Dark/Light Mode

CEO TVOne Dan Ahli Pers PWI Bedah Baik Buruk AI Bagi Wartawan Di Kongres PWI

Senin, 25 September 2023 16:33 WIB
CEO TVOne Taufan Eko Nugroho dan Ahli Pers PWI Agus Sudibyo di Seminar bertajuk Teknologi AI Terhadap Perkembangan Profesi Wartawan, Bandung, Jawa Barat, Senin (25/9). (Foto: YouTube/PWIOfficial)
CEO TVOne Taufan Eko Nugroho dan Ahli Pers PWI Agus Sudibyo di Seminar bertajuk Teknologi AI Terhadap Perkembangan Profesi Wartawan, Bandung, Jawa Barat, Senin (25/9). (Foto: YouTube/PWIOfficial)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke XXV Tahun 2023 diawali oleh satu seminar menarik, yakni tentang Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan yang saat ini memberikan peluang sekaligus ancaman bagi dunia jurnalistik.

Seminar bertajuk Teknologi AI Terhadap Perkembangan Profesi Wartawan ini dibuka langsung oleh Pj Gubernur Jawa Barat Bey Machmudin

Dalam sambutannya Bey, berharap PWI ikut mengawal pemberitaan yang informatif dan berimbang serta dapat membantu menangkal berita-berita hoax.

"Saya ini dibesarkan oleh media, hampir 10 tahun bersama-sama media. Terakhir yang merepotkan itu adalah masih banyak wartawa yang mengejar click-bait pak, mohon dibantu," harapnya.

Seminar yang menghadirkan CEO TVOne Eko Nugroho dan Ahli Pers PWI Pusat Agus Sudibyo sebagai narasumber ini dipandu oleh host Salsabila Syaira.

Dalam paparannya, Taufan lebih banyak menyoroti peluang dan optimisme dengan kehadiran AI di ruang redaksional televisi. Karena di banyak sisi, AI membantu pekerjaan jurnalistik menjadi lebih efisien.

Baca juga : AC Tanpa Listrik Bakal Jadi Sorotan Di Event IREIS 2023

Ia menceritakan bagaimana mereka bisa menekan biaya produksi penyiaran berita dengan memanfaatkan avatar pembawa berita yang diolah oleh AI. Sekaligus meningkatkan market-share, berkat kemampuan AI yang menguasai banyak bahasa.

"Kerasa banget, AI dengan 3 orang sudah cukup tuh membuat berita yang luar biasa, presenter mungkin dengan 100 presenter. Tapi hanya modal 3 orang," kata Taufan, Senin (25/9).

Meskipun lebih efisien, hingga saat ini, TVOne katanya, belum 100 persen memanfaatkan AI. Setiap avatar penyiar berita AI, tetap didukung oleh suara penyiar berita manusia.

Karena menurutnya, intonasi suara AI belum senatural manusia. Karena robot cerdas itu masih nihil emosi dalam membacakan berita. Akan tetapi, bukan tidak mungkin ke depan AI akan terus mengalami peningkatan.

Bagaimana dengan sambutan pemirsa?

Taufan bilang, antusiasme penonton terhadap segmen AI di TVOne tidak kalah dengan segmen yang diproduksi secara konsensional.

Baca juga : Aduan Ke Dewan Pers, LPDS Ingatkan Wartawan Pedomani Kode Etik Jurnalistik

"Setiap ada acara kabar siang di TVOne, ada segmen-segmen AI yang ternyata ratingnya bagus," lanjutnya.

Menurutnya, media mainstream harus ikut andil dalam pemanfaatan AI. Selain efisien, pemanfaatan AI oleh media mainstream diyakini dapat mengantisipasi mewabahnya deep fake hingga fake news yang diproduksi dengan AI.

"Hanya media mainstream yang memiliki disiplin, punya tata aturan yang jelas bagaimana memberikan informasi. Tapi kalau teman-teman yang tidak memahami jurnalistik, tidak ada rasa tanggung jawab," tandasnya.

Selain membawa manfaat, AI juga sekaligus datang dengan ancaman dan malapetaka.

Ahli Pers PWI Agus Sudibyo mengatakan hingga saat ini sejumlah riset di berbagai belahan dunia belum secara klir menyimpulkan bagaimana baiknya merespons kehadiran AI ini. Apakah dirangkul atau diabaikan.

"Karena transformasi teknologi ini juga membawa residu dan dampak yang harus ditangani dengan memadai," terangnya.

Baca juga : Tingkatkan Sinergitas, BI Jakarta Gelar Capacity Building Wartawan Di Lombok

Secara umum, lanjut Agus, dunia merespons kehadiran AI dari dua sisi. Pertama, positivistik optimis, yakni seperti digambarkan oleh CEO TVOne, bahwa AI banyak membantu pekerjaan manusia khususnya di dunia jurnalistik. 

Kedua, kritis ekonomi politik, yakni ancaman dan residu yang bakal datang seiring dengan kehadiran AI. Seperti akan banyaknya pekerjaan digantikan oleh AI yang mengakibatkan makin banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan. 

Selain itu, teknologi AI yang sebagian besar dimiliki oleh perusahaan yang berdomisili di Amerika Serikat. Sehingga secara ekonomi maupun politik, hanya menguntungkan negara tertentu saja.

"Karena itu harus ada keseimbangan antara positivistik optimis dengan kritis ekonomi politik," sarannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.