Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kedaulatan Islam Tak Diukur dari Politik, Tapi Cara Laksanakan Ajaran Agama dengan Hikmah
Rabu, 16 Oktober 2024 22:48 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sebagian orang meyakini bahwa kedaulatan Islam bisa dicapai jika bingkai perpolitikan yang digunakan berdasarkan syariat Islam. Padahal, kedaulatan Islam sejati tidak diukur dari sistem politik tertentu, tetapi dari bagaimana umat Muslim dapat menjalankan ajaran agama dengan hikmah, memahami budaya lokal, dan memberikan kontribusi nyata di masyarakat.
Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI) Ngatawi Al-Zastrouw menggarisbawahi pentingnya memahami Islam secara tepat. Umat Islam harus memahami tradisi dan nilai-nilai lokalitas atau budaya Indonesia, sehingga bisa membedakan mana hal yang relevan atau tidak, sesuai dengan ajaran Islam.
“Sebaliknya, kita harus mempelajari ajaran-ajaran Islam itu sesuai ilmunya. Kalau tidak sesuai ilmunya, akan terjebak pada formalisasi simbol-simbol tanpa memahami substansi sebenarnya,” ujar Zastrouw, di Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Baca juga : Dekat Dengan Presiden Terpilih, RK: Urusan Anggaran Akan Lebih Mudah
Zastrouw mengatakan, mudahnya Islam masuk ke Nusantara adalah karena ulama-ulama yang menyebarkannya kala itu mampu memahami ajaran agama sesuai dengan visi, misi dan substansinya. Sehingga ketika diterapkan tidak bertabrakan dengan kultur-kultur yang ada di Tanah Air.
Ketua Dewan Pembina Yayasan Jejaring Dunia Santri ini menjelaskan, umat Islam sudah seharusnya memiliki kemampuan rekonstruksi terhadap tafsir ajaran Islam, sehingga mampu diamalkan di Indonesia tanpa bertabrakan dengan kultur setempat.
Jika seseorang memahami tradisi lokal dan substansi syariat Islam secara mendalam, lanjutnya, akan sampai pada kesimpulan bahwa akar budaya Nusantara banyak kesesuaian dengan nilai dan semangat yang ada pada ajaran Islam.
Baca juga : Kasus Pembubaran Diskusi di Kemang, Polisi Tetapkan 2 Tersangka
Sebagai umat beragama yang tinggal di Indonesia, Zastrouw mengerti pentingnya penempatan ajaran Islam dan budaya Nusantara sesuai dengan tempatnya. Di dalam diri masyarakat Indonesia jangan sampai ada perasaan lebih rendah dari bangsa lainnya, atau yang sering disebut sebagai inferiority complex, termasuk dalam beragama.
“Menurut saya, kiai-kiai di Indonesia justru lebih Islami dan mahir dalam memahami Islam, meskipun dia hanya pakai sarung, kopiah, atau pakaian kesehariannya. Melalui pemahaman keagamaan yang tepat dan related dengan tradisi-tradisi yang kita miliki, Islam lebih mudah diamalkan dan dipahami oleh seluruh suku dan bangsa di Nusantara,” ujarnya.
Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta ini mengungkapkan, perpolitikan hanya salah satu cara menghadirkan Islam. Justru kejayaan dunia Islam itu dikenal bukan dari sistem politik atau kenegaraannya, melainkan dari perkembangan sains dan teknologi hasil temuan para ulama di zaman dulu.
Baca juga : Haris Rusly: DPR Tak Anulir Putusan MK, Tapi Sinkronkan Aturan Terkait Pilkada
“Kita ingat ketika tokoh Islam seperti Al-Khawarizmi, Ar-Razi, Ibnu Batuta, Al Idrisi, dan lain sebagainya mampu menemukan teknologi, mulai teknologi optik, teknologi kimia, teknologi ilmu sains matematika. Di situ Islam berkembang melalui pengetahuan dan peradaban, hingga didirikannya Baitul Hikmah sebagai pusat literatur di masa Dinasti Abbasiyah,” terang Zastrouw.
Kejayaan Islam di masanya yang relatif lama, menurut Zastrouw, tidak bisa dilihat hanya dari aspek politik semata, apalagi politik praktis. Kebesaran Islam yang berusaha dikurung dalam wadah politik praktis hanya akan menimbulkan kekecewaan di banyak pihak. Mulai dari fitnah, caci-maki, hingga kebusukan intrik politik praktis tidak serta-merta hilang hanya dengan memasukkan syariat Islam ke dalam sistem politik.
Sejarah akan kejayaan Islam yang banyak berasal dari pengembangan sains membuat Zastrouw berkesimpulan bahwa untuk mewujudkannya kembali, umat Islam harus peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya