Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Patriotisme Pemuda di Era Digital, Mengusung Kebenaran dan Anti Hoaks
Senin, 6 November 2023 20:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho menyeru generasi muda untuk selalu spirit Sumpah Pemuda, yang baru saja diperingati, dalam menjaga keutuhan bangsa. Termasuk dalam menghadapi tantangan di era digital.
Dia menyebut, banyak negara mengalami kekacauan, karena masyarakatnya tidak bisa menyaring konten hoaks yang datang, lalu ikut menyebarkan dan mempercayainya sebagai sebuah kebenaran. “Dampaknya kemudian melahirkan polarisasi yang kuat bahkan akhirnya menuju pada dehumanisasi yang menjelekkan hingga menjatuhkan orang lain,” ujar Septiaji, di Jakarta, Senin (6/11).
Baca juga : Fraksi PKS Desak Israel Diseret Ke Mahkamah Pidana Internasional
Menurutnya, isu-isu semacam itu sangat mudah dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu, apalagi menjelang Pemilu 2024. Maka dari itu, pemuda harus berkomitmen untuk menjadi agen dan duta perdamaian. Mereka perlu memulai dari sekarang menentukan sikap yang akan mereka ambil dalam mengusung perdamaian dan anti hoaks.
Ia menambahkan, banyak cara untuk menjadi agen perdamaian. Misalnya dengan menjadi content creator yang menyajikan narasi-narasi kebangsaan, kepercayaan, atau pun persaudaraan, dengan cara-cara yang asyik. Para pemuda bisa turut serta membumikan konten positif dengan mengunggahnya di berbagai media sosial. Mereka juga bisa ambil bagian dalam mensosialisasikan penggunaan media sosial secara langsung terhadap masyarakat sekitarnya.
Baca juga : Literasi Digital Dukung Nakes Kompeten Bertransformasi
Alumni Technische Universitaet Muenchen ini melanjutkan, pendekatan anti hoaks yang dilakukan anak muda terhadap masyarakat bisa dilakukan di banyak kesempatan. Banyak acara keagamaan seperti pengajian, sekolah minggu, atau di kesempatan lain yang banyak orang hadir, yang bisa mereka isi dan menularkan pengetahuan tentang indahnya toleransi.
“Ada banyak momen ataupun kegiatan yang sebenarnya perlu kita datangi untuk mensosialisasikan ini. Bisa juga dengan cara bergabung menjadi relawan dari beberapa organisasi yang secara konsisten menyuarakan bahaya sebaran kebohongan dan kebencian, serta pentingnya berpikir kritis,” jelasnya.
Baca juga : Peringati Sumpah Pemuda, Amran Minta Jajarannya Jujur Dan Kerja Tim
Septiaji juga berpesan agar generasi muda tidak menjadi seperti katak dalam tempurung. Yang menganggap dirinya tahu segalanya, tapi sebenarnya memiliki pemahaman yang sempit karena tidak pernah mempertimbangkan perspektif dari selain yang ia yakini.
“Orang atau kelompok yang selalu merasa benar sendiri akan cenderung membentuk pemikirannya menjadi sempit atau seperti katak dalam tempurung. Dari sinilah biasanya isu-isu radikalisme akan mudah sekali ditanamkan kepada orang yang demikian dan mereka memiliki tendensi menolak pemikiran yang berbeda dengannya,” tandas Septiaji.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya