Dark/Light Mode

Hasil Rekapitulasi KPU
Pemilu Presiden 2024
Anies & Muhaimin
24,9%
40.971.906 suara
24,9%
40.971.906 suara
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58,6%
96.214.691 suara
58,6%
96.214.691 suara
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16,5%
27.040.878 suara
16,5%
27.040.878 suara
Ganjar & Mahfud
Sumber: KPU

Survei Capres Di Kalangan Santri, Abangan Dan Priyayi

Ganjar Menang Telak

Sabtu, 15 April 2023 08:00 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (tengah) menyapa peserta saat menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) Muhammadiyah dan Aisyiyah Jawa Tengah di GOR Wisanggeni, Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (4/3/2023). (Foto: Antara).
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (tengah) menyapa peserta saat menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) Muhammadiyah dan Aisyiyah Jawa Tengah di GOR Wisanggeni, Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (4/3/2023). (Foto: Antara).

RM.id  Rakyat Merdeka - Survei capres kembali dilansir lembaga kredibel. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyebut, mayoritas masyarakat beretnis Jawa lebih memilih Ganjar Pranowo dibanding capres lain. Dalam survei SMRC terbaru, Ganjar menang telak di kalangan santri, abangan, dan priyayi, mengalahkan Prabowo Subianto dan Anies Baswedan.

Hasil studi ini disampaikan dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Santri, Abangan, dan Pilpres 2024” yang di­siarkan melalui kanal Youtube SMRC TV, Kamis (13/4) lalu.

Saiful menjelaskan, studi ini berdasarkan survei SMRC pada Maret 2023 dengan wawancara tatap muka. Respondennya berfokus pada warga beragama Islam dan bersuku bangsa Jawa. Dalam survei tersebut, muslim yang bersuku Jawa sebesar 45,3 persen dengan total sampel muslim Jawa sebanyak 230 orang. Responden dipilih dengan teknik multistage random sampling. Adapun margin of error kurang lebih sebesar 4,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.­

Hasilnya, ada 52,4 persen yang mengaku santri, 22,3 persen abangan, dan 1,4 persen priyayi. Ada 23,9 persen yang tidak menjawab. Saiful menjelaskan bahwa warga Indonesia yang beretnis Jawa sekitar 40 persen dari total populasi dan mayoritasnya adalah Muslim.

Baca juga : Survei JJI: Elektabilitas Golkar Dan Airlangga Merangsek Naik

Lalu, apa hasilnya? Dari 52 persen santri muslim Jawa, sebanyak 60 persen memilih Ganjar. Sementara itu, sebanyak 20 persen memilih Prabowo dan 15 persen memilih Anies.

Di kelompok abangan pun Ganjar menang telak. Sebanyak 58 persen me­milih Ganjar, Prabowo 11 persen, dan Anies 14 persen. "Sisanya sebanyak 16 persen tidak jawab,” kata Saiful.

Adapun di kalangan priyayi, Saiful melanjutkan, sebanyak 59 persen memilih Ganjar, 0 persen memilih Prabowo, dan 19 persen memilih Anies. Sebanyak 22 persen responden memilih tidak menjawab.

“Ganjar didukung oleh mayoritas santri, abangan, dan priyayi,” kata Saiful.

Baca juga : Santri Dukung Ganjar Sumut Berikan Bantuan Material

Dari data survei yang digelar pada Maret 2023 itu, Saiful menyimpulkan, jika perbedaan santri, abangan, dan priyayi dalam Pemilihan Presiden tidak penting. Pasalnya, ketiganya sama-sama dominan memilih Ganjar yang juga kader PDIP tersebut. "Ada memang warga yang menganggap dirinya santri, abangan, dan priyayi, tapi itu tidak pu­nya efek berarti dalam perilaku memilih di pemilihan presiden,” kata dia.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Jakarta tersebut menjelas­kan, tipologi priyayi, santri, dan aban­gan adalah konsep antropologis. Tiga tipologi masyarakat Jawa itu meru­pakan hasil penafsiran antropologi asal Amerika Serikat, Clifford Geertz terha­dap gejala keagamaan Muslim di Jawa. Saiful menjelaskan, belakangan ada studi mutakhir tentang itu dan mengu­sulkan agar memperhatikan secara lebih serius konsep tipologi priyayi, santri, dan abangan. Katanya, konsep itu masih berguna untuk membantu menjelaskan perilaku memilih di Indonesia.

Saiful mengatakan, saat ini kalangan santri dominan. Berbeda saat di tahun 50-an. Saat itu, abangan yang dominan.

Saiful bilang, walaupun terjadi santrinisasi secara kultural, secara politik yang terjadi bukan politik santri. Saat ini, kalau memakai konsep lama tentang partai, di parlemen hanya ada dua partai yang eksplisit menyebut dirinya sebagai partai Islam, yakni PKS dan PPP. Gabungan keduanya hanya sekitar 13 persen. Sementara pada Pemilu 1955, gabungan Partai NU dan Masyumi seki­tar 40 persen.

Baca juga : Banteng Dan Beringin Mending Diskusi Sambil Ngopi Aja...

“Santrinisasi terjadi secara kultural dan sosial, tapi secara politik tidak. Secara kultural, masyarakat Muslim Jawa semakin santri, tapi soal politik, beda lagi.” jelasnya.

Saiful mencontohkan sekarang banyak kader PDIP yang memakai jilbab. Bahkan Ganjar yang sekarang populer menjadi calon presiden dan merupakan kader PDIP, juga nampak seperti santri. Istri Ganjar sendiri berasal dari keluarga santri.

“Terjadi sekularisasi politik, (di mana warga) mendiferensiasi wilayah politik dan agama. Orang, ketika memperjuangkan kepentingan publik, bicara lebih inklusif dan tidak eksklusif untuk kepentingan agama tertentu, tapi kepentingan warga negara. Tidak identik antara santrinisasi dengan politisasi atau santrinisasi politik,” lanjutnya. ■

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.