Dewan Pers

Dark/Light Mode

Program Kampus Merdeka Dorong Riset Dan Inovasi Pengurangan Risiko

Kamis, 9 Desember 2021 15:20 WIB
wWebinar `Peranan Universitas dalam Mendorong Inovasi dan Mengurangi Risiko Kesehatan dan Lingkungan,` secara daring di Jakarta, pada Rabu (08/12). (IST)
wWebinar `Peranan Universitas dalam Mendorong Inovasi dan Mengurangi Risiko Kesehatan dan Lingkungan,` secara daring di Jakarta, pada Rabu (08/12). (IST)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah meluncurkan program Kampus Merdeka sejak tahun 2020.

Program ini digagas untuk mendorong perguruan tinggi melakukan riset dan inovasi demi mencapai perubahan yang transformatif di berbagai bidang, termasuk bidang kesehatan dan lingkungan.

Sehubungan dengan program tersebut, Center for Healthcare Policy and Reform Studies (CHAPTERS) mengadakan acara webinar yang mengusung tema “Peranan Universitas dalam Mendorong Inovasi dan Mengurangi Risiko Kesehatan dan Lingkungan” yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, pada Rabu (08/12).

Dalam webinar ini para narasumber yang terdiri dari peneliti dan pakar secara rinci membahas mengenai riset dan inovasi di bidang kesehatan dan lingkungan, utamanya terkait konsep pengurangan risiko (harm reduction).

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Makarim, mengatakan situasi pandemi menunjukkan secara lebih jelas hal-hal yang menjadi prioritas.

Berita Terkait : KPK Terima Anugerah Meritokrasi, Kategori Sangat Baik

Diantaranya, kebutuhan untuk menghadirkan inovasi yang transformatif dalam dunia riset kesehatan dan lingkungan dengan perspektif pengurangan risiko.

Dalam pidatonya Menteri Kemendikbudristek menjelaskan bahwa inovasi yang diciptakan seyogyanya tidak hanya terbatas pada unsur kebaruan, namun juga mampu menggerakkan perubahan demi memitigasi risiko di masa depan.

“Sebagai contoh misalnya ada inovasi yang berfokus pada efektivitas daur ulang sampah, pengurangan bahaya tembakau, dan berbagai upaya baru untuk mengedepankan sanitasi dan kesehatan masyarakat,” tambahnya.

Founder & Chairman Chapters Indonesia, Luthfi Mardiansyah, menyatakan program Kampus Merdeka mendorong para perguruan tinggi dan peserta didik melakukan kegiatan belajar di luar spektrum pembelajaran di ruang kelas termasuk riset.

Dukungan aktif dari perguruan tinggi kepada peserta didik untuk melakukan riset diharapkan mampu mengeliminasi sekat-sekat yang sebelumnya menghalangi mereka melakukan penelitian terhadap isu-isu yang diminatinya.

Berita Terkait : Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Seperti Fathul Makkah

Luthfi mengapresiasi Kampus Merdeka yang diinisiasi Menteri Nadiem Makarim beserta jajarannya.

Menurutnya, program unggulan ini akan semakin mendorong para perguruan tinggi dan peserta didik di Indonesia, semakin berani melakukan kajian di berbagai isu.

"Dukungan positif dari Pemerintah ini harus dimaksimalkan agar semakin meningkatkan kualitas perguruan tinggi dan peserta didik Tanah Air,” ucap Lutfhi dalam keterangan resminya.

Mantan Direktur Kebijakan Penelitian dan Kerja Sama Badan Kesehatan Dunia (WHO), Profesor Tikki Pangestu, mengungkapkan konsep pengurangan risiko merupakan salah satu topik yang masih minim diteliti oleh perguruan tinggi di Indonesia.

Padahal, konsep ini menawarkan strategi promosi kesehatan untuk mengurangi konsekuensi berbahaya dari perilaku berisiko.

Berita Terkait : Ganjar Harap Pramuka Bisa Dorong Inovasi Dan Bangkitkan Ekonomi

Dengan manfaat besar yang diberikan oleh konsep ini, perguruan tinggi dan peserta didik harus mulai tergerak untuk melakukan penelitian lebih lanjut demi terciptanya perbaikan kualitas publik.

“Konsep pengurangan risiko seringkali dikaitkan dengan isu-isu sensitif seperti pengurangan bahaya tembakau sehingga masih sedikit yang meneliti. Apabila dilihat lebih jauh, konsep pengurangan risiko tembakau memiliki manfaat yang besar untuk perbaikan kesehatan publik. Kehadiran program Kampus Merdeka diharapkan menghapus batasan yang selama ini menghambat perguruan tinggi untuk meneliti isu-isu sensitif demi menghadirkan solusi bagi permasalahan kesehatan dan lingkungan,” kata Tikki.

Kepala Laboratorium Pengujian Kaliberasi dan Sertifikasi serta Dosen Kimia IPB, Dr. Mohammmad Khotib, mengatakan kampusnya telah menjalankan program Kampus Merdeka dengan melakukan penelitian inovatif terhadap produk tembakau yang dipanaskan.

Penelitian terhadap produk tembakau alternatif ini untuk membuktikan kebenaran produk tersebut yang telah menerapkan konsep pengurangan risiko.

“Kami yakin program Kampus Merdeka mendorong peneliti, termasuk peserta didik di kampus untuk menghasilkan kajian serta inovasi di beragam bidang, salah satunya konsep pengurangan risiko tembakau melalui produk tembakau yang dipanaskan. Kami meneliti produk tembakau yang dipanaskan karena minimnya riset terhadap produk ini di dalam negeri,” kata Khotib.
 Selanjutnya