Dark/Light Mode

Catatan Hadis Turmudi, Penulis Buku Pedesaan

Gotong Royong Roh Pancasila

Sabtu, 17 Agustus 2024 13:50 WIB
Catatan Hadis Turmudi, Penulis Buku Pedesaan Gotong Royong Roh Pancasila

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia adalah salah satu bangsa yang amat disegani dunia. Alasannya, budaya gotong royong. Tradisi ikonis itu hampir tidak dimiliki bangsa lain. Wajar saja, karena gotong royong tumbuh dan berkembang dari pedesaan. Lebih dari 80 ribu desa dengan berbagai corak dan kekhasan disatukan oleh semangat gotong royong. Tidak pula heran, Pemerintah menyasar pedesaan sebagai program prioritas demi suksesnya pembangunan nasional. 

Sejatinya, nenek moyang bangsa Indonesia terbentuk dari kelompok-kelompok masyarakat/desa. Berdasarkan geneologis (ikatan keturunan) dari hubungan kekeluargaan dan keturunan yang sama. Semua berjalan dengan sistem paguyuban dan kebersamaan dalam kesehariannya. 

Kemudian, berdasarkan etnologis (ikatan kesukuan). Ditandai dari semua penduduk pedesaan di Indonesia, yang secara primordial sudah memiliki loyalitas etnik terhadap suku bangsanya masing-masing. Komunitas pedesaan di Indonesia, biasanya dihuni satu suku bangsa. Jika ada yang lain, akan menjadi minoritas dan ikut yang mayoritas. Oleh karenanya, jarang terjadi konflik antar suku bangsa di pedesaan.  

Tolong Menolong

Budaya gotong royong masyarakat Indonesia secara umum terbagi ke dalam dua hal, yakni tolong menolong dan kerja bakti. Tolong menolong biasanya pada aspek pertanian, rumah tangga, pesta, perayaan, dan peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan kerja bakti, untuk mengerjakan kepentingan umum. Dalam kelompok masyarakat, mereka saling membantu hingga menjadi tradisi dan budaya yang turun temurun. Pada dasarnya masyarakat menyandarkan pada kekuatan kebersamaan (collective collegial).

Baca juga : Merindukan Karya Dan Pancasila

 Pada 1980-an, prinsip tolong menolong dan gotong royong masih banyak dijalankan di desa-desa dengan dasar timbal balik, misalnya dalam hal bertani maupun membuat rumah. Pada masa 1990-an, prinsip gotong royong ini masih berlaku, namun hanya untuk batas waktu tertentu, biasanya satu atau dua hari saja. Namun pada masa sekarang, seiring banyaknya penduduk yang bekerja di luar pedesaan, budaya gotong royong dan tolong menolong ini sudah jarang ditemukan. Faktor individualisme yang berbasis ekonomis mulai terpapar pada individu warga. 

 Pengaruh budaya Barat di Indonesia pun merongrong. Sikap tolong menolong minim, berkembang intoleransi, hedonisme, yang berdampak kurangnya rasa kebersamaan. Bikin cemas, terhempasnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan dalam masyarakat. Padahal gotong royong menentukan keberhasilan pembangunan bangsa.

BPIP Jaga Roh Pancasila

Bangsa Indonesia mampu merebut kemerdekaan karena jiwa gotong royong. Para pendiri bangsa, bersama seluruh elemen bangsa dengan sukarela mengorbankan segalanya demi kebebasan dari cengkeraman imperialisme. 

Tidak berlebihan kiranya, gotong royong menjadi roh dari ideologi bangsa kita, Pancasila. Gotong royong mampu mengaktualisasi kelima sila dalam Pancasila. Sila pertama misalnya, setiap aktivitas ketuhanan harus mengakomodasi nilai-nilai budaya lokal serta mampu membina toleransi antar umat beragama. 

Baca juga : Lebaran Haji, Pramono Ajak Semua Pihak Berbagi & Bergotong Royong

 Hadirnya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) telah mampu memantapkan nilai-nilai kandungan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui BPIP, diharapkan Pancasila tetap terjaga eksistensinya sehingga nilai gotong royong tidak luntur oleh waktu dan kondisi.   

Pada dasarnya ada beberapa kandungan roh dalam gotong royong. Antara lain, nilai persatuan dan kesatuan, prinsip berat sama dipikul ringan sama dijinjing, dan sikap rela berkorban. 

Nampaknya momen Agustusan ini sangat bagus untuk menghidupkan serta menjaga roh dan jiwa gotong royong. Orang kaya-miskin, tua-muda, laki-perempuan, semua ikut lomba, karnaval, dan sebagainya. 

Peran Pemimpin 

Peran pemimpin kelompok masyarakat juga penting. Mulai dari Pak RT/RW sampai Presiden. Berapapun besar dana pembangunan, tanpa adanya pemimpin yang paham gotong royong, niscaya akan terbuang sia-sia. Pemimpin harus menjaga keteladanan, memberikan reward kepada warga yang berkontribusi, selalu hadir, serta minim kata-banyak kerja. 

Baca juga : Kebebasan Pers Berdasarkan Pancasila

Dirgahayu bangsaku. Jayalah negeriku. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

*Penulis adalah penulis buku masalah pedesaan dan dosen STMIK AMIKOM Surakarta 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.