Dark/Light Mode

Hari Ginjal Sedunia, Etana Komit Beri Edukasi & Kolaborasi Sediakan Obat Terjangkau

Kamis, 14 Maret 2024 13:42 WIB
Konferensi pers Peringatan Hari Ginjal Sedunia 2024. (Foto: Istimewa)
Konferensi pers Peringatan Hari Ginjal Sedunia 2024. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day/WKD) yang jatuh di setiap hari Kamis pada minggu kedua di Maret, diperingati di Indonesia dan di seluruh dunia pada 14 Maret 2024. Pada tahun ini, WKD mengusung tema ‘Kidney Health for AllAdvancing Equitable Access to Careand Optimal Medication Practice’ yang secara spesifik mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya pemangku kebijakan, untuk meningkatkan pemerataan akses pelayanan sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan ginjal yang paripurna serta praktik kesehatan yang optimal.

Penyakit Ginjal Kronik (PGK) tercatat sebagai penyebab 4,6 persen kematian global pada 2017. Angka ini diprediksi akan terus meningkat dan PGK diperkirakan akan menjadi penyebab kematian tertinggi ke-5 di seluruh dunia pada 2040.

Di Indonesia, prevalensi PGK semakin meningkat setiap tahun, bila tidak diobati suatu ketika dapat mengalami gagal ginjal. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan tahun 2018, prevalensi PGK adalah 0,38 persen. Data registri Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) pada 2020 menunjukkan insidensi kumulatif pasien yang menjalani dialisis (cuci darah) 61.786, dan prevalensi kumulatif 130.931.

Penyebab utama gagal ginjal adalah tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kencing manis (diabetes). Tingginya angka gagal ginjal ini tidak hanya menjadi beban bagi pasien dan keluarga tetapi juga beban bagi negara, dengan biaya yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan sangat tinggi.

Baca juga : Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1946, PHDI Kota Bekasi Gelar Pasraman Kilat

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu, menjelaskan penyakit ginjal menjadi salah satu perhatian utama dikarenakan jumlahnya yang semakin meningkat dan termasuk dalam penyakit katastropfik dengan pembiayaan JKN terbesar ke-3 setelah penyakit kardiovaskular dan kanker. Beban global yang besar pada PGK menyebabkan penatalaksanaannya tidak hanya berpusat pada penderita, namun juga pencegahan pada populasi berisiko.

Saat ini, pelayanan penyakit ginjal khususnya belum merata di seluruh kabupaten dan kota. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan perbaikan pelayanan kesehatan layanan kesehatan adalah dengan program transformasi layanan kesehatan.

Salah satu pilar layanan kesehatan adalah layanan kesehatan primer. Di sini akan ditingkatkan program preventif dan promotive penyakit ginjal kronik dengan FKTP sebagai wadah pelaksana utama. Selain itu, salah satu pilar transformasi lainnya adalah transformasi layanan rujukan yang bertujuan untuk memperluas cakupan layanan penyakit ginjal kronik yang diantaranya adalah HD, CAPD dan transplantasi ginjal.

Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Pringgodigdo Nugroho menekankan pentingnya skrining dan deteksi dini penyakit ginjal. Skrining, deteksi dini, dan tatalaksana awal penyakit ginjal kronik tidak hanya akan menurunkan angka gagal ginjal dan kebutuhan terapi pengganti ginjal di Indonesia, namun juga akan mengurangi biaya kesehatan pasien gagal ginjal.

Baca juga : Dominasi TikTok, Puspenpol Sebut Prabowo Kuasai Sosmed Di Debat Pamungkas

Dokter Pringgodigdo menambahkan, bahwa kemajuan bioteknologi dan perkembangan farmasi saat ini sudah sangat bekembang, sehingga modalitas untuk mengahambat progresivitas penyakit sudah semakin banyak. Modalitas tersebut diharapkan dapat diakses secara merata oleh individu yang membutuhkan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes Eva Susanti menyampaikan, selain tatalaksana progresivitas, harus ditekanklan khusus mengenai pengendalian faktor risiko PGK seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi. Berbagai upaya promotif dan preventif mengenai pengendalian faktor risiko sudah dilakukan di Direktoral P2PTM seperti promosi kesehatan, dukungan riset inovatif lintas sektor, skrining dan deteksi dini serta monitoring dan pembuatan regulasi yang berhubungan dengan layanan pengendalian faktor risiko di tempat praktik kesehatan.

Upaya-upaya Kemenkes untuk meningkatkan pemerataan juga sudah berjalan. Berbagai alat-alat yang dibutuhkan untuk skrining dan deteksi dini PGK sudah disediakan di kabupaten/kota sehingga dapat menjangkau masyarakat luas.

Product Manager PT Etana Bisotechnologies Indonesia Lisia Margaret menyampaikan mengenai peran sektor swasta dalam edukasi dan pelayanan kesehatan ginjal. PT Etana sebagai mitra farmasi mengetahui secara baik kebutuhan informasi pasien-pasien gagal ginjal mengenai penyakitnya. Sehingga, PT Etana sering melakukan edukasi berkerja sama dengan dokter dan komunitas pasien kepada pasien gagal ginjal baik di Rumah Sakit atau di acara perhimpunan.

Baca juga : Dukung Penyediaan Energi Bersih IKN, PGN Siapkan Jargas Rumah Tangga

"Selain edukasi, upaya kolaborasi dilakukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ginjal. Di antaranya adalah kolaborasi uji klinis dengan Rumah Sakit dan universitas untuk menghasilkan produk dalam negeri yang berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan gagal ginjal," ucap Lisia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.