Dark/Light Mode

Cuaca Panas Melanda, BMKG Jelaskan Penyebabnya

Sabtu, 4 Mei 2024 13:26 WIB
Foto: BMKG
Foto: BMKG

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebagian wilayah di Indonesia seperti Jakarta dan sekitarnya mengalami peningkatan suhu yang signifikan sejak awal Mei 2024. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut peningkatan suhu tersebut dikarenakan adanya peralihan musim kemarau yang akan berlangsung hingga Agustus nanti. 

Deputi Bidang Meteorologi Guswanto, menjelaskan, pada bulan Mei ini, beberapa wilayah di Indonesia mulai memasuki awal musim kemarau. Sementara itu, wilayah lain masih berada dalam periode peralihan musim atau pancaroba.

 "Kondisi ini membuat fenomena suhu panas dan cuaca cerah di siang hari akan terus mendominasi di sebagian besar wilayah pada awal Mei 2024," kata Guswanto, dalam keterangan tertulis dikutip Sabtu (4/5/2024). 

Baca juga : Cuaca Jakarta Besok Sabtu 4 Mei 2024, Info BMKG: Ada Petir Dan Angin Kencang

Menurut data terbaru BMKG, beberapa wilayah di Indonesia mencatat suhu yang sangat tinggi, dengan nilai di atas 36°C. Wilayah-wilayah tersebut termasuk Deli Serdang di Sumatera Utara yang mencapai 37,1 °C, serta Medan, Kapuas Hulu, Sidoarjo, dan Bengkulu yang masing-masing mencatat suhu 36,6 °C.

Meski suhu sangat tinggi, Guswanto menyebut hal ini tidak berkaitan dengan fenomena gelombang panas yang terjadi di beberapa wilayah Asia sepekan terakhir. 

Guswanto menegaskan, kenaikan suhu di Indonesia adalah fenomena tahunan yang terjadi karena gerakan semu matahari dan kondisi cuaca yang cerah di siang hari.

Baca juga : Cegah Food Coma Saat Bekerja, Makan Siang Lebih Sehat

Dalam keterangannya, Guswanto menjelaskan lebih detail mengenai gelombang panas berdasarkan definisi dari World Meteorological Organization (WMO). Gelombang panas didefinisikan sebagai kondisi udara panas yang berkepanjangan, berlangsung selama lima hari berturut-turut atau lebih, dengan suhu maksimum harian yang melebihi rata-rata maksimum normal sebesar 5°C atau lebih. 

"Fenomena ini umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi, seperti di Eropa, Amerika, dan sebagian wilayah Asia," ungkapnya.

Dari sudut pandang meteorologi, gelombang panas dapat terjadi karena adanya udara panas yang terperangkap dekat permukaan bumi, disebabkan oleh anomali dinamika atmosfer yang membuat aliran udara tidak bergerak dalam skala yang luas. Contoh khasnya adalah terbentuknya sistem tekanan tinggi skala luas yang bertahan untuk waktu yang lama. Namun, kondisi atmosfer ini jarang terjadi di wilayah Indonesia yang berada di kawasan ekuator.

Baca juga : Jangan Biarkan Petani Menjerit

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik, Andri Ramdhani mengingatkan, meski wilayah lain mengalami cuaca panas, di sebagian wilayah lain masih ada potensi hujan lebat untuk minggu depan. Area yang berpotensi mengalami hujan intens termasuk sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan berbagai provinsi di Papua. 

Menurut Ramdhani, kondisi ini dipicu oleh aktivitas gelombang atmosfer seperti gelombang ekuatorial Rossby, gelombang Kelvin, Madden-Julian Oscillation (MJO), dan sirkulasi siklonik yang mempengaruhi terutama wilayah tengah dan timur Indonesia.

Mengingat potensi cuaca ekstrem, Ramdhani mengimbau masyarakat untuk tetap tenang tetapi waspada terhadap potensi bencana.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.