Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Negara Lain Dilanda Gempa Dan Suhu Panas, Kita Harus Selalu Waspada Bencana
Senin, 29 Juni 2026 07:50 WIB
Sebelumnya
BMKG mencatat sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah Indonesia memasuki puncak kemarau pada Juli. Angka itu meningkat menjadi 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen wilayah daratan pada Agustus.
Pada September, sekitar 169 ZOM atau 25,41 persen wilayah Indonesia diperkirakan masih mengalami puncak kemarau, terutama di Sumatera Selatan, Lampung, NTT, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Maluku hingga Papua Pegunungan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan musim kemarau sebenarnya sudah mulai berlangsung di berbagai daerah sejak akhir Mei. Hingga saat itu, sekitar 200 ZOM atau 11,83 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
BMKG memperkirakan El Nino bertahan hingga awal 2027 dengan peluang mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen.
Baca juga : Masih Saling Serang, Perdamaian AS-Iran Hanya Di Atas Kertas
"Namun dampaknya bagi Indonesia terutama akan terasa saat musim kemarau hingga pertengahan Oktober," ujar Ardhasena.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Albertus Sulaiman menilai peluang munculnya Godzilla El Nino atau El Nino berkategori sangat kuat relatif kecil tahun ini. Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah dan masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan.
"El Nino 2026 diperkirakan tidak mencapai tingkat ekstrem. Namun kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan di bawah rata-rata klimatologis," jelas Albertus.
Sementara itu, Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy memastikan, stok pangan nasional dalam kondisi aman menghadapi potensi kemarau panjang. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) yang tersebar di seluruh provinsi dan kabupaten/kota.
Baca juga : Segera Limpahkan Berkas, KPK Pantau Kesehatan Yaqut Di Rumah Sakit Polri
"Kita sudah mengantisipasi daerahdaerah yang defisit, baik dari sisi produksi maupun stok pangan," ujarnya.
Bapanas mencatat stok Cadangan Beras Pemerintah di Perum Bulog kini telah melampaui 5 juta ton. Hingga 26 Juni 2026, Bulog telah menyerap sekitar 3,2 juta ton beras hasil panen petani.
Berdasarkan proyeksi neraca pangan, produksi beras semester pertama 2026 diperkirakan mencapai 19,2 juta ton, lebih tinggi dibanding kebutuhan konsumsi nasional sebesar 15,4 juta ton. Artinya, terdapat surplus sekitar 3,7 juta ton.
Ketua LPBI PBNU Tubagus Ace Hasan Syadzili juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dan potensi bencana hidrometeorologi. "Kita semua harus memperkuat upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana dengan melibatkan seluruh potensi yang ada di masyarakat," ujarnya.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Ajak Semua Pemangku Kebijakan Berdiskusi
Menurut Ace, perubahan iklim tidak hanya meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan, tetapi juga dapat mengganggu produksi pertanian serta mengancam ketahanan pangan nasional.
"Ini akan berdampak terhadap ketersediaan pangan karena memengaruhi masa tanam dan berpotensi menurunkan hasil produksi pertanian," pungkas Gubernur Lemhanas RI ini. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya