Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Denny JA Dinilai Bawa Pandangan Baru Dalam Hubungan Antaragama
Minggu, 11 Juni 2023 12:06 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemikiran Denny JA dinilai telah membawa pandangan baru dalam hubungan antaragama beragama di Indonesia.
Hal tersebut merupakan kesimpulan dari diskusi buku berjudul Era Ketika Agama Menjadi Warisan Kultural Milik Bersama: Sembilan Pemikiran Denny JA soal Agama di Era Google (2023) karya Ahmad Gaus AF, di Aula Pondok Pesantren Mahasiswa Universal, Bandung, Jumat malam (9/6).
Acara yang digelar mulai pukul 20.00 WIB itu dibuka dengan lagu Ya Lal Wathon dan salawat.
Sebelumnya, para santri juga dengan khidmat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Baca juga : Bahlil Gandeng Erat Malaysia
Pada diskusi yang dihadiri 200 orang santri ini juga dibacakan penggalan puisi berjudul "Cinta Tuhan Semata" karya Denny JA, yang dibacakan oleh Azmi Zahraturrihani, mahasiswi Jurusan Tasawuf Psikoterapi, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung yang juga mahasantri di Pesantren Universal. Puisi itu berkisah tentang cinta tanpa pamrih ala sufi Rabiah Adawiyah kepada Tuhan.
Muhamad Maksugi dari UIN Bandung yang mendampimgi Ahmad Gaus sebagai pembicara malam itu mengatakan, mahasiswa adalah harapan bagi tumbuhnya lapisan generasi masa depan yang akan membawa atmosfer baru dalam kehidupan beragama. Gagasan Denny JA dalam buku yang sedang didiskusikan ini dapat menjadi pegangan untuk membangun atmosfer tersebut. Sebab, Denny JA menawarkan pandangan baru dalam melihat hubungan antaragama di Indonesia.
“Pemikiran Denny JA bahwa agama-agama adalah warisan kultural milik bersama umat manusia, memberi tawaran baru tentang bagaimana kita memperlakukan agama-agama yang lain di luar agama kita sendiri,” tegas Maqsugi yang mengaku sering membaca karya-karya Denny JA dalam bentuk puisi.
Anggota pembina dewan santri Universal yang juga pegiat sastra itu menjelaskan bahwa pandangan keagamaan Denny JA sejalan dengan misi Pesantren Universal yang menerapkan sistem pendidikan transformatif-emansipatoris berbasis empati, toleransi, semangat perubahan dan pemberdayaan yang berorientasi mewujudkan kemashlahatan universal.
Baca juga : Ryan Kurnia Mulai Adaptasi Bareng Skuad Maung Bandung
Sementara, dalam pemaparan bukunya Gaus mengatakan, rumusan Denny JA bahwa agama-agama adalah warisan kultural milik bersama umat manusia, bukan sekadar retorika keagamaan melainkan sebuah pencerahan yang benar-benar dibutuhkan saat ini. Rumusan itu sangat kuat. Rumusan itu mengubah perspektif tentang hubungan antaragama yang selama ini cenderung dilihat dalam bingkai teologi atau keimanan.
“Rumusan itu mampu menerobos tembok pembatas antaragama yang sudah terbangun berabad-abad,” tegas penulis yang juga peneliti dari CSRC UIN Jakarta tersebut.
Sejarah agama, lanjutnya, didikte oleh teologi eksklusif yang menyingkirkan orang lain. Memandang yang lain sebagai musuh abadi yang harus dimusnahkan. Maka lahirlah teologi kebencian yang dipeluk bukan hanya oleh kaum ekstremis dan teroris melainkan juga oleh mereka yang mendukung dan mengamini secara diam-diam tindakan para teroris itu.
Menurut Gaus, teologi kebencian tertanam sangat dalam di lubuk hati para pemeluk agama ketika berhadapan dengan pemeluk agama lain. Kekerasan atas nama agama, termasuk perang dan terorisme, adalah perwujudan sejati dari teologi kebencian ini. Maka kaum sekular dan ateis menuduh agama bertanggung jawab atas berbagai kekerasan berdarah di muka bumi.
Baca juga : Mahalini, Perjuangkan Cinta Walau Beda Agama
Untuk keluar dari jebakan teologi kebencian ini, lanjutnya, tidak mudah karena jeratnya sudah terpasang di mana-mana: keluarga, lingkungan, tempat ibadah, sekolah, dll. Itu pula yang memicu konflik dan permusuhan atas nama agama. Padahal agama-agama secara inhern dalam dirinya mengandung ajaran kasih sayang dan perdamaian. Seharusnya itu menjadi argumen untuk keluar dari jebakan teologi kebencian.
“Maka rumusan Denny JA bahwa agama-agama adalah warisan kultural milik bersama umat manusia, sangat penting karena menjadi argumen untuk keluar dari jebakan teologi kebencian tersebut. Sekaligus menjadi seruan kepada setiap pemeluk agama untuk memandang agama dan tradisi keimanan yang lain sebagai miliknya juga. Sebab sejarah agama dibentuk oleh kita bersama, manusia dan peradabannya,” pungkas Gaus.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya