Dark/Light Mode

Pola Serangan Terorisme Berubah, Kepala BNPT Minta Mahasiswa Waspada

Kamis, 9 November 2023 11:18 WIB
Kepala BNPT Komjen Prof Rycko Amelza Dahniel (Foto: Dok. BNPT)
Kepala BNPT Komjen Prof Rycko Amelza Dahniel (Foto: Dok. BNPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pola serangan terorisme sudah berubah. Dari hasil penelitian yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2018-2023, pola serangan terorisme yang dilakukan secara terbuka telah menurun hingga 89 persen. Di atas permukaan, mereka tidak lagi melakukan serangan-serangan teror. Mereka sudah mengubah polanya dari hard approach menjadi soft approach atau di bawah tangan.

“Di bawah tangan ini atau di ‘ruang gelap’ (online) mereka melakukan suatu kegiatan yang terencana dan sistematis dan juga masif. Tentunya untuk melakukan penguatan sel-sel, melakukan proses rekrutmen melalui proses radikalisasi kepada kalangan para mahasiswa, kepada para remaja, anak-anak dan perempuan,” ujar Kepala BNPT Komjen Prof Rycko Amelza Dahniel, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (9/11).

Hal tersebut disampaikan Rycko saat menjadi narasumber Kuliah Umum di hadapan sekitar 1.000 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), di Auditorium Prof Wuryanto, Unnes, Rabu (8/11). Kuliah umum ini mengambil tema “Unnes Say No to: Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme untuk Masa Depan Sejahtera Mewujudkan Harmoni Kemerdekaan Bangsa.

Rycko menjelaskan, kelompok radikal terorisme telah memperkenalkan dan menggunakan simbol-simbol agama dengan masuk ke rohis rohis, ke tempat-tempat ibadah, ke ta’lim-ta'lim untuk memperkenalkan ideologi dengan menggunakan atribut atau simbol-simbol agama utamanya agama Islam.

Baca juga : Menhan Minta Semua Pihak Jaga Stabilitas

“Bahkan mereka ini juga menggunakan tempat-tempat ibadah untuk menyampaikan, atau disampaikan oleh orang-orang yang sepertinya memahami masalah keagamaan atau menggunakan jubah keagamaan. Untuk itu saya minta hati-hati kepada para mahasiswa semuanya,” ujarnya.

Dia melanjutkan, di bawah sel permukaan, kelompok ini mulai memperkuat diri dengan melakukan proses rekrutmen dan mengumpulkan berbagai bantuan keuangan atau donasi, tromol-tromol, atau menyaru dengan menggunakan kotak amal. Bahkan, sekarang ini sudah menggunakan sistem online atau yang menggunakan barcode.

“Cyber patrol juga dilaksanakan, tapi masalahnya ini sudah tersebar dari WA (WhatsApp) ke WA, Telegram ke Telegram, lalu dari Facebook ke Facebook,” ujarnya.

Selain itu, sel-sel teroris ini juga berupaya masuk seperti ingin membuat partai politik. Dari strategi menggunakan peluru, bullet, sekarang menggunakan bailout atau menggunakan kotak suara. “Tentunya kita harus hati-hati betul,” ucapnya.

Baca juga : Pidato di Pengukuhan Guru Besar Kepala LAN, Bamsoet Tekankan Transformasi Birokrasi

Untuk para kaum perempuan, lanjut Rycko, juga tidak sedikit di yang sudah dieksploitasi, dibohongi, dan dimanipulasi untuk menjadi jaringan terorisme. Bahkan ada yang menjadi pelatih, ada yang menjadi pelaku bom bunuh diri, ada yang menjadi perekrut, ada yang menjadi simpatisan, dan ada juga yang membawa suami dan anaknya untuk melakukan bom bunuh diri seperti yang terjadi di Surabaya pada 2018.

“Apa ada ajaran agama yang mengajarkan seperti itu, membawa suami, membawa anak-anak untuk menjadi pelaku bom bunuh diri,” ujar alumni Akpol tahun 1988 ini.

Untuk itu, Rycko menekankan kepada para mahasiswa, ada dua upaya yang harus dilakukan dalam menghadapi ideologi kekerasan ini. Pertama, mengenal ciri-cirinya atau karakter, pola, dan juga modus operandinya. Kedua, memperkuat rasa kebangsaan.

“Memperkuat rasa kebangsaan bagi para generasi muda saat ini adalah dengan menggunakan pengetahuan, seperti rajin membaca. Mudah-mudahan di kampus ini bisa diberikan tentang memperkuat rasa kebangsaan,” ucapnya.

Baca juga : Penerbangan Dari BIJB Kertajati, Pintu Menuju Kawasan Rebana

Rektor Unnes Prof Martono, mengatakan, dengan adanya kuliah umum yang disampaikan Kepala BNPT, dirinya yakin, di Unnes akan lahir orang-orang yang anti radikalisme, orang-orang yang anti teroris. “Kami berharap kuliah umum akan menguatkan kita untuk bersatu dalam berbagai perbedaan,” ujarnya.

Prof Martono mengatakan, baik buruknya negara ini ada di pundak mahasiswa dan juga di civitas akademika. Dirinya mengucapkan terima kasih kepada BNPT yang mau memberikan pencerahan kepada para generasi muda bangsa ini.

“Mari bersama-sama untuk lurus berdasarkan keyakinan kita, berdasarkan langkah kita dan berdasarkan hukum yang berlaku di negara kita.  Utamakan toleransi kita tolak radikal dan wujudkan Indonesia yang harmonis itu yang diutamakan,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.