Dark/Light Mode

Resesi Pascapandemi

Senin, 11 Oktober 2021 06:28 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemulihan ekonomi pascapandemi masih panjang dan penuh dengan ketidakpastian. Selain tekanan inflasi global. Ancaman krisis perubahan iklim menjadi agenda penting di tengah kita berjibaku melawan pandemi. Konferensi Para Pihak atau COP yang rencananya akan berlangsung di Glasgow Skotlandia awal November mendatang membahas dampak pandemi dan penurunan emisi karbon masing-masing negara peserta. Posisi Indonesia sebagai Co-Chair COP 26 harus proaktif dalam menyuarakan langkah-langkah nyata menurunkan emisi karbon.

Berita Terkait : Berdirinya Padepokan Sokalimo

“Pandemi silih berganti, Mo. Covid belum sirna, datang global warming,” celetuk Petruk, sok tahu. Romo Semar memilih diam dan menarik napas dalam-dalam untuk membuang beban pikirannya. Bencana kemanusian dan lingkungan mulai menyerang negeri ini. Mulai pemulihan ekonomi, meningkatnya angka pengangguran, dan tekanan inflasi. Para elite politik kurang peka dalam mengantisipasi krisis yang akan datang. Mereka asyik mengutak-atik jadwal Pemilu 2024 untuk kepentingan partainya. Kopi pahit dan ubi rebus selalu setia menemani sarapan pagi Romo Semar. Kepulan asap rokok klobot jagung membawanya ke zaman Ramayana saat kerajaan Pancawati mengalami krisis multidimensi.

Berita Terkait : Patung dan James Bond

Kocap kacarito, Kerajaan Pancawati mengalami pagebluk dan krisis kepercayaan dari rakyatnya sendiri. Prabu Rama terlena pasca memenangkan pertempuran dalam merebut istrinya Dewi Shinta dari Rahwana. Perang brubuh melawan kerajaan Alengka bukan merubah Prabu Rama menjadi lebih baik tapi sebaliknya. Rama menjadi jumawa dan sombong. Perubahan perilaku Rama inilah memicu berbagai masalah dan pagebluk di Pancawati.

Berita Terkait : Kearifan Sumbadra Larung

Kawula Pancawati yang sebagian besar berwujud wanara atau kera mengalami sakit menular yang hebat. Banyak korban berjatuhan. Ibaratnya pagi sakit, sore meninggal. Sore sakit, pagi harinya pralaya. Berbagai nujum dan ahli kesehatan sudah dikerahkan untuk menyembuhkan penyakit Pancawati. Akan tetapi tidak membuahkan hasil. Nerpati Sugriwa yang didapuk sebagai wakil Prabu Rama tidak bisa berbuat banyak melihat rakyat Pancawati menderita penyakit menular.
 Selanjutnya