Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Sebelum berangkat, menurut saya, Presiden Jokowi perlu berkoordinasi dengan Sekjen PBB Antonio Guterres dan juga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Karena mereka adalah dua pihak yang selama ini sangat aktif mencoba menjembatani atau mencari solusi dari konflik Rusia dan Ukraina.
Koordinasi ini penting, agar sebelum berangkat, Presiden sudah ada pandangan mana hal-hal yang sudah dirintis Sekjen PBB atau Presiden Turki. Mana hal-hal yang masih buntu dan mana hal-hal yang bisa digarap dan menjadi celah atau peluang bagi Indonesia untuk membantu proses perdamaian ini.
Saya juga menganjurkan kepada pembantu Presiden, terutama Kementerian Luar Negeri, agar dapat memberikan talking point yang lebih tajam kepada Presiden. Selama ini, butir wicara yang diangkat ke Presiden cenderung sangat abstrak, sangat umum, dan sangat—kadang-kadang—filosofis gitu. Misalnya, perang itu menyengsarakan atau kedaulatan itu perlu dihormati.
Baca juga : Mau Damaikan Rusia-Ukraina, Jokowi: Ini Untuk Cegah Dunia Kelaparan
Sebagai juru damai nanti, bahasa yang digunakan perlu bahasa yang praktis dan bahasa lapangan yang mencerminkan situasi di medan perang yang sangat kompleks. Kita tahu di dalam negeri, Presiden Jokowi kalau bicara dengan rakyat Indonesia selalu bicara praktis, lugas, jelas dan blak-blakan. Dalam konteks Ukraina ini, Presiden Jokowi juga di luar negeri juga perlu bicara seperti itu.
Nanti, setelah kembali dari Rusia dan Ukraina, Presiden Jokowi perlu melakukan briefing kembali ke Sekjen PBB dan Presiden Turki. Juga perlu memberikan briefing melalui Zoom kepada Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Juga perlu memberikan briefing kepada Dewan Uni Eropa Ursula von der Leyen. Paling tidak, tokoh-tokoh dunia ini mempunyai andil atau peranan yang penting bagi dinamika konflik Rusia-Ukraina.
Presiden Jokowi juga perlu menulis surat kepada seluruh Pimpinan ASEAN untuk memberikan update atau penjelasan kepada mereka mengenai hasil kunjungan ke Rusia dan Ukraina. Saya yakin, hal ini pasti akan diapresiasi oleh para Pemimpin ASEAN.
Baca juga : Jokowi Menuai Pujian
Akhirnya, Indonesia perlu untuk memastikan atau memikirkan apakah misi perdamaian yang sekarang sedang dirintis Presiden Jokowi ini merupakan suatu hal yang sekali saja terjadi atau suatu hal yang berkelanjutan. Jadi, ada follow-up atau hal-hal yang akan terus dilakukan ke depan.
Semua konflik kalau mau diakhiri, memerlukan suatu penanganan yang fokus, serius dengan komitmen yang total. Tidak terkecuali konflik Rusia-Ukraina.
Jika Indonesia serius ingin merintis sebagai juru damai dalam konflik Rusia-Ukraina, menurut saya, Presiden Jokowi perlu menunjuk seorang sutradara atau seorang special envoy yang bisa secara khusus dan fokus mengurus peran Indonesia dalam konflik Rusia-Ukraina setelah kunjungan Presiden ini. Karena kalau tidak, bisa terbengkalai masalahnya dan tidak terurus. Dan itu akan sayang sekali. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya