Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pakar Optimistis, Makan Bergizi Gratis Momentum Perbaiki Gizi Anak Indonesia
Rabu, 10 Juli 2024 16:46 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pakar Kesehatan Masyarakat Indonesia Hermawan Saputra sepakat dengan ekonom yang sekaligus advokat SDGs di bawah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Jeffrey Sachs yang mengatakan program makan bergizi gratis merupakan bentuk investasi sekaligus cara yang efektif bagi negara untuk memperbaiki nutrisi masyarakatnya.
Hermawan optimis program makan siang gratis yang kini berganti nama menjadi makan bergizi gratis di pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka menjadi investasi penting dan efektif untuk perbaikan gizi.
Menurutnya, hal ini bisa menjadi momentum yang baik apabila program makan bergizi gratis ini benar-benar dikawal dengan baik, dipercaya akan membawa Indonesia mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.
“Efektif apabila dikawal oleh pakar kesehatan masyarakat apabila dikawal oleh praktisi gizi kesehatan, artinya makanya ini kan harus bergeser daripada kampanye makan siang gratis menjadi makan bergizi gratis nah ide makan bergizi ini yang harus betul-betul memperbaiki nutrisi,” ujar Hermawan, Rabu (10/7/2024).
Hermawan yang juga ketua umum PP Ikatan Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) ini mengatakan harus ada intervensi pemerintah yang tepat untuk memperbaiki gizi agar anak-anak dan remaja Indonesia ke depan memiliki kognisi, inteligensi dan daya tahan tubuh yang prima.
“Jadi kita akan memiliki cita-cita Indonesia emas 2045 jadi kalau kita berusaha betul-betul melakukan intervensi spesifik dengan tepat di saat usia anak dan remaja, maka 21 tahun ke depan itu akan berpengaruh terutama berdampak kepada aspek kognisi, daya nalar, daya pikir inteligensia, aspek daya tahan tubuh dan kondisi fisik dan aspek tumbuh kembang itu sendiri menjadikan bentuk-bentuk intervensi,” ucapnya.
Melalui program ini juga Hermawan berharap dapat menjadi pintu masuk untuk pengendalian konsumsi berlebih terhadap gula, garam dan juga lemak yang mengakibatkan risiko penyakit.
Baca juga : Pakar Pastikan Program Makan Bergizi Bakal Efektif Cegah Stunting
Pasalnya, Indonesia menjadi negara dengan tingkat diabetes tertinggi di ASEAN.
“Program ini juga bisa menjadi pintu masuk untuk kampanye pengendalian konsumsi berlebih untuk gula, garam dan lemak. Negara kita adalah negara dengan kadar diabetes atau kadar gula tertinggi di ASEAN dan terbesar keempat di dunia,” paparnya.
“Nah ini harus kita kendalikan risiko penyakit tidak menular sekarang kan masalah BPJS, pelayanan rumah sakit tinggi itu semua karena penyakit tidak menular dan itu sumbernya dari makanan,” imbuhnya.
Hermawan meminta supaya program makan bergizi ini tidak sekadar proyek, tidak memperhatikan dengan detail menu makanan dan tumbuh kembang para penerima makan bergizi.
“Program ini yang paling pokok libatkan para ahli kesehatan masyarakat dan para ahli gizi kesehatan, jangan sampai hanya sekedar kasih makan semacam proyek-proyekan, terus tidak dievaluasi tidak dipantau tumbuh kembang. Perkembangan kognisi dan immunity jangan sampai ini menjadi sia-sia,” tegasnya.
“Momentum perbaikan gizi tetapi sekaligus pengendalian penyakit-penyakit lain di Indonesia memang banyak pengaruhnya asal tadi pelibatan tepat sasaran,” sambungnya.
Hermawan mengatakan, pemerintah ke depan perlu juga membentuk suatu badan atau lembaga khusus yang menangani program makan bergizi tersebut, agar program prioritas dari Prabowo-Gibran ini memiliki dampak yang signifikan.
Baca juga : Rangkaian HUT Ke-78, BNI Bantu Pencapaian Target NZE Indonesia
“Makanya kalau ada pembentukan badan gizi atau institusi yang menangani itu bagus, asal ada pelibatan teknokrasi seperti ahli kesehatan masyarakat dan gizi kesehatan supaya betul-betul tidak mubazir,” katanya.
Selain itu, Hermawan juga menyampaikan perlu juga adanya penyuluhan kepada keluarga siswa agar dapat menyajikan makanan yang bergizi di rumah.
Namun hal itu perlu didorong dengan menjaga kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Edukasi yang paling baik sebenarnya edukasi kepada orang tua jadi bagaimanapun program gizi gratis ini stimulan, yang penting itu kan di rumah tangga. Jadi kondisi ekonomi yang baik, daya beli baik kemudian pola menu yang baik, kemudian pengetahuan orang tua untuk menyajikan makanan dan juga gizi yang baik buat anak yang mengandung gizi seimbang nah itu yang paling pokok,” jelasnya.
Program ini hanyalah satu dari rangkaian intervensi kolaboratif untuk perbaikan gizi masyarakat secara keseluruhan.
"Nah momentum ini adalah penyuluhan untuk perubahan perilaku terutama penyajian menu dan pola makan yang betul-betul terbaik termasuk menghindarkan dan meminimalisir kandungan garam, gula dan lemak yang akan menghilangkan risiko penyakit masyarakat,” tutupnya.
Sebelumnya, ekonom yang sekaligus advokat SDGs di bawah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Jeffrey Sachs saat mengisi seminar publik bertajuk “Building a Sustainable Future Through Lifelong Learning and Skill Development” yang diselenggarakan Prakerja, United in Diversity Foundation (UID) dan The Sustainable Development Solutions Network (SDSN) menyampaikan program makan bergizi gratis merupakan bentuk investasi sekaligus cara yang efektif bagi negara untuk memperbaiki nutrisi masyarakat.
Baca juga : Gaet Namirah Logistic, Lazada Permudah Akses Layanan Hingga Ke Pelosok Indonesia
“Program ini adalah ide yang sangat baik dan program perbaikan nutrisi yang efektif yang dilakukan oleh negara. Dijalankan mulai dari usia dini dan bekerja sama dengan program makan sekolah,” kata Sachs.
Meskipun Sachs mengakui bahwa program makan bergizi gratis tidaklah murah, tetapi jika dilaksanakan dengan baik maka hal tersebut akan menjadi investasi dengan dampak yang signifikan.
Sachs kemudian menjelaskan sejumlah dampak serta manfaat yang dapat diperoleh melalui program ini, khususnya bagi anak-anak, ibu hamil, hingga peningkatakan kualitas pendidikan di Indonesia.
Program ini, kata Sachs, memberi kesempatan bagi anak-anak dan ibu hamil untuk memperoleh asupan makanan bergizi secara teratur.
Dengan demikan, mereka dapat terhindar dari stunting serta kekurangan gizi, yang dikhawatirkan berdampak pada perkembangan gizi serta mental.
“Kedua, mendukung proses belajar mengajar dan mencetak tenaga kerja berkualitas di masa depan,” sambungnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya