Dark/Light Mode

Waspada, Propaganda Segregatif dan Eksploitatif Berbungkus Ukhuwah Global

Selasa, 4 November 2025 17:06 WIB
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Dakwah wal Irsyad Prof. (H.C.) Muh. Suaib Tahir (Foto: Istimewa)
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Dakwah wal Irsyad Prof. (H.C.) Muh. Suaib Tahir (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kelompok teroris ISIS kembali menyerukan ajakan berjihad ke sejumlah negara yang tengah dilanda konflik, salah satunya Sudan. Dengan dalih ukhuwah atau persatuan global, ajakan itu disebar untuk merekrut pasukan baru secara cuma-cuma demi memperkuat posisi ISIS di medan perang.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Darud Dakwah wal Irsyad (PB DDI), Prof. (H.C.) Muh. Suaib Tahir, mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap propaganda semacam ini.

“ISIS dan jaringannya meyakini pentingnya global community. Bagi mereka, khilafah adalah bentuk persatuan global. Dulu khilafah memang mencakup beberapa wilayah seperti Afrika, Arab, dan Eropa. Mereka ingin umat Islam kini berada dalam satu sistem yang sama,” ujar Prof. Suaib, di Jakarta, Selasa (4/11/2025).

Ia menjelaskan, bagi ISIS dan kelompok sejenis, ide nasionalisme dianggap merusak “persaudaraan global” yang mereka kampanyekan. Menurut pandangan mereka, nasionalisme justru memecah belah umat Islam menjadi beberapa negara—seperti Muslim Indonesia, Muslim Arab Saudi, Muslim Malaysia, hingga Muslim Singapura.

Baca juga : Reshuffle Kabinet Peluang Perbaiki Tata Kelola Fiskal

“Bagi mereka, kondisi seperti ini tidak ideal. Semua harus disatukan lagi dalam satu sistem. Karena itu, mereka menganggap konflik di Sudan sebagai panggilan bagi umat Islam untuk bergabung dan berperang di sana,” tambah Prof. Suaib.

Namun, lanjutnya, siapa pun dari Indonesia yang tergiur dengan propaganda itu tidak akan menemukan “persatuan global” seperti yang dijanjikan. “Jangankan solidaritas, pimpinan tertinggi ISIS pun tidak ada yang berasal dari Asia. Orang Asia hanya dijadikan kombatan dan mudah digantikan ketika gugur,” ujarnya.

Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta ini menegaskan, dalam praktiknya, “persaudaraan global” itu sulit diwujudkan. “Mereka masih memandang orang Asia sebagai bawahan. Dalam ISIS pun, orang Indonesia tidak pernah ditempatkan di posisi strategis, hanya jadi kombatan di lapangan. Mereka diterima, tapi tetap dianggap pendatang,” ungkapnya.

Menurut Prof. Suaib, lemahnya solidaritas itu berakar dari tidak adanya konsensus kebangsaan yang menyatukan semua golongan. Akibatnya, institusi kenegaraan di banyak wilayah menjadi rapuh dan mudah terjebak konflik berkepanjangan hingga perang saudara.

Baca juga : Diplomat Muda Kemlu Tewas di Kosan Menteng, Kepala Terbungkus Lakban

Selain itu, fanatisme kesukuan tanpa diimbangi semangat kebangsaan yang kuat sering kali memicu perpecahan yang berujung pada penderitaan rakyat.

Bangga dengan Konsensus Kebangsaan Indonesia

Prof. Suaib menilai, rakyat Indonesia patut bersyukur karena sejak awal sudah memiliki konsensus kebangsaan yang kokoh, yaitu Empat Pilar Kebangsaan: Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

“Walaupun Indonesia punya banyak suku, mereka tidak saling mengasingkan. Konsensus kebangsaan yang kuat membuat integrasi antarsuku berjalan lancar tanpa hambatan berarti,” ujarnya.

Belajar dari konflik di Timur Tengah, Prof. Suaib mengingatkan generasi muda agar memperkokoh pemahaman terhadap Empat Pilar Kebangsaan sebagai fondasi utama menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca juga : Dampingi Presiden, Bahlil Jajaki Kerja Sama Eksploitasi Migas Bareng Rusia

“Generasi muda adalah modal utama sekaligus penentu masa depan bangsa. Tapi mereka juga bisa jadi ancaman kalau potensi besar itu tidak dimanfaatkan dengan benar. Karena itu, mereka harus memahami wawasan kebangsaan yang tertuang dalam Empat Pilar,” tegasnya.

Ia menambahkan, banyak negara lain tidak punya landasan kebangsaan sekuat Indonesia. “Negara yang tidak memahami identitas kebangsaannya akan mudah dipecah-belah. Tapi saya yakin, bangsa Indonesia tidak akan mudah diutak-atik,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.