Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Berbagai kebijakan sudah dibuat pemerintah untuk meringankan beban rakyat dari serangan pandemi Covid-19. Namun, hasilnya belum cukup ampuh menekan angka kemiskininan. Meskipun ada penurunan, tapi masih ada 26,1 juta warga yang saat ini hidup dalam kemiskinan. Tolong.. tolong.
Data ini mengacu pada hasil survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada Maret 2022. Menurut BPS, sebanyak 26,1 juta atau 9,54 persen penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Mereka yang dianggap miskin adalah warga yang berpenghasilan di bawah Rp 505.469,00 per kapita.
Jumlah ini turun jika dibanding survei September 2021. Saat itu, jumlah orang miskin mencapai 26,5 juta atau 9,71 persen.
Baca juga : KBRI Bern Pastikan Status Eril Masih Missing Person
Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan, menurunnya angka kemiskinan seiring dengan pemulihan ekonomi yang terjadi pada kartal I-2022. "Saat ekonomi membaik, kemiskinan berkurang," kata Margo, kemarin.
Meski menurun, kata dia, tingkat kemiskinan masih belum kembali ke level sebelum pandemi Covid-19. Pada Maret 2019, tingkat kemiskinan berada di 9,41 persen, lalu terus membaik pada September 2019 menjadi 9,22 persen.
Namun, tingkat kemiskinan kemudian meningkat pada Maret 2020 menjadi 9,78 persen dan melonjak lagi di bulan September 2020 menjadi 10,19 persen atau 27,55 juta penduduk. Ini adalah titik tertinggi kemiskinan. Penyebabnya adalah pandemi Covid-19.
Baca juga : Puan Masih Harus Gaspoll
Menurutnya, saat ini memang sudah ada perbaikan di bidang ekonomi yang membuat angka kemiskinan menurun sedikit. Tapi, perbaikan yang ada masih belum kembali pulih bila dibandingkan sebelum pandemi.
Jumlah penduduk miskin, kata Margo, lebih banyak yang tinggal di pedesaan dibanding dengan di perkotaan. Dari 26,16 juta orang miskin, sebanyak 14,34 juta orang ada di pedesaan. Sisanya, 11,82 juta adalah warga miskin yang tinggal di perkotaan. Namun, Margo melihat penurunan tingkat kemiskinan di perdesaan lebih cepat dibandingkan perkotaan.
Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios) Bhima Yudhistira menyebutkan, dalam kondisi gejolak ekonomi dunia saat ini pemerintah harus ekstra hati-hati dalam membuat kebijakan. Kata dia, saat ini dunia dalam bayangan stagflasi. Artinya, pertumbuhan ekonomi menurun sementara inflasi tinggi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya