Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Toko Buku Steva menggelar festival akhir tahun berupa peluncuran dan bedah buku karya mantan reporter koran Rakyat Merdeka Jakarta, Fikrul Hanif Sufyan, pada 28 Desember 2025. Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan satu abad Muhammadiyah di Sumatra Barat, yang berawal dari Maninjau pada 14 November 1925.
Buku berjudul “Fort de Kock dan Depresi Ekonomi” yang diterbitkan UGM Press Yogyakarta tersebut dibedah oleh dua narasumber, yakni Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, serta Dr. Zaim Rais, MA, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Imam Bonjol Padang.
Buku ini mengulas secara khusus keberhasilan penyelenggaraan Kongres XIX Muhammadiyah di Fort de Kock (kini Bukittinggi) pada 1930. Kongres tersebut kerap diramalkan akan gagal karena digelar di luar Pulau Jawa dan berlangsung di tengah krisis ekonomi global atau Malaise. Namun, kongres justru tercatat sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah Muhammadiyah di Sumatra Barat.
Baca juga : Tutup 2025, Lombok Timur Catat PAD Tertinggi dan Serahkan 10.998 SK PPPK
Dalam pemaparannya, Fikrul Hanif menjelaskan bahwa Kongres XIX Muhammadiyah menjadi tonggak sejarah sebagai kongres pertama Muhammadiyah yang diselenggarakan di luar Jawa. “Kongres yang diperkirakan gagal justru menjadi catatan emas karena berhasil dilaksanakan di tengah badai krisis ekonomi,” ujarnya.
Menurut Gusti Asnan, kisah sukses kongres yang berlangsung pada 14–21 Maret 1930 itu merupakan contoh kuat penulisan sejarah berbasis peristiwa atau L’Evenement Historie. Model penulisan ini, kata dia, menempatkan sebuah peristiwa sebagai pintu masuk untuk membaca dinamika sosial, ekonomi, politik, dan budaya pada zamannya. Ia mengapresiasi pendekatan yang digunakan penulis dalam merekonstruksi peristiwa tersebut.
Bedah buku Fort de Kock dan Depresi Ekonomi di Toko Buku Steva Padang menghadirkan Prof Dr Phil. Gusti Asnan (kiri), Dr. Zaim Rais (kanan), dan mantan reporter koran Rakyat Merdeka Jakarta, Fikrul Hanif Sufyan (tengah). Sumber: Dimension Photography
Dalam artikelnya berjudul “Penulisan Sejarah Kongres Muhammadiyah XIX di Bukittinggi, Sebuah Model L’Evenement Historie”, Gusti Asnan menilai buku setebal 220 halaman ini tidak hanya merekam jalannya kongres, tetapi juga menggambarkan berbagai peristiwa lain yang terjadi di sekitarnya, baik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan kongres tersebut.
Baca juga : Rapimnas I Tegaskan Soliditas Golkar di Bawah Kepemimpinan Bahlil
Pandangan serupa disampaikan Zaim Rais. Ia menilai buku ini menghadirkan banyak informasi yang jarang dibahas dalam sejarah Muhammadiyah. Salah satunya adalah kehadiran Nyai Ahmad Dahlan di Bukittinggi serta peran aktif kalangan Aisyiyah yang mengangkat isu-isu perempuan, termasuk persoalan poligami. “Ini memberikan perspektif baru dan menarik untuk dibaca,” ujarnya.
Zaim juga menyoroti kecepatan gerak dan daya organisasi Muhammadiyah di masa awal. Menurutnya, hanya dalam hitungan bulan, Muhammadiyah Minangkabau yang saat itu baru berusia lima tahun mampu menyelenggarakan kongres berskala nasional. “Hal itu menunjukkan kekuatan jaringan dan militansi kader Muhammadiyah, bahkan di tengah depresi ekonomi,” kata Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatra Barat tersebut.
Melalui buku ini, Fikrul Hanif Sufyan mengajak pembaca menengok kembali Kongres XIX Muhammadiyah sebagai contoh keteguhan gerakan, solidaritas lintas kelompok, serta daya hidup organisasi dalam menghadapi situasi krisis.
Baca juga : Gerindra Jabar Larang Kadernya Berhura-hura
Festival akhir tahun tersebut juga dimeriahkan oleh penampilan The Qori Coustic, Dimension Photography, dan Siteba Berpuisi. Acara ini dihadiri akademisi dari Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, UIN Imam Bonjol Padang, Universitas Muhammadiyah Sumatra Barat, serta para pecinta sejarah.
Menutup kegiatan, Fikrul Hanif menyampaikan apresiasi kepada Toko Buku Steva dan UGM Press Yogyakarta atas terselenggaranya peluncuran dan bedah buku tersebut. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para peserta yang hadir dan berkontribusi dalam diskusi sejarah di penghujung tahun. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya