Dark/Light Mode

Revisi Kebijakan Energi Nasional Perlu Secepatnya Disahkan

Sabtu, 24 Agustus 2024 10:31 WIB
Feiral Rizky Batubara saat gerakan Anak Muda Amankan Nusantara (AMAN) menanam 10 ribu pohon mangrove di sejumlah wilayah pada 2024, sebagai upaya mendukung Pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca. [Foto: DOK]
Feiral Rizky Batubara saat gerakan Anak Muda Amankan Nusantara (AMAN) menanam 10 ribu pohon mangrove di sejumlah wilayah pada 2024, sebagai upaya mendukung Pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca. [Foto: DOK]

RM.id  Rakyat Merdeka - Saat ini, target bauran energi berdasarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) 2025 sulit tercapai, karena sumber energi fosil masih mendominasi. Revisi KEN yang baru perlu segera disahkan.

Feiral Rizky Batubara, praktisi Investasi & Pemerhati Ketahanan Energi menyatakan, sumber energi fosil adalah sumber energi yang paling populer digunakan pada seratusan tahun terakhir. Kedepan, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) akan menggantikan dominasi energi fosil. Namun, hal ini perlu Kebijakan Energi Nasional yang pro kepada transisi energi agar dapat terlaksana.

Baca juga : Konsolidasi Perbankan Genjot Pertumbuhan Ekonomi Syariah

"Sulit tercapainya target KEN tahun depan. Perlu disahkan Kebijakan Energi terbaru, secepatnya," kata Feiral, di Jakarta, Jumat (23/08/24).

Feiral Rizky Batubara [Foto: DOK]

Saat ini, tambahnya, pembangkit listrik di dunia sudah mulai bertransisi ke energi terbarukan. Meskipun secara mayoritas masih disumbang oleh energi fosil, karena sekitar 35,7 persen disumbang oleh batu bara, sekitar 25 persen oleh gas alam dan fosil lain.

Baca juga : Tips Mewaspadai Kejahatan Seksual di Ruangan Digital

Baru sisanya, sumber energi sudah mulai ditopang oleh energi terbarukan, antara lain air, diikuti dengan nuklir, angin, matahari, bio energi, dan lainnya. "Tapi, sampai kapan kita mau membiarkan implementasi transisi energi ke EBT tarik ulur seperti sekarang ini?” ujar alumni School of Business and Management ITB ini.

Padahal, menengok ke beberapa negara tetangga lain, lanjutnya, ada Jepang, yang telah mengimplementasikan Honeycomb wind lense turbine, lalu China, dengan artificial sun nuclear fusion reactor. Kemudian Malaysia, dengan solar project Mudajaya. Juga Thailand, dengan powerhouse of Srinagarind hydropower plant & Kwai Yai river-nya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.