Dewan Pers

Dark/Light Mode

Damaikan Rusia-Ukraina, Jokowi Disarankan Pelajari 3 Hal Ini

Kamis, 23 Juni 2022 20:27 WIB
Presiden Jokowi di antara Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Foto: Istimewa)
Presiden Jokowi di antara Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi tak berpangku tangan melihat perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung lima bulan. Jokowi akan segera menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini ingin mendamaikan kedua pihak agar perang segera berakhir.

Langkah Jokowi ini disambut baik pengamat militer dan keamanan Susaningtyas Kertopati. “Kita tentu menyambut baik niat Presiden Joko Widodo untuk menjadi juru damai di tengah perang Ukraina versus Rusia. Ini sesuai dengan UUD 1945,” ujar Nuning, sapaan akrab Susaningtyas, Kamis (23/6).

Dia lalu menceritakan soal politik luar negeri Indonesia. “Agar memiliki prinsip dan pegangan yang kuat, maka 2 September 1949, Wakil Presiden RI kala itu, Mohammad Hatta mengeluarkan pernyataan tentang politik luar negeri RI, yakni politik luar negeri bebas aktif,” terang.

Mantan anggota Komisi I DPR ini menerangkan, konsep politik luar negeri bebas dan aktif memiliki pengertian bebas dalam arti bangsa Indonesia tidak memihak pada kekuatan-kekuatan yang bertentangan dengan kepribadian bangsa (Pancasila). Sedangkan aktif dalam menjalankan kebijaksanaan luar negeri berarti tidak bersikap pasif atas kejadian internasional.

Berita Terkait : Duo Pemain Timnas Rep Ceko Tidak Diturunkan Di Piala Presiden

Sejalan dengan konsep politik luar negeri bebas aktif dan dalam rangka mewujudkan tujuan nasional seperti tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, bangsa Indonesia mengambil peran dalam perdamaian dunia.

“Memang tidak mudah mendamaikan perang berlarut yang tengah terjadi, ketika pihak Ukraina maupun Rusia tak hanya melakukan perang militer dengan persenjataan mutakhir tapi juga perang kognitif, yang masing-masing pihak ingin memengaruhi dunia agar berpihak pada negaranya,” papar peraih gelar doktor bidang intelijen ini.

Nuning menegaskan, keputusan untuk mendamaikan kedua negara itu sangat baik. Sebab, berbagai dampak domino telah terjadi membuat situasi dunia mengalami masalah, utamanya bidang ekonomi dan krisis pangan.

“Menteri Keuangan Sri Mulyani pun sudah memberi warning bahwa paling ketar-ketir menghadapi krisis pangan akibat perang Rusia-Ukraina. Krisis pangan yang sudah ada di depan mata, akan semakin membebani APBN. Padahal, selama 2 tahun ini saja, APBN sudah babak belur dihajar pandemi Corona,” terangnya.

Berita Terkait : Sri Mulyani Ketar-ketir

Bila perang Ukraina-Rusia dibiarkan berlarut, lanjut Nuning, dikhawatirkan krisis pangan dan energi akan membuat angka kemiskinan makin bertambah.

Nuning lalu menyarankan hal-hal yang perlu dipelajari Jokowi dalam persiapan mendamaikan Rusia-Ukraina. Pertama, mempelajari perang yang terjadi di Balkan saat ini masuk dalam kategori perang asimetris dari perspektif ilmu pertahanan. Rusia adalah kekuatan yang superior dan Ukraina adalah kekuatan yang inferior. NATO berusaha menancapkan kekuasaannya di Ukraina yang secara geografis berbatasan langsung dengan Rusia.

Kedua, perbandingan kekuatan militer dan anggaran perang jelas Rusia unggul. Di atas kertas Rusia pasti ingin melaksanakan perang dalam waktu secepat-cepatnya sementara Ukraina pasti melancarkan perang berlarut. Antara lain utk kepentingan NATO intelligence surveillance dan intelligence device Rusia lebih unggul.

Ketiga, fakta 40 persen gas Eropa asal Rusia, 35 persen palladium AS (bahan baku semikonduktor) asal Rusi, 67 neon AS (bahan baku semikonduktor) juga asal Ukraina. “Jadi efek dominonya yg paling penting adalah harga pangan impor naik diikuti kenaikan barang-barang lokal plus biaya logistik melonjak plus harga BBM menanti subsidi yang lebih besar,” terangnya.

Berita Terkait : Jokowi: Posisi Kita Saat Ini Sangat Baik

Dengan mempelajari hal itu, lanjutnya, Indonesia pun dapat merumuskan konsep perdamaian yang akan diwujudkan. “Kita jangan sampai meleset dalam memprediksi siapa yang memenangkan perang tersebut. Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan superior seperti Rusia ternyata kalah di Afghanistan. Amerika Serikat juga kalah di Vietnam dan Afghanistan,” terang Nuning.

Dengan demikian, tambah Nuning, ada beberapa skenario yang dapat ditempuh dunia internasional untuk mengakhiri perang. Pertama, gencatan senjata dan turun tangannya PBB. Kedua, NATO mengerahkan kekuatan penuh mengalahkan Rusia dan memukul Rusia di wilayahnya sendiri. Ketiga, Ukraina menang perang berlarut.

Yang patut diwaspadai pemerintah adalah dampak perang bagi perekonomian Indonesia. Sejumlah langkah strategis harus disiapkan secara matang mengantisipasi kemungkinan terburuk bagi kondisi sosial-politik di Indonesia. “Jadi, efek dominonya yang paling penting adalah harga pangan impor naik diikuti kenaikan barang lokal, biaya logistik melonjak, harga BBM menanti subsidi yang lebih besar, lonjakan harga minyak tak dapat dihindari,” imbuhnya.

Nuning juga berpesan, keselamatan Presiden Jokowi selama kunjungan ke Rusia dan Ukraina harus dijaga dengan baik. “Karena bisa saja ada pihak yang tak suka dengan upaya perdamaian ini,” tutupnya.■