Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Petani Banyuasin Tetap Bersyukur Meski Harga Gabah Belum Sesuai HPP
Selasa, 4 Februari 2025 16:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Memasuki musim panen, petani di Desa Telang Sari, Kecamatan Tanjung Lago, Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuasin, mengapresiasi serapan gabah oleh Bulog meski harga jual belum sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) di lapangan.
Dwi Suprapto, salah satu petani setempat, mengaku lega meski 10 ton gabah keringnya hanya dibeli seharga Rp 6.200 per kg, masih di bawah HPP terbaru Rp 6.500 per kg.
“Alhamdulillah, hasil panen tetap memberi keuntungan, meski belum sesuai ekspektasi. Harapannya, ke depan ada kepastian harga sesuai aturan,” ujar Dwi di Banyuasin, Sumatera Selatan, Selasa (4/2/2025).
Baca juga : Pertamina Pastikan Tak Ada Kenaikan Harga LPG 3 Kg
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 14 Tahun 2025 yang telah dicabut, HPP gabah seharusnya mengacu pada Rp 6.500 per kg dengan toleransi kadar air dan hampa maksimal. Namun, realisasi di lapangan masih timpang.
Di Telang Sari, harga Rp 6.200 per kg dinilai lebih baik dibanding wilayah lain di Banyuasin yang hanya mencapai R p5.400 per kg. Kondisi ini memicu kekhawatiran petani, terutama di daerah dengan serapan pasar terbatas.
“Jika harga tak sesuai HPP, beban biaya produksi yang tinggi sulit tertutupi,” curhat petani 43 tahun ini.
Baca juga : Black Box Jeju Air Ternyata Berhenti Merekam Data 4 Menit Sebelum Terbakar
Desa Telang Sari, dengan luas sawah 771 hektare, mencatat produktivitas 7-9 ton per hektare berkat penerapan teknologi dan alat mesin pertanian (alsintan) modern. Namun, sebagai wilayah rawa, Banyuasin masih menghadapi tantangan optimalisasi lahan.
“Modernisasi saja tidak cukup tanpa kebijakan yang memastikan harga adil. Petani butuh kepastian agar semangat bertani tetap terjaga,” harap Dwi mewakili suara rekan-rekannya.
Harapannya, langkah konkret kehadiran pemerintah daerah dan pusat dapat memperkuat posisi tawar petani, menekan disparitas harga, dan membuka akses pasar yang lebih luas demi kedaulatan pangan berkelanjutan.
Baca juga : Taiwan Tolak Dikuasai China
Kepala Pusat BSIP Perkebunan Kuntoro Boga Andri menyatakan, Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi melalui program Optimalisasi Lahan Sawah (Oplah) untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di lahan rawa.
“Dukungan alsintan dan pendampingan penyuluh pertanian menjadi kunci efisiensi produksi,” tegas Kuntoro dalam kunjungan ke lokasi panen, Selasa (4/2/2025).
Kata Kuntoro, keberhasilan sektor pertanian memerlukan kolaborasi antara petani, penyuluh, Pemerintah, dan swasta. Penyuluh berperan vital dalam transfer teknologi, strategi tanam, hingga akses pasar. Sementara, kebijakan harga yang stabil diperlukan untuk menjamin kesejahteraan petani.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya