Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Keputusan Nahdlatul Ulama (NU) terjun dalam pengelolaan usaha tambang, menuai kritikan. Bahkan, logo dan nama NU diplesetkan menjadi Ulama Nambang (UN). Warga NU pun diminta tak terprovokasi oleh parodi tersebut.
Pengamatan Rakyat Merdeka di media sosial X, logo NU yang diplesetkan memiliki latar belakang warna merah. Kemudian, bintang-bintang yang khas ada dalam logo tersebut disematkan akronim mata uang rupiah (Rp).
Selain perubahan latar belakang dan penyematan akronim Rp, gambar bola dunia yang ada dalam logo NU juga diganti dengan gambar eskavator. Huruf NU di logo tersebut juga diubah menjadi UN dengan kepanjangan Ulama Nambang.
Bendahara Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Sumantri Suwarno menegaskan, tindakan netizen mengolok-olok logo NU sudah kelewatan. Sebab, logo tersebut merupakan hasil olah pikir para kiai dan kebanggaan jutaan warga NU.
Baca juga : Banteng Banten Masih Nunggu Restu Megawati
“Dalam bendera NU, warga negara juga jadi bagian dari penjaga Indonesia hingga hari ini. Kebencianmu jika ada, bisa salah alamat. Kritik gagasan dan keputusan PBNU, jangan ditabrak di luar itu,” ujar Sumantri melalui keterangan tertulisnya, Selasa (18/6/2024).
Selama ini, kata dia, sumbangsih NU kepada bangsa daa negara sangat besar. Salah satu contoh kecilnya, NU memiliki puluhan ribu pesantren yang digerakkan ribuan kiai, memberikan pendidikan kepada siapa pun yang ingin belajar agama dan kehidupan di pesantren, sebelum lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Melihat sejarah itu, tidak pas jika mengolok-olok NU. Apakah kamu merasa sumbangsihmu lebih besar?” cetusnya.
Sumantri mengaku tidak pernah merasa pantas untuk menghina oreganisasi manapun, terlebih organisasi yang turut berjuang dalam upaya kemerdekaan Indonesia.
Baca juga : Senayan Minta Revisi Aturan Impor Barang
“Saya tidak pernah merasa pantas menghina NU dan Muhammadiyah. Jejak dan kerja kedua organisasi ini terlalu besar untuk dijadikan olok-olok oleh orang yang bahkan belum pernah mendirikan sekolah satu kelas pun,” tandasnya.
Sementara, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Yuliot Tanjung menyatakan, kelengkapan administrasi dan pemenuhan kewajiban PBNU terkait tambang masih dievaluasi.
Pihaknya akan mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), setelah evaluasi tersebut selesai dilakukan.
“Setelah terpenuhi, IUPK akan diterbitkan 15 hari kemudian,” ujar Yuliot.
Baca juga : Duh, Oknum Pengembangan Sewakan Fasos Dan Fasum
Dia mengatakan, pihaknya belum menerima permohonan izin mengelola tambang dari badan usaha ormas keagamaan lain. “Baru PBNU yang mengajukan ke pemerintah,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya