Dewan Pers

Dark/Light Mode

Mau Damaikan Rusia-Ukraina

Jokowi Menuai Pujian

Jumat, 24 Juni 2022 07:50 WIB
Pengamat militer dan keamanan Susaningtyas Kertopati. (Foto: Istimewa)
Pengamat militer dan keamanan Susaningtyas Kertopati. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi tak berpangku tangan melihat perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung lima bulan. Jokowi akan segera menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini ingin mendamaikan kedua pihak agar perang segera berakhir.

Langkah Jokowi ini disambut baik pengamat militer dan keamanan Susaningtyas Kertopati.

Berita Terkait : Kasih Pendidikan Politik Buat Masyarakat, Relawan Jokowi Gelar Diskusi Publik Secara Simultan

“Kita tentu menyambut baik niat Presiden Joko Widodo untuk menjadi juru damai di tengah perang Ukraina versus Rusia. Ini sesuai dengan UUD 1945,” ujar Nuning-sapaan akrab Susaningtyas.

Nuning menegaskan, keputusan untuk mendamaikan kedua negara itu sangat baik. Sebab, berbagai dampak domino telah terjadi membuat situasi dunia mengalami masalah, utamanya bidang ekonomi dan krisis pangan. Bila perang Ukraina-Rusia dibiarkan berlarut, dikhawatirkan krisis pangan dan energi akan membuat angka kemiskinan makin bertambah.

Berita Terkait : Damaikan Rusia-Ukraina, Jokowi Disarankan Pelajari 3 Hal Ini

Nuning lalu menyarankan hal-hal yang perlu dipelajari Jokowi dalam mempersiapkan menda­maikan Rusia-Ukraina. Pertama, mempelajari perang yang terjadi di Balkan saat ini masuk dalam kategori perang asimetris dari perspektif ilmu pertahanan.

Rusia adalah kekuatan yang superior dan Ukraina adalah kekuatan yang inferior. NATO berusaha menancapkan kekuasaannya di Ukraina yang secara geografis berbatasan langsung dengan Rusia.

Berita Terkait : Dubes EU Puji Niat Jokowi Mau Ketemu Zelensky-Putin

Kedua, perbandingan kekuatan militer dan anggaran perang jelas Rusia unggul. Di atas kertas Rusia pasti ingin melaksanakan perang dalam waktu secepat-cepatnya sementara Ukraina pasti melancarkan perang berlarut. Antara lain untuk kepentingan NATO intelligence surveillance dan intelligence device Rusia lebih unggul.

Ketiga, fakta 40 persen gas Eropa asal Rusia, 35 persen palladium AS (bahan baku semikonduktor) asal Rusia, 67 neon AS (bahan baku semikonduktor) juga asal Ukraina.
 Selanjutnya