Dewan Pers

Dark/Light Mode

Prof Didik Puji Misi Perdamaian Jokowi

Kamis, 30 Juni 2022 18:42 WIB
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini. (Foto: Ist)
Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perang di jaman super modern seperti sekarang ini sangat tidak populer dan sangat membahayakan seluruh umat manusia di bumi.

Begitu kata Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J Rachbini menanggapi misi perdamaian Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia, Kamis (30/6).

Menurut Didik, perang merupakan sebuah kebodohan kolektif. Kenapa? karena jika seluruh persenjataan super modern dikeluarkan atas dasar emosi marah para pemimpinnya, maka bukan hanya negara yang berperang tetapi seluruh isi bumi terancam dan bahkan hancur.

Berita Terkait : Sekali Berperan Dalam Misi Perdamaian Dunia, Jokowi Langsung Mainkan Peran Strategis

“Bom nuklir lebih setengah abad yang lalu, pada tahun 1945 sudah mampu membumihanguskan dua kota Jepang. Apalagi teknologi persenjataan modern sekarang, pasti lebih dahsyat daya hancurnya dibandingkan tujuh dekade yang lalu,” ujarnya.

Karena itu, pemimpin negara besar harus berpikir lebih jauh akibat dari perang seperti sekarang ini. Sebaliknya, harus ada lebih banyak hadir pemimpin yang menjalankan misi perdamaian dibandingkan dengan unjuk kegagahan dan kepongahan untuk mengobarkan perang seperti masa perang dunia kesatu dan kedua.

“Dari sisi pandangan seperti ini, maka misi perdamaian Jokowi ke Ukraina dan Rusia merupakan secercah harapan dan langkah awal agar bumi lebih damai dan jauh dari perang. Upaya perdamaian ini patut diacungi jempol dan tidak boleh berhenti melainkan nanti dilanjutkan oleh menteri di bawahnya,” ujar Didik.

Berita Terkait : Atasi Krisis Pangan & Energi, Gerindra Apresiasi Misi Perdamaian Jokowi

Sekarang saatnya yang tepat Jokowi memerankan politik bebas aktif, seperti diamanatkan oleh UUD 1945.  Citra dan kesan bahwa Jokowi “inward looking” mulai pupus karena sering tidak pernah hadir dalam pertemuan-pertemuan internasional. Namun sekali berperan dalam misi perdamaian ini, maka Jokowi sudah memainkan peran yang strategis bagi dunia.

“Peranan ini juga sangat penting bagi Indonesia karena ini merupakan amanat UUD 1945,” katanya.

Menurut Didik, ini adalah permulaan yang sangat baik. Cukup mengejutkan Jokowi mengambil keputusan ini dengan resiko bahaya yang tidak kecil. Apalagi bersama Ibu Negara.

Berita Terkait : Dwi Soetjipto: Ada Potensi Temuan Migas Di Perairan Aceh

Setelah bertemu Presiden Putin, misi perdamaian ini perlu dilanjutkan dalam kunjungan ke negara-negara besar di dalam G-20 sendiri, utamanya China, yang sekarang tetap menahan diri. Jokowi juga perlu hadir berpidato di forum PBB untuk menyuarakan perdamaian dunia. Para menterinya perlu mempersiapkan panggung jika momentum kunjungan ini mendapat sambutan yang baik dari kedua belah pihak.
 Selanjutnya