Dark/Light Mode

26 Juta Warga Masih Miskin, Tolong, Tolong!

Sabtu, 16 Juli 2022 07:30 WIB
Suasana deretan rumah semi permanen di Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (4/7/2022). Badan Pusat Statistik akan mendata jumlah penduduk miskin ekstrem sebagai acuan dalam program percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem yang ditargetkan dapat tercapai pada tahun 2024. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/wsj).
Suasana deretan rumah semi permanen di Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (4/7/2022). Badan Pusat Statistik akan mendata jumlah penduduk miskin ekstrem sebagai acuan dalam program percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem yang ditargetkan dapat tercapai pada tahun 2024. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/wsj).

 Sebelumnya 
Sejumlah negara sudah mengalaminya. Stagflasi ini biasanya diikuti dengan resesi yang ujungnya berdampak kepada peningkatan biaya hidup. Selain harga komoditas yang meningkat, masyarakat juga akan dihadapi oleh suku bunga pinjaman yang tinggi.

"Bagi pekerja tentu tentu imbasnya biaya hidup semakin mahal, sementara upah hanya naik rata-rata 1 persen, mau cicilan motor dan rumah juga semakin mahal karena suku bunga otomatis naik," tuturnya.

Baca juga : KBRI Bern Pastikan Status Eril Masih Missing Person

Dalam jangka panjang, Bhima mengatakan pekerja rentan bisa jatuh ke bawah garis kemiskinan meskipun tetap aktif bekerja. "Banyak tekanan yang disebut sebagai cost of living crisis atau krisis biaya hidup," kata Bhima.

Di dunia maya, data BPS soal angka kemiskinan ini jadi perdebatan warganet. Ada yang senang karena menurun, tapi ada juga yang kurang yakin. Mantan Sekretaris BUMN, Said Didu menilai, angka garis kemiskinan yang digunakan BPS sebesar Rp 505 ribu per bulan per kapita kurang rasional. "Rasionalkah angka itu dengan harga-harga yang makin tinggi seperti sekarang?," cuit @msaid_didu.

Baca juga : Puan Masih Harus Gaspoll

Senada disampaikan @arpas2000. Kata dia, BPS memakai indikator garis kemiskinan 500 ribu rupiah/kapita per bulan saja, penduduk miskin 26 juta orang. Apalagi memakai indikator world bank 5,5 dolar AS per hari per kapita. "Penduduk miskin bisa lebih dari 200 juta orang," ungkapnya.

Akun @BMisuh berpendapat, turunnya angka kemiskinan saat ini tak lain dari banyaknya warga yang meninggal karena Covid-19. “Yang kaya tetap kaya, yang miskin meninggal terhimpit ekonomi dan pandemi,” cuitnya. “Penurunan penduduk miskin apa persentase penilaian nya yang diturunkan? Ambigu,” timpal @meghanaiwawai. “Cara menurunkan kemiskinan? Gampang, kita ubah saja definisi kemiskinan,” sindir @getter_slow. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.