Dark/Light Mode

Denny JA: Agama Hadir Untuk Berikan Kebahagiaan Penganutnya

Senin, 17 April 2023 03:10 WIB
Ketua Umum Esoterika Denny JA saat memberikan pidato pembuka pada acara memperingati Paskah dan Buka Puasa bersama di GKI Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (15/4). (Foto: ist)
Ketua Umum Esoterika Denny JA saat memberikan pidato pembuka pada acara memperingati Paskah dan Buka Puasa bersama di GKI Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Sabtu (15/4). (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Agama hadir untuk memberikan kedamaian dan kebahagiaan untuk para penganutnya.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Esoterika, Denny JA, dalam Dalam acara Dialog Lintas Iman Memaknai Puasa dan Paskah di GKI Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (15/4). 

Hadir dalam kegiatan itu Ketua Umum MJ GKI Kebayoran Baru Boyed M. Cornelis Ratuwalu, Prof. Siti Musdah Mulia dan Pdt. Janoe Widyopramono sebagai narasumber. Serta moderator Budhy Munawar-Rachman. 

Denny mengatakan, Ramadhan tahun ini bersamaan dengan beberapa hari suci untuk agama lain di Tanah Air. Di antaranya Hari Raya Nyepi di awal Ramadhan, serta Hari Paskah pada pertengahan bulan puasa lalu.

Menurut Denny, momen Ramadhan dan Paskah perlu merenungkan data yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Maret 2023 tentang cara mengukur kemajuan sebuah negara. Dalam laporan publikasi itu, sebuah negara dikatakan maju tak lagi hanya dilihat kemakmuran ekonominya, tapi justru yang paling penting adalah kebahagiaan warga negaranya.

Baca juga : Bandara Kertajati Berangkatkan Jemaah Umrah Untuk Ketiga Kalinya

Sejak 2012, PBB melalui Sustainable Development Solution Network mempublikasikan indeks yang disebut World Happiness Index yang disusun oleh para ahli ekonomi, politik, public policy, dan psikologi. Berbagai dimensi ekonomi, politik, psikologi menjadi bagian World Happiness Index. Tak hanya soal kemakmuran ekonomi dan pemerintahan yang bersih, tapi kepercayaan masyarakat (social trust) dan keakraban warga negara menjadi komponen perhitungan. 

“Puncak kemajuan harus tetap terlihat dari kebahagiaan manusia di negara itu,” ungkap Denny JA.

Berdasarkan World Happiness Index, pada 2023, negara ranking pertama yang dianggap paling tinggi indeks kebahagiaan warga negaranya adalah Finlandia, di mana sudah menempatinya selama enam kali berturut- turut. Selain itu, 10 negara yang paling maju tersebut didominasi oleh negara Skandinavia dan Eropa Barat, di antaranya Denmark, Swedia, Norwegia, Swiss, dan Belanda.

Namun, yang menarik adalah berdasarkan data Gallup Poll (2008/2009), di negara-negara itu, agama sudah tak lagi dianggap penting oleh masyarakatnya. Sebagai contoh, di Finlandia, persentase masyarakat yang menganggap agama penting dalam hidupnya hanya 28 persen. Sementara itu, di Denmark hanya 19 persen dan Swedia 15 persen.

Bahkan, 10 negara yang membuat warganya paling bahagia, rata rata hanya 31 persen populasinya menganggap agama penting dalam hidup mereka. Ini menimbulkan pertanyaan yang mendasar. 

Baca juga : Jadi Ketum Pelti DKI, Hari Janji Kembalikan Kejayaan Petenis Jakarta

“Mengapa di negara yang tak lagi menganggap agama penting justru mampu membuat warganya paling bahagia, makmur, pemerintahannya paling bersih dari korupsi, dan menghormati keberagaman?” tanya Denny.

Hal sebaliknya justru terjadi di negara yang 90 persen populasinya menganggap agama sangat penting, yakni Indonesia dengan mayoritas Islam, India (Hindu), Thailand (Buddha), dan Brasil (Katolik). Berdasarkan World Happiness Index, Indonesia hanya di ranking 80, India 136, Thailand 53, dan Brazil 34.

“Di negara yang menganggap agama minta ampun pentingnya, tapi justru tak mampu membuat warga negaranya paling bahagia, pemerintahan yang bersih dan sebagainya. Bagaimana kita menjelaskan fenomena itu? Mengapa di era ini agama tak lagi menjadi variabel yang membuat warga negaranya makmur, maju, dan bahagia? Apa yang salah?,” urai pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) itu.

Denny mengungkapkan, dengan menyelami data tersebut, maka akan membuka mata mengenai realitas agama dalam praktiknya di abad 21.

Dia menyebut ada dua faktor yang bekerja saat ini yang menjadi penyebabnya. Pertama, berubahnya driving force peradaban. Pada abad pertengahan dan sebelumnya, agama menjadi driving force utama peradaban. Namun, di era modern, driving force utama peradaban berpindah kepada ilmu pengetahuan dan manajemen modern. Sehingga, untuk maju, makmur dan mampu membuat warga negara bahagia, tergantung dari kemampuan negara itu dalam mengelola ilmu pengetahuan dan manajemen modern, bukan oleh intensitas beragama.

Baca juga : Ciptakan Suasana Hangat Silaturahmi Lebaran dengan Percantik Lantai

Tanpa kemampuan mengelola ilmu pengetahuan dan manajemen modern secara optimal, sebuah negara tak akan mampu membuat warganya bahagia, walau intensitas beragama di negara itu begitu luas. “Suka atau tidak, inilah realitas yang ada. Driving force peradaban utama sudah tak lagi di tangan hidup beragama,” sebutnya.

Kedua, agama meredup sebagai kekuatan akhlak. Akibatnya, riuh rendah ritus agama tidak berlanjut pada perilaku sosial yang sesuai. Semakin terlihat ada kesenjangan antara doktrin agama dan peradaban yang dihasilkannya, ada jurang menganga antara keriuhan ritus agama dengan perilaku sosial penganutnya.

“Merenungkan Paskah dan Ramadhan, saatnya kembali kita bangkitkan kekuatan compassion, kekuatan akhlak di setiap agama. Kita termasuk kelompok yang meyakini, kompleksitas batin manusia tak hanya bisa dipuaskan semata oleh kelimpahan ekonomi dan kemajuan teknologi. Manusia adalah makhluk spiritual yang memiliki tubuh,” ujar Denny JA.

Pdt. Janoe Widyopramono mengatakan, kegiatan dialog lintas agama tersebut menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan dan memberikan aura menentramkan. Selain itu, juga memberikan harapan bagi Indonesia bahwa untuk hidup berdampingan justru hadir karena bisa saling menghargai sesama pemeluk agama.

Sementara itu, Prof. Siti Musdah Mulia mengatakan, suasana seperti dalam kegiatan itu harus dikembangkan terus menerus. Sebab, kedamaian tidak pernah tercipta dengan sendirinya, beda dengan konflik. Kedamaian harus diusahakan dengan segala macam cara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.