Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Di SMA, Sony bukan siswa berprestasi. Sikapnya sering masa bodoh, dan tak punya konsep tentang masa depan. Tapi, Sony berubah, setelah masuk pendidikan militer.
“Saya tidak secerdas yang dibayangkan banyak orang. Saya juga tidak sehebat yang teman-teman pikirkan. Barangkali, saya hanya berjuang sedikit lebih keras dan mengorbankan waktu bermain demi untuk mengejar ketertinggalan saya. Agar bisa sama dengan teman-teman lain yang jauh lebih hebat, lebih pintar dan lebih segala-galanya,” katanya.
Pelajaran ini dia dapat dari ibunya. Dia melihat ibunya selalu bangun lebih awal, dan pulang kerja paling akhir.
Pagi, saat orang masih tidur, ibunya sudah memulai hari dengan berdoa. Sore, ketika yang lain berangsur meninggalkan warung, ibunya masih di sana sampai larut malam, membuat kripik tempe.

Baca juga : Bali United Siap Ikut Laga Pramusim Piala Presiden
Bagi Sony, Ibu adalah malaikatnya. Sepanjang hidup, dia menyaksikan Ibunya hampir tak pernah melewatkan shalat tahajud di sepertiga malam.
Entah pengorbanan apa yang telah dilakukan Ibu, hingga dia bisa berada di posisi sekarang.
“Dulu, saya hanya keliling kampung dengan sepeda sambil membawa dagangan keripik tempe Ibu. Hari ini, ikut keliling dari kampung ke kampung dengan Mercy dan pesawat Kepresidenan,” tulis Sony di halaman 136.
Kini, setelah bertugas di lingkaran Presiden, ada istilah dari Ibu-nya yang selalu dia ingat: nunut mulyo (secara harfiah artinya, numpang mulia).
Karena nunut mulyo, maka tetaplah bersikap rendah hati, tidak arogan.
Baca juga : Siasat untuk Menang Pilkada
Karena sejatinya, bukan saya yang mereka hormati, tetapi jabatan saya, posisi saya, tugas saya dan bos saya. Jangan terlalu bangga dengan penghormatan yang mereka berikan. Sejatinya, yang mereka hormati adalah seragam dan pangkat yang melekat. Begitu kata Sony.
Sepotong perjalanan hidup Sony yang ditulis dalam buku ini, sangat inspiratif. Presiden Jokowi pun sangat terkesan dengan ajudannya ini.
“Sangat disiplin, pekerja keras, dan selalu optimis. Karakter yang tidak mudah ditaklukkan oleh masalah. Setiap kesulitan dan tantangan yang dialami dalam perjalanan hidupnya, menempa jadi pribadi yang semakin kuat dan tangguh,” tulis Presiden dalam pengantarnya.

Baca juga : Mulai Muncul Wacana Presiden Dipilih MPR
Buku Jatuh untuk Melaju tidak tebal. Ukurannya mungil. Cukup singkat dan enak dibaca sambil minum secangkir kopi sore hari. Kisahnya runut, cara menulisnya apik. Sangat mengalir dan renyah.
Sayang, tak ada gambar atau foto di dalam buku ini. Rasanya penasaran, ingin tahu bagaimana rumah Simbah, warung Simbah dan juga kamar 2x3 meter, tempat Mat Sony belajar sambil tengkurap.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya