Dark/Light Mode

Romo Benny: Tahun ini, Pancasila Diajarkan Dari PAUD Sampai SMA

Senin, 24 Juli 2023 10:07 WIB
Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa Bernegara, di Jogja Green School, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (22/7). (Foto: Ist)
Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa Bernegara, di Jogja Green School, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (22/7). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo menyampaikan, mulai tahun ajaran 2023-2024, pendidikan Pancasila akan diajarkan kepada murid-murid dari PAUD sampai dengan SMA. Ia berharap, para guru mengajarkan pelajaran Pancasila dengan menyenangkan.

Hal tersebut disampaikan Benny pada seminar dalam rangka Bulan Bung Karno dengan tema Pancasila Dalam Kehidupan Berbangsa Bernegara, di Jogja Green School, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (22/7).

Romo Benny, sapaan akrabnya, menyampaikan, pelajaran Pancasila bisa mengajarkan anak-anak untuk memiliki cita rasa Pancasila, dan menjadi nilai keutamaan hidup. Pancasila bukan pelajaran hafalan atau doktrinasi. Tapi bagaimana membawa anak-anak menjadikan Pancasila menjadi nilai dalam kehidupannya. 

"(Pelajaran Pancasila) memakai metode 70 persen pengalaman, 30 persen teori. Ini sesuai dengan nilai dari Ki Hajar Dewantara: pendidikan untuk menjadi. Bukan menghafal dan mengingat, tetapi anak-anak akan benar menjadi, menjadi insan profil Pancasila," jelasnya. 

Baca juga : Romo Benny: Tanamkan Ideologi Pancasila Kepada Anak Sejak Usia Dini

Budayawan ini menyatakan lanjut garis besar isi pembelajaran mata ajar Pancasila. "Anak-anak diajarkan keragaman, anak-anak sadar kalau mereka berbeda tetapi satu. Pancasila adalah ideologi yang menyatukan hal itu. Menghargai budaya lokal dan budaya orang lain, misalnya. Ini yang ditanamkan sejak dini," ungkapnya. 

Benny memaparkan, penekanan pelajaran Pancasila dari PAUD sampai SD lebih kepada bagaimana hidup dengan nilai Pancasila dari hal-hal kecil dan mudah digunakan. Saat tingkat SMP, baru mulai diajarkan sejarah Pancasila dan Indonesia, serta pengenalan tokoh-tokoh. SMA, baru diajarkan dan mengenal soal konsep Pancasila.

"Jadi, semua sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing jenjang," katanya. 

Menurut dia, pendidikan Pancasila sangat urgen menyusul hasil survei dari Setara Institute kepada anak-anak muda di 5 kota besar di Indonesia. Hasil survei itu menunjukkan sebanyak 83 persen anak muda menyatakan Pancasila bukan ideologi permanen. 

Baca juga : Rajin Inovasi Transaksi, Bank DKI Dinobatkan Jadi BUMD Terbaik

"Ini mengerikan. Pancasila padahal dielu-elukan oleh banyak tokoh internasional sebagai pemersatu yang ampuh. Imam dari Suriah pernah menyatakan Indonesia beruntung punya Pancasila, dimana menyatukan 700 lebih suku bangsanya; di Suriah, hanya sekitar 10 suku bangsa, tetapi bertikai. Kita tahu bagaimana keadaan Suriah sekarang. Pancasila itu bukan main-main, dan Pancasila benar menyatukan kita semua," paparnya. 

Benny pun menyatakan bahwa dalam mengajarkan pelajaran Pancasila, harus ada perubahan paradigma penyampaian. Orientasi pengajaran harus bukan pada hafalan atau doktrinal, tetapi anak-anak sendiri diarahkan untuk menjadikan apa yang bahan ajar menjadi nilai hidupnya. Banyak tugas pribadi dan reflektif, banyak visual dan belajar membangun kebersamaan.

"Anak-anak harus bisa mengalami pendidikan yang menyenangkan, bukan hafalan lagi, tetapi perjumpaan dengan teman dan sesamanya, dan akhirnya Pancasila bisa menjadi ideologi hidup dan bekerja," terangnya. 

Ia berharap, guru mampu memberikan inspirasi kepada murid agar dia memiliki kemandirian, kreativitas, dan kecakapan teknologi. Guru dapat mengubah paradigma, bukan monolog lagi. "Anak-anak menggali sendiri pengetahuan, guru menjadi sahabat, teman, dan membantu. Paradigma guru harus diubah. Itulah yang ditunjukkan oleh Ki Hajar Dewantara," sebutnya. 

Baca juga : Romo Benny: Pemimpin Harus Berjiwa Pancasila, Bersikap Terbuka Dan Rendah HatiĀ 

Akhirnya, pada bagian penutup, pakar komunikasi politik ini menyampaikan bahwa BPIP menginginkan, dimulai dari pendidikan Pancasila, metode dan paradigma guru, orang tua, serta pihak terkait, dalam pengajaran, menjadi menyenangkan bagi anak-anak. 

"Kembalikanlah tugas guru: membuat anak-anak mencintai negara dan bangsanya. Itulah cita-cita Ki Hajar Dewantara. Jangan itu hilang. Pendidikan bukan instan dan kejar target, tetapi ajarkan kebahagiaan. Guru memahami anak-anak, agar minatnya tersalurkan. Kesalahan sekarang, kita memaksakan anak-anak," ingatnya.

Kata dia, sukses bukan jadi dokter atau insinyur, tetapi jadi dirinya sendiri. Kalau anak mau jadi penggiat seni, biarkan. Anak menjadi atlet, biarkan. "Jangan konsep: anak harus jadi pegawai, pegawai negeri sipil, itu salah. Biarkan anak-anak menjadi dirinya sendiri dan mampu mengembangkan dirinya secara baik dan benar. Dukung mereka, jadilah teman mereka dalam belajar," tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.