Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Mahasiswa Protes Kenaikan UKT
Netizen: Akan Lahir Useless Generation
Jumat, 10 Mei 2024 07:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Naiknya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di sejumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menuai beragam sorotan. Banyak pihak menyebut, kenaikan tersebut tidak pro pendidikan dan gelombang protes dari mahasiswa pun terus bermunculan.
Gelombang protes mahasiswa atas kenaikan biaya UKT terjadi di sejumlah PTN, dalam bentuk aksi demonstrasi. Salah satu kasus yang menyita perhatian publik, turunnya ratusan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, memprotes kenaikan UKT 2024, yang lebih dari 100 persen.
Ratusan mahasiswa itu datang dari sejumlah fakultas, menuntut penurunan UKT. Mereka juga membawa berbagai spanduk bernada protes, hingga poster bergambar wajah Rektor USU yang menggunakan kacamata uang dolar.
Mahasiswa USU menilai, kenaikan UKT tak diikuti dengan perbaikan fasilitas. Bahkan, mereka mengaku dipersulit oleh pihak kampus saat ingin menggunakan fasilitas di USU.
Kasus protes lain, terjadi di Universitas Negeri Riau (Unri). Seorang mahasiswa bernama Khariq Anhar memprotes ketentuan Iuran Pembangunan Institusi (IPI) dalam UKT yang harus dibayar mahasiswa Unri.
Dia berdemonstrasi dengan meletakkan jas almamater di depan kampus, seperti berjualan, Senin (4/4/2024). Khariq juga merekam aksi itu dalam bentuk video.
Baca juga : Senayan Minta KPPU Usut Tuntas
Dua pekan setelah aksi unjuk rasa, Khariq dilaporkan ke kepolisian. Dia dilaporkan oleh Rektor Unri, Sri Indarti, atas dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Laporan itu diterima Ditreskrimsus Polda Riau dengan nomor B/619/IV/2024.
Di Pulau Jawa, protes datang dari mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi atau DEMA FDIKOM UIN Syarif Hidayatullah, Najib Jayakarta menyatakan, kenaikan UKT di kampusnya bervariasi sekitar 30-50 persem.
“Jurusan saya (Kesejahteraan Sosial), salah satu yang mengalami kenaikan paling tinggi, di golongan tujuhnya. Tahun lalu sebesar Rp 5,3 juta, sekarang naik jadi Rp 8 juta. Kenaikan itu sangat drastis,” ujarnya.
Najib mengaku, pihaknya telah dihubungi Kepala Pusat Informasi dan Humas UIN Jakarta, Zaenal Muttaqin. Namun, proses dialog menyuarakan keberatan terhadap UKT urung teralisasi. “Kami ditarik ulur terus atau didiamkan. Bahkan, di lembar disposisi ada tulisan arsipkan dulu,” keluhnya.
Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) lebih beruntung. Pasca aksi protes kenaikan uang kuliah hingga lima kali lipat, Rektor Unsoed mencabut kebijakan kenaikan UKT.
Sebelum adanya pencabutan, Presiden BEM Unsoed, Maulana Ihsanul Huda menegaskan, biaya UKT yang dibebankan kepada mahasiswa melewati batas bahkan sangat memberatkan.
Baca juga : Awas, Penyakit TBC Seperti Kapal Selam
“Misalnya, jurusan Hubungan Internasional, sebelumnya hanya Rp 3 jutaan, bisa sampai Rp 13 juta. Kenaikannya sangat signifikan. Bahkan, Keperawatan Internasional, sampai Rp 52 juta,” jelasnya.
Anggota DPR dari Fraksi PAN, Guspardi Gaus mengaku memahami kegelisahan para mahasiswa dan para orangtua atas kenaikan UKT. Menurut dia, kenaikan UKT harusnya dilakukan secara bertahap, sertq dengan sosialiasi dan transparansi yang baik.
“Mestinya dilakulan bertahap, bukan secara mendadak. Saat ini, kondisi penghasilan rata-rata masyarakat Indonesia belum membaik, sehingga peningkatan UKT tidak logis dan tidak relevan,” tegas Guspardi di Jakarta, Kamis (9/5/2024).
Lebih lanjut, dia mendorong adanya evaluasi dan kajian terhadap otonomi dan mekanisme pendanaan PTN-BH. Utamanya, terkait otonomi pengelolaan pendanaan dan kebijakan, agar pendidikan tinggi di Indonesia yang berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) tetap terjangkau masyarakat luas.
Di media sosial X, kenaikan UKT juga mendapatkan sorotan dari netizen. “UKT nggak ada sejarahnya turun, naik terus. Ini akan menghapus minat lulusan SMA untuk lanjut kuliah. Tahun 2045 nanti, akan lahir Useless Generation yang nggak bisa ngapa-ngapain karena nggak punya otak, nggak punya skill, dan nggak punya pekerjaan karena diambil alih AI,” tulis akun @rajaonan.
Senada, akun @never_alonely juga menyoroti kenaikan UKT. Dia memahami maraknya aksi protes atas kenaikan tersebut, karena berdampak masif pada kehidupan ekonomi masyarakat. “UKT naiknya gede banget, gila! Dari Rp 9 juta, bisa naik puluhan juta. Ya pada protes lah,” tegasnya.
Baca juga : Di Final, Los Blancos Disambut Die Borussen
Akun @AbanggSayur menilai, naiknya UKT berpotensi membawa dunia perkuliahan, seperti era awal kemerdekaan. Menurut dia, para orang tua mahasiswa harus menjual harta bendanya, demi melihat anaknya lulus S-1. “Biaya kuliah mahal. UKT naik. Ujung-ujungnya jual tanah buat kuliah. Ok gas,” cetusnya.
Sementara itu, akun @bellaViztaa menyatakan, dia memutuskan masuk ke kampus negeri dengan harapan, membantu meringankan beban orang tuanya terkait biaya pendidikan.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Jumat, 10 Mei 2024 dengan judul Mahasiswa Protes Kenaikan UKT, Netizen: Akan Lahir Useless Generation
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya