Dark/Light Mode

Revisi Kebijakan Energi Nasional Perlu Secepatnya Disahkan

Sabtu, 24 Agustus 2024 10:31 WIB
Feiral Rizky Batubara saat gerakan Anak Muda Amankan Nusantara (AMAN) menanam 10 ribu pohon mangrove di sejumlah wilayah pada 2024, sebagai upaya mendukung Pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca. [Foto: DOK]
Feiral Rizky Batubara saat gerakan Anak Muda Amankan Nusantara (AMAN) menanam 10 ribu pohon mangrove di sejumlah wilayah pada 2024, sebagai upaya mendukung Pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca. [Foto: DOK]

 Sebelumnya 
Feiral mengingatkan, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, telah menyatakan, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Suralaya di Cilegon, Banten akan ditutup. Maka, perlu ada pembangkit listrik dari EBT yang masif dan berkapasitas besar. Karena hal ini, menurutnya, akan mengakibatkan terganggunya sendi ekonomi, pertahanan, keamanan dan hingga sendi-sendi peradaban.

Alumni Program International Executive Master of Management (IEMM) Universitas Pelita Harapan (UPH) juga menyebut, sumber EBT yang dirasakan mampu berdaya besar adalah geothermal, air dan nuklir. Karena geothermal dan air, lokasinya jauh dari pengguna, intermiten, dan tergantung kondisi alam.

Baca juga : Konsolidasi Perbankan Genjot Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Dia pun menyarankan, sebaiknya Pemerintah tidak menjadikan nuklir sebagai energi terakhir. “Karena sumber energi ini menghasilkan energi yang murah, bersih dan kontinyuitasnya tinggi," jelas pria berkaca mata ini.

Dewan Pembina Komunitas Anak Muda Amankan Indonesia (AMAN) ini menegaskan, perubahan harus dimulai sekarang, dengan menghadapi risiko kegagalan, keuntungan finansial yang relatif lebih sedikit untuk saat ini. “Guna meraih tujuan yang jauh lebih besar, serta bermanfaat untuk jangka panjang, untuk anak cucu kita,” ujarnya.

Baca juga : Tips Mewaspadai Kejahatan Seksual di Ruangan Digital

Feiral juga mengingatkan, penerbitan greenbond serta transaksi di bursa karbon, menjadi salah satu mekanisme yang dapat merangsang geliat green economy.

"Tentu, kebijakan-kebijakan pendukung dari Pemerintah, tetap akan selalu dibutuhkan, sebagai landasan yang akan sangat efektif dalam mensimulasi pergerakan ekonomi serta permodalan ke arah yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan," pungkasnya. (*)

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.