Dark/Light Mode

Perpusnas Gelar Webinar Bahaya Hipertensi-Stoke dan Cara Mencegahnya

Jumat, 1 Desember 2023 16:37 WIB
Webinar Hipertensi dan Stoke yang digelar Perpusnas, di Jakarta, Jumat (1/12). (Foto: Dok. Perpusnas)
Webinar Hipertensi dan Stoke yang digelar Perpusnas, di Jakarta, Jumat (1/12). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menggelar Webinar Kesehatan Hipertensi dan Stroke, di Jakarta, Jumat (1/12). Webinar ini dimaksudkan untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya hipertensi dan stroke.

Sebagai salah satu penyakit berbahaya hingga mendapatkan julukan silent killer, hipertensi atau darah tinggi perlu mendapatkan perhatian. Sebab, hipertensi dapat menyerang siapa pun tanpa adanya tanda yang muncul pada tubuh. Hipertensi adalah tekanan darah yang melebihi batas normal, dan dapat berpotensi meningkatkan risiko serangan jantung dan gagal jantung lantaran organ tubuh tersebut memiliki peranan penting dalam menyuplai darah.

“Biasanya hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah di atas 140 mmHg dan diastoliknya 90 mmHg,” ujar dokter Firlihanny Anggaraini dari Klinik Pratama Perpusnas, pada webinar tersebut.

Tekanan darah terbagi menjadi dua, yaitu sistolik dan diastolik. Sistolik yaitu tekanan ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Sedangkan, diastolik merupakan tekanan ketika jantung berelaksasi dan menerima darah sebelum kembali memompakannya ke seluruh tubuh.

Baca juga : UID dan Yayasan Bunga Bali Gelar Lelang Lukisan untuk Pahlawan Seni dan Olahraga

Firli mengatakan, ada faktor-faktor yang memengaruhi tekanan darah. Misalnya genetik, usia, jenis kelamin, stres fisik, stres psikis, obesitas, pola hidup, kurangnya aktivitas fisik, mengkonsumsi alkohol atau kopi yang berlebihan, hingga kebiasaan merokok. Gejala hipertensi bisa dilihat dari gejalanya, seperti sakit kepala, jantung berdebar, pandangan kabur, kecemasan, dan mudah lelah.

“Tapi ada gejala yang lebih mengkhawatirkan, yaitu tanpa gejala. Itulah kenapa disebut silent killer,” terangnya.

Sebelum terlambat, siapa pun bisa mencegahnya dengan cara mengurangi konsumsi garam, diet gizi seimbang, menerapkan pola hidup sehat, melakukan aktivitas fisik teratur, dan mengontrol berat badan.

Spesialis penyakit dalam dari Laboratorium Prodia dokter Fransiska memberikan prediksi mengejutkan, yaitu pada 2025 kurang lebih 1,5 miliar orang dewasa di dunia mengalami hipertensi. Apakah hipertensi hanya terjadi pada orang tua? Ternyata tidak. Faktor usia memang memengaruhi, tapi hpertensi juga bisa menyerang usia muda. 

Baca juga : Panser Muda Mau Kawinkan Gelar Piala Eropa Dan Piala Dunia

“Hipertensi tidak cukup dengan mengkonsumsi obat tapi harus kontrol. Karena, bisa jadi ada obat yang tadinya sesuai, malah tidak karena komplikasi atau sebab lain,” imbuh Frasiska.

Spesialis saraf dari Rumah Sakit Bina Husada Cibinong dokter Aprilia menambahkan, selain hipertensi yang dianggap sebagai silent killer, penyakit stroke juga sama bahayanya.

Stroke, menurut WHO, adalah keadaan ketika ditemukan tanda-tanda klinis yang berkembang cepat berupa defisit neurologic fokal dan global yang dapat memberat dan berlangsung selama 24 jam atau lebih dan bisa menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular. 

Ada faktor risiko yang tidak dapat diubah dalam penyakit stroke. Salah satunya faktor usia yang terus bertambah. Stroke meningkat di usia 55 tahun. Sedangkan faktor yang dapat diubah seperti hipertensi, diabetes, merokok, hingga gaya hidup.

Baca juga : Relawan Pena Mas Ganjar Berikan Penyuluhan Bahaya Diabetes kepada Warga Tegal

“Penderita stroke pria lebih banyak dari wanita, 52 persen berbanding 48 persen. Dari data WHO, sepanjang rentang 2000-2019, penyakit stroke merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia terbanyak setelah penyakit jantung,” urai Aprilia.  

Gejala stroke bisa diamati dari senyum yang tidak simetris, gerak separuh melemah, bicara pelo, kebas, pandangan rabun, sampai sakit kepala berat. Tidak perlu semua dialami, dengan salah satu gejala pun bisa menjadi penyebab stroke.

Penyakit stroke di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan, merupakan penyebab kematian tertinggi pada 2014. Sehingga dalam dunia kesehatan dikenal filosofi mencegah lebih baik daripada mengobati. 

“Tentu ini bukan sekadar filosofi, tapi justru investasi masa depan karena kesehatan merupakan harta tak ternilai,” imbuh Plt Kepala Pusat Analisis Perkembangan Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Dewi Kartikasari.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.