Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sebelumnya
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalsel, Syamsir Rahman menegaskan bahwa hilirisasi diarahkan untuk memperkuat manfaat ekonomi bagi petani. “Kita dorong agar hasil pertanian tidak berhenti di produksi, tetapi memberi nilai tambah bagi petani,” ujarnya.
Dia menambahkan, diversifikasi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. “Dengan diversifikasi, masyarakat punya lebih banyak pilihan pangan sekaligus peluang ekonomi yang lebih luas,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui pengembangan hilirisasi masih menghadapi tantangan, terutama pada skala produksi dan pasar. "Ke depan, penguatan hilirisasi harus diiringi pengembangan industri pengolahan agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” kata Syamsir.
Di tingkat akar rumput, lumbung pangan masyarakat kembali memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas. Fungsinya tidak hanya sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga sebagai instrumen pengendali harga dan cadangan pangan.
Baca juga : Kecelakaan KA Bekasi Timur, 13 Perjalanan Kereta Jarak Jauh Dibatalkan
Sepanjang 2025, pemerintah daerah merehabilitasi sejumlah lumbung pangan di sentra produksi seperti Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tapin, dan Tanah Laut.
Upaya ini meningkatkan kualitas gabah serta memperpanjang daya simpan sebagai cadangan pangan. Sebanyak 175 unit lumbung pangan yang tersebar di 13 kabupaten/kota kini diperkuat dengan sistem pengelolaan stok dan pemantauan distribusi. Skema ini memungkinkan respons cepat saat terjadi lonjakan harga atau gangguan pasokan.
“Lumbung pangan bukan sekadar tempat penyimpanan, tetapi cadangan strategis untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga,” ujar Syamsir.
Produksi padi Kalsel juga menunjukkan tren positif, mencapai sekitar 1,18 juta ton pada 2025 dan meningkat menjadi 1,3 juta ton pada 2026, bahkan di tengah kemarau. Hal ini mempertegas posisi Kalsel sebagai salah satu penopang swasembada pangan nasional.
Baca juga : Bahlil Ungkap Kendala Pengembangan LPG: Bahan Baku Terbatas
Penguatan ketahanan pangan juga dibarengi pengembangan komoditas baru seperti porang melalui program Porang Reborn. Pada 2026, komoditas ini dikembangkan di lahan seluas 127 hektare dengan partisipasi petani yang terus meningkat.
Kehadiran pabrik pengolahan di Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, memberikan kepastian pasar dengan harga jual berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu per kilogram. Syamsir menilai porang memiliki potensi besar sebagai sumber pendapatan baru bagi petani.
“Kita ingin masyarakat merasakan dampaknya, dari peningkatan pendapatan hingga kemudahan akses pasar, sehingga porang benar-benar menjadi peluang ekonomi baru di tingkat desa,” ucapnya.
Ke depan, penguatan ketahanan pangan Kalsel juga didorong melalui digitalisasi sistem. Portal Satu Data Pangan memungkinkan integrasi data produksi, harga, distribusi, hingga stok dalam satu sistem yang transparan dan mudah diakses.
Baca juga : DPR Happy, Ketahanan Energi Kita Diakui Dunia
Pendekatan ini mendukung pengambilan kebijakan yang lebih cepat dan akurat, sekaligus membuka ruang partisipasi publik dalam memantau kondisi pangan.
“Ke depan, kita ingin memastikan setiap kebijakan pangan benar-benar berbasis data dan berdampak di lapangan, bagi petani dan masyarakat. Ketahanan pangan harus menjadi sistem yang hidup, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman,” tutup Syamsir.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya