Dewan Pers

Dark/Light Mode

Lawan Anies-AHY, Prabowo-Puan

Ganjar-Erick Unggul 10%

Jumat, 23 September 2022 07:30 WIB
Ganjar Pranowo dan Erick Thohir. (Foto: Ist)
Ganjar Pranowo dan Erick Thohir. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Bila Pilpres digelar saat ini, dan hanya diikuti 3 paslon: 1. Ganjar Pranowo-Erick Thohir. 2. Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan 3. Prabowo Subianto-Puan Maharani,  maka pasangan no.1 (Ganjar-Erick) yang unggul. Selisihnya 10 persenan dengan paslon no.2 dan selisih 20 persenan dengan paslon no.3.

Itu hasil survei ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan metodologinya. Bukan hasil rekaan, apalagi karangan yang super ngaco.

Hasil survei itu dirilis oleh Charta Politika miliknya Yunarto Wijaya. Toto, begitu dia disapa, merilis surveinya itu, kemarin.

Survei ini digelar secara tatap muka pada 6 - 13 September 2022. Survei ini menggali beberapa topik dari responden yang berjumlah 1.220 orang. Mulai dari dampak kenaikan BBM, kepuasan publik terhadap lembaga negara, hingga urusan Pemilu 2024. Tentu saja, topik Pemilu 2024 jadi salah satu yang menarik dalam survei dengan "Margin of erorr" sebesar 2,82 persen ini.

Apa hasilnya? Untuk kategori capres, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo masih menempati posisi teratas, meninggalkan 2 pesaing terberatnya, Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Dalam simulasi 10 nama capres, Ganjar mendapat 31,3 persen, disusul Prabowo 24,4 persen dan Anies 20,6 persen.

Tak hanya elektabilitas pribadi, Ganjar masih meraih poin tertinggi dalam simulasi 3 paslon maupun 4 paslon. Ganjar selalu unggul dipasangkan dengan calon mana pun.

"Ganjar menjadi pilihan tertinggi publik sebagai calon presiden," kata Toto.

Berita Terkait : Jalan Anies-AHY Nanjak & Berliku

Dalam simulasi 4 pasangan misalnya. Ganjar yang dipasangkan dengan Sandiaga Uno meraup 34,7 persen. Unggul 10 persen dibandingkan Prabowo-Muhaimin Iskandar di urutan kedua yang membukukan 24,8 persen. Sementara Anies-AHY di posisi ketiga (22,8 persen) dan Puan Maharani-Andika Perkasa di urutan keempat (4,1 persen). Sisanya 13,6 persen tidak menjawab atau tidak tahu.

Utak-atik simulasi 4 pasangan lainnya juga tetap dimenangkan oleh Ganjar. Saat kader Banteng ini dipasangkan dengan Ridwan Kamil misalnya, ia memperoleh dukungan 34,4 persen.

Pesaingnya, Prabowo-Erick (25,7 persen), Anies-Khofifah (20,8 persen) dan Puan-Andika (3,9 persen). Responden yang tidak menjawab di simulasi ini mencapai 15,2 persen.

Ganjar kembali bersinar di simulasi 3 pasangan. Baik saat dipasangkan dengan Airlangga Hartarto (33,1 persen) maupun ketika diduetkan dengan Erick (35,8 persen).

Dari semua simulasi paslon, duet Ganjar-Erick meraup dukungan terbesar. Bahkan, Ganjar-Erick unggul cukup jauh, hingga 11,6 persen dibandingkan Anies-AHY. Paslon yang kerap digadang-gadang itu, membukukan 24,2 persen suara di urutan kedua. Sementara di urutan ketiga, diisi Prabowo-Puan dengan 21,8 persen suara. Ada 18,2 persen responden yang tidak menjawab di simulasi 3 paslon ini.

Toto menjelaskan, tingginya elektabilitas Ganjar tak terlepas dari banyaknya dukungan masyarakat di empat zona wilayah berbeda. Yaitu, di Jateng dan DIY sebanyak 67 persen, kemudian di Jawa Timur 25,8 persen, di Bali, NTB, dan NTT 53,3 persen, di Maluku serta Papua 30 persen.

Apa tanggapan PDIP membaca survei ini? Politisi senior PDIP, Hendrawan Supratikno santai menanggapinya. Sosok yang disebut-sebut masuk dalam Dewan Kolonel loyalis Puan ini bilang, survei-survei yang ada masih bergerak dinamis.

Berita Terkait : Ganjar Sabarnya Besar

"Kita tak boleh terpaku dengan sebuah rilis. Jangan kita tersesat di belantara survei yang riuh rendah. Seperti kata-kata bijaksana Caspar Craven; set your course by the stars, not the light of every passing ship. Lihat bintang di langit, jangan kerlap-kelip lampu kapal yang keluar masuk pelabuhan," kata Hendrawan, ketika dikonfirmasi tadi malam.

Peneliti ahli utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Siti Zuhro memberikan kritik tajam terhadap survei capres. Ia mengaku tak mau menari dengan iringan gendang yang dikonsepkan lembaga survei belakangan ini. "Sebagai peneliti, tentu saya tidak bisa menelan begitu saja. Karena survei itu bergantung pada apa yang kita tanyakan, jawaban sudah kita siapkan. Yang mengisi (responden) bisa tergiring juga itu," kata Prof Siti, dalam perbincangan, tadi malam.

Survei semacam itu, kata dia, akurasinya dirasa masih kurang mantap. Selain juga, masih terlalu dini menyimpulkan pasangan-pasangan calon. Sebab Pilpres masih setahun lebih lagi.

"Saya kan puluhan tahun peneliti, kalau peneliti yang baik melepaskan saja, tidak mau mengintervensi responden kita," terangnya.

Ia berharap, ada kebaruan yang diberikan oleh lembaga survei yang lebih substantif dan mengedukasi, bukan sekedar menyodorkan nama dan elektabilitas belaka, tapi juga track-record dan kompetensinya.

"Berkaitan dengan simulasi itu dilepas aja untuk memberikan pembelajaran ke masyarakat bahwa kita banyak opsi, terus-menerus pasti Ganjar nomor satu tidak juga. Kan dinamis. Prabowo juga, di survei menang, terus pemilu juga kalah," jelas sosok yang karib disapa Wiwik ini.

Menurut Wiwik, survei preferensi yang disodorkan lembaga survei belakangan ini, masih jauh panggang dari api. Karena kecenderungan masyarakat itu biasanya baru bisa disimpulkan sekitar 2 bulan jelang pendaftaran capres-cawapres.

Berita Terkait : Rakyat Pilih Ganjar-Anies Lho!

"Itu meleset semua, pak Ma'ruf tidak pernah disurvei dapat juga," nilainya.

Sementara itu, Ketua Relawan Ganjar Pranowo Mania, Immanuel Ebenezer menilai dukungan rakyat terhadap jagoannya itu, memang sudah tak terbendung.

"Siapapun yang berdampingan dengan Ganjar, kemungkinan besarnya menang," kata Noel, begitu dia akrab disapa.

Meskipun Ganjar bisa menang dipasangkan dengan siapa saja, Noel berharap pendamping Ganjar adalah sosok yang bisa menyatukan polarisasi akibat Pilpres 2019 lalu.