Dark/Light Mode

Dari Jalur Transit Ke Pusat Kendali: Geostrategi RI Menuju Hub Maritim Dunia

Selasa, 23 Desember 2025 12:27 WIB
Deputi Bidang Administrasi Setjen DPD RI, pendiri dan peneliti senior NAISD Lalu Niqman Zahir. Foto: DPD RI
Deputi Bidang Administrasi Setjen DPD RI, pendiri dan peneliti senior NAISD Lalu Niqman Zahir. Foto: DPD RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Pergeseran jalur perdagangan dunia hari ini tidak dapat dilepaskan dari rivalitas kekuatan global. Perdagangan, pelabuhan, dan jalur laut tidak lagi semata urusan ekonomi, melainkan instrumen geopolitik.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan China, konflik kawasan, serta rapuhnya rantai pasok global telah memaksa negara-negara besar menata ulang pusat kendali perdagangannya. Dalam lanskap inilah Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis namun belum sepenuhnya menentukan.

Dunia bergerak menuju sistem perdagangan multicenter. Ketergantungan pada satu jalur atau satu kekuatan dominan dipandang berisiko.

Konflik di Laut Merah, perang Rusia–Ukraina, serta eskalasi rivalitas AS–China mempercepat pencarian jalur alternatif dan hub baru yang lebih aman serta dapat diprediksi.

Baca juga : Tanpa Medali Di SEA Games 2025: Proses Menuju Piala Dunia

Kawasan Indo-Pasifik pun menguat sebagai episentrum baru perdagangan global. Indonesia berada tepat di jantung episentrum tersebut. Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik yang merupakan dua pusat ekonomi dunia.

Namun hingga kini, Indonesia lebih berfungsi sebagai strategic passage ketimbang strategic controller. Arus kapal melintas, tetapi nilai tambah, konsolidasi logistik, dan pengambilan keputusan strategis masih berada di luar negeri.

Tiga Poros Kendali: Sabang, Batam, dan Bitung

Untuk keluar dari posisi ini, Indonesia memerlukan road map geostrategis yang jelas dan terukur. Pendekatan paling rasional adalah membangun tiga poros hub kendali perdagangan maritim dunia: Sabang di barat, Batam di tengah, dan Bitung di timur.

Baca juga : Gas Jadi Pilar Transisi, Tantangan Pasokan dan Infrastruktur Menguat

Batam berada di simpul Selat Malaka, jalur perdagangan tersibuk dunia. Kedekatannya dengan Singapura menjadikan Batam ideal sebagai pusat konsolidasi, manufaktur, dan logistik bernilai tambah.

Batam tidak harus menyaingi Singapura sebagai pusat transshipment murni, tetapi melengkapinya sebagai pusat produksi dan pengolahan yang menopang rantai pasok global.

Bitung menghadap langsung ke Pasifik dan jalur perdagangan Asia Timur–Amerika. Bitung berpotensi menjadi gerbang utama Indonesia ke Pasifik sekaligus pusat kendali perdagangan kawasan timur. Penguatan Bitung akan menggeser orientasi perdagangan Indonesia dari barat-sentris menjadi dua arah: Hindia dan Pasifik.

Sabang memiliki dimensi geostrategis yang paling strategis, terutama jika rencana pembangunan Terusan Kra di Thailand benar-benar diwujudkan. Kanal ini akan mengurangi ketergantungan pada Selat Malaka dan mengubah peta pelayaran dunia.

Baca juga : Kemenperin Siap Jadikan RI Pusat Industri Halal Dunia

Dalam skenario tersebut, Sabang berpotensi menjadi first port of call bagi kapal-kapal dari Samudra Hindia sebelum memasuki jalur Pasifik. Dengan posisi ini, Sabang dapat berkembang sebagai pusat kendali logistik laut dalam, energi, dan jasa maritim internasional.

Jika Terusan Kra terwujud, negara yang paling diuntungkan bukan hanya Thailand, melainkan negara yang mampu mengendalikan simpul awal dan akhir jalur baru tersebut. Sabang adalah aset strategis Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.