Nopember 2021 12:55 WIB
Tantan Hermansah, Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat
Tantan Hermansah, Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat

RM.id  Rakyat Merdeka - Setelah bonus demografi dikumandangkan, kemudian memunculkan istilah generasi Z dan A (alfa), kini muncul lagi istilah baru yang cukup menarik didiskusikan, terutama dalam konteks masyarakat kota. Istilah baru itu adalah “Generasi Sandwich”.

Berbeda dengan generasi Z dan A yang dibasiskan pada periodisasi kelahiran, Generasi Sandwich didasarkan pada perilaku sosial ekonomi yang melekat kepada mereka. Oleh karena itu, Generasi Sandwich ini sangat menarik dibaca dalam beberapa kerangka kota dan perilaku masyarakatnya.

Berita Terkait : Ginevra Lambruschi, Punya Sembilan Tato

Generasi Sandwich ini secara sosiologis merupakan kelompok masyarakat yang ada di atas proletar, tetapi juga dia berada di bawah kelas menengah. Sebagai kelompok sosiologis baru, Generasi Sandwich jelas menarik untuk dibaca, terutama dalam konteks bagaimana kelompok ini mendinamisasi entitas di atas dan di bawahnya, terutama dalam ruang yang bernama kota.

Siapakah Generasi Sandwich? Menurut penjelasan Dorothy Miller pada 1981, Generasi Sandwich ini mereka yang memiliki penghasilan cukup baik namun bermasalah dari sistem pengeluaran. Mereka bermasalah bukan karena tidak memiliki literasi keuangan yang baik, namun justru karena masalah sosial, yakni tanggungan.

Berita Terkait : Deforestasi Wanamarta

Generasi Sandwich, sebagaimana gambaran dari adopsi benda tersebut, adalah mereka yang memiliki penghasilan namun terhimpit oleh “kewajiban” untuk menanggung beban kebutuhan dari orang tua dan saudaranya. Sehingga generasi ini kadang akhirnya hanya bisa hidup biasa saja atau begitu-begitu saja.

Mereka yang seharusnya melakukan pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, dengan pola Generasi Sandwich jelas tidak bisa mencapai itu. Karena mereka harus selalu hidup dalam himpitan antara kewajiban memenuhi keinginan dirinya serta keinginan kebutuhan dari mereka yang di luar dirinya.
 Selanjutnya