Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di Konferensi Kebijakan Politik Luar Negeri Terbesar Dunia
Dino Berharap Presiden dan Menlu Bisa Hadir
Sabtu, 23 November 2024 08:31 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) siap menggelar Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP), konferensi kebijakan politik luar negeri terbesar di dunia, di Jakarta, Sabtu, 30 November 2024. Acara tahunan ini akan dihadiri 11 ribu peserta yang sebagian besar berasal dari kalangan anak muda. Founder FPCI Dino Patti Djalal berharap, Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono dapat hadir dalam konferensi bergengsi ini.
"Ini kesempatan baik bagi Pak Prabowo sebagai pemimpin yang sangat internasionalis untuk bertemu dengan komunitas yang antusias mendengarkan update dan perkembangan dunia internasional," kata Dino, saat menjadi narasumber podcast Rakyat Merdeka, di Gedung Graha Pena, Jakarta Selatan, Jumat (22/11/2024).
Dino tiba di ruang redaksi Rakyat Merdeka sekitar pukul 3 sore. Mantan Wakil Menteri Luar Negeri ini tampil rapi, mengenakan kemeja lengan panjang warna hijau muda. Dino disambut Dewan Kebijakan Redaksi Supratman, Wakil Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Kartika Sari, Pemimpin Redaksi RM Digital Firsty Hestyarini, Kepala Redaktur Eksekutif Rakyat Merdeka, Muhammad Rusmadi, dan tim redaksi.
Setelah bertukar sapa, Dino masuk ke studio podcast. Acara dipandu Rusma dan Hesty. Keduanya membawakan acara dalam suasana serius tapi santai.
Dalam podcast tersebut, Dino menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya, FPCI, akan menggelar hajatan besar bernama Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP). Ia menyebut, konferensi soal kebijakan luar negeri ini merupakan yang terbesar di dunia. Bahkan melampaui acara serupa yang ada di Amerika Serikat, China, Jepang, dan India.
Baca juga : Pilgub DKI Masih Sulit Ditebak Pemenangnya
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu mengungkapkan, banyak duta besar negara sahabat merasa heran bagaimana CIFP mampu menggelar konferensi internasional dengan jumlah peserta yang begitu besar. Mereka yang pernah menggelar konferensi serupa, paham tak mudah mendatangkan peserta dalam konferensi semacam ini. Bisa mengumpulkan 500 orang saja sudah bersyukur. Namun, di CIFP, peserta yang mendaftar sudah mencapai 10 ribu hingga 11 ribu.
"Jadi, ini adalah sebuah kebanggaan bagi kami. Ini membuktikan, anak muda kita, publik kita, sangat tertarik dengan dunia internasional. Ini modal dan aset semangat internasional yang sangat menggembirakan yang harus kita jaga," paparnya.
Jubir Presiden di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini menjelaskan, mayoritas peserta konferensi adalah anak muda, baik dari kalangan mahasiswa maupun profesional. Selain yang berlatar belakang hubungan internasional, banyak juga peserta dari bidang ekonomi internasional dan hukum internasional. Mereka yang datang pada umumnya adalah orang-orang yang ingin memahami perkembangan dunia sekaligus membangun koneksi.
Pasalnya, konferensi dihadiri berbagai tokoh penting, termasuk pengusaha asing, diplomat, duta besar, dan perwakilan think tank dari dalam maupun luar negeri.
"Selain itu, ada sesi khusus yang membahas peluang karier di dunia internasional," paparnya.
Apakah Presiden Prabowo akan hadir? Dino menjelaskan, pihaknya sudah menyampaikan undangan resmi kepada Presiden. Untuk memastikan undangan tersebut lebih menarik perhatian, pihaknya membuat video undangan inovatif dari para anak muda yang dilengkapi dengan undangan. Ia berharap, undangan tersebut bisa sampai ke Sekretaris Kabinet (Seskab) Mayor Teddy Indra Wijaya atau sampai juga ke Menlu Sugiono dan membantu menyampaikannya ke Prabowo.
Baca juga : Dipuji Di Dalam Negeri, Didukung Di Luar Negeri
"Ini bagian dari rayuan gombal agar Presiden Prabowo berkenan hadir," selorohnya.
Putra diplomat dan ahli hukum laut internasional Hasjim Djalal ini mengungkapkan, konferensi CIFP merupakan agenda tahunan yang sepenuhnya dikerjakan orang-orang Indonesia. Menghadirkan para tokoh ternama dan diplomat sebagai pembicara.
Selama memimpin FPCI, Dino telah mengundang banyak tokoh politik penting. Salah satu yang paling berkesan adalah saat berhasil menghadirkan Presiden Amerika Serikat ke-44, Barack Obama, dalam acara Kongres Diaspora ke-4 di Jakarta, 1 Juli 2017.
Kongres itu diselenggarakan FPCI bekerja sama dengan Dewan Kehormatan Indonesian Diaspora Network Global (IDNG). Saat itu, Dino menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan IDNG. Menurut Dino, momen tersebut menjadi penting karena itu merupakan pidato perdana Obama di Asia setelah tidak lagi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Awalnya, kenang Dino, banyak yang bilang, tidak mungkin bisa menghadirkan Obama. Karena bayarannya tinggi dan tak pernah bicara di Asia. Untungnya, Dino punya senjata pamungkas. Obama rupanya sudah berjanji kepada keluarganya untuk berlibur ke Bali dan Yogyakarta. "Akhirnya, tawaran kami diterima, dan untuk pidatonya, Obama bersedia memberikan potongan biaya," kenangnya.
Baca juga : Supratman Andi Agtas: Kami Dialog Dengan Ketua Umum Parpol
Dalam acara itu, lanjut Dino, Obama menyoroti masalah identitas dan kebhinekaan. Tema yang sangat tepat di tengah permasalahan krisis identitas saat itu. "Yang disampaikan Obama jadi headline selama dua minggu," ujarnya.
Dalam podcast tersebut, Dino juga mengungkapkan pentingnya mendorong pembentukan Badan Diaspora Indonesia. Badan yang khusus mengurusi diaspora Indonesia yang saat ini jumlahnya mencapai 6 juta orang. Lembaga ini diharapkan tidak hanya mengurusi soal ketenagakerjaan saja, tapi juga mengurusi masalah pendidikan, inovasi, kebudayaan, permodalan, kuliner hingga olahraga para diaspora.
"Tujuannya untuk memaksimalkan potensi diaspora agar bisa termobilisasi," ungkapnya.
Dino kemudian mengenang sahabatnya, Sehat Sutardja, seorang tokoh diaspora, mantan CEO Marvell Technology Group, yang meninggal dunia September lalu. Kata Dino, Sehat pernah menguasai industri semikonduktor dunia, dengan hak paten yang jumlahnya melebihi seluruh hak paten Indonesia. Kata Dino, Sehat adalah sosok yang sangat mencintai Indonesia, tapi memilih berinvestasi di Singapura karena merasa tidak dilayani dan tidak dirangkul dengan baik di Tanah Air.
"Ini contoh penting. Jika ada lembaga yang mengurusi hal-hal seperti ini, masalah tersebut bisa ditangani dengan lebih baik," pungkasnya. BCG/LDU
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya