Dark/Light Mode

Formasi Indonesia Moeda Siap Kawal Gerakan Pilpres 2024 Sekali Putaran

Jumat, 22 Desember 2023 23:08 WIB
Kopi Darat Formasi Indonesia Moeda bertajuk Kawal Agenda Rakyat: Pilpres 2024 Sekali Putaran untuk Indonesia Maju yang dilaksanakan di Gori Artisan Coffee, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/12/2023). Foto: Istimewa
Kopi Darat Formasi Indonesia Moeda bertajuk Kawal Agenda Rakyat: Pilpres 2024 Sekali Putaran untuk Indonesia Maju yang dilaksanakan di Gori Artisan Coffee, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/12/2023). Foto: Istimewa

 Sebelumnya 
Lebih jauh Syifak mengatakan, hasil kajian Formasi Indonesia Moeda bahwa potensi polarisasi pada Pilpres 2024 bukan sekedar mitos. Tepi nyata dan terjadi di masyarakat Indonesia. Hal itu didasari oleh dua hal.

Pertama, temuan hasil survei nasional yang dilakukan oleh Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia menyebut bahwa polarisasi politik Indonesia itu bukan sekedar mitos melainkan fakta, yakni benar-benar terjadi di masyarakat.

Dalam kajian dari UI itu, kita melihat medium polarisasi itu bisa terjadi di dunia maya dan dunia nyata. Polarisasi itu bisa terjadi berdasarkan agama, polarisasi berbasis kepuasan kinerja pemerintah, berbasis anti luar negeri (asing dan aseng), dan bukan mustahil kembali terjadi di Pilpres 2024.

Baca juga : HSS Series 5 Jakarta Targetkan 20 Ribu Pengunjung

"Itu artinya, temuan survei Laboratorium Psikologi Politik UI yang memotret polarisasi itu bukan mitos semata, tetapi benar-benar terjadi di masyarakat," tambahnya.

Kedua, kata Syifak, merujuk pada artikel berjudul ‘Indonesia’s polarisation isn’t dead, just resting’, Seth Soderborg & Burhanuddin Muhtadi.

Sesuai judulnya, artikel ini menyebutkan bahwa polarisasi yang ada di masyarakat kita, Indonesia, tidak sepenuhnya berakhir atau menghilang. Melainkan hanya ‘jeda sejenak’.

Baca juga : Diaspora Indonesia Di Eropa Ajak Masyarakat Dukung Ganjar-Mahfud MD Di Pilpres 2024

Dengan menggunakan kata ini, ‘jeda’ atau ‘istirahat’ sejenak, hal ini memberi penegasan bahwa polarisasi yang ‘jeda sejenak’ itu bisa saja ‘terangsang’ untuk muncul. Polarisasi memiliki basis massa yang berakar pada garis-garis pembelahan politik yang telah berlangsung lama dan permanen.

Dijelaskan Syifak, kontestasi Pilpres dua putaran bisa saja terjebak pada situasi yang menakutkan. Hidup dan berkobarnya lagi polarisasi yang tersembunyi. Polarisasi yang sudah punya akar itu bisa saja ‘dihidupkan’ dan ‘dimobilisasi’ oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan elektoral.

"Adakah pihak-pihak yang ‘biasa’ dan ‘ketagihan’ memainkan politik identitas yang bisa berujung pada politik? Itu soal lain. Tapi apa yang bisa kita lakukan saat ini adalah bagaimana mengantisipasi untuk tidak memberi ‘ruang’ bagi muncul dan ter-trigger-nya situasi politik yang kembali terpolarisasi sedemikian tajam," terangnya.

Baca juga : Rektor UII: Indonesia Alami Kemunduran Demokrasi

Lanjut Syifak, gagasan Pilpres 2024 sekali putaran disuarakan oleh semua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), baik Ganjar Pranowo-Mahfud MD, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.

Tetapi, kata Syifak, mencermati kondisi objektif yang berhasil dipotret berbagai lembaga survei kredibel, pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang paling potensial menang sekali putaran.

"Rata-rata itu kan Prabowo Gibran 45 sama 46 persen, Indikator, LSI itu 45 persen, Populi Center itu 46 persen yang lain (pasangan Anies dan Ganjar) 20-an ya kan. Artinya, mayoritas publik menilai Prabowo-Gibran ini yang paling tepat menjadi Presiden dan Wakil Presiden di tahun 2024," jelasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.