Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Timnas Putri U-17: Dari Clairefontaine Prancis hingga Panggung Internasional
- KPK Ungkap Rektor Unsoed di-OTT di Jakarta
- Kasus Bappenda Kabupaten Bogor, KPK Sita Duit Rp 1,5 M
- KPK Usut Dugaan Pemotongan Upah Pungut di Bappenda Kabupaten Bogor
- KPK: Calon Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed Dimintai Ratusan Juta Rupiah
Pemerintah Optimalkan Modifikasi Cuaca Jinakkan Karhutla Di Kalimantan
Jumat, 21 Agustus 2026 14:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai bagian dari strategi terpadu untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan OMC dilakukan untuk meningkatkan peluang hujan dan membasahi wilayah yang rawan karhutla, dengan tetap didukung penanganan di darat.
“Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,” kata Ristianto melalui keterangan tertulis yang dikutip di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Di Kalimantan Barat, OMC telah dilaksanakan pada 13-17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Dalam periode tersebut, dilakukan sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.
Berdasarkan prakiraan cuaca terkini, peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23-27 Agustus 2026. BMKG saat ini berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengupayakan pelaksanaan kembali OMC di Kalimantan Barat pada periode tersebut.
Sementara di Kalimantan Tengah, OMC telah dilakukan dalam dua periode, yakni 27 Juli-4 Agustus dan 11-15 Agustus 2026.
Baca juga : Atasi Karhutla Kalimantan, 12.880 Personel Dikerahkan-Bangun Sumur Bor
Operasi tersebut mencakup 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik.
“Namun, hingga akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas,” ujarnya.
Karena itu, peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat di Kalimantan Tengah sangat minim. Pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk mengidentifikasi apabila muncul peluang penyemaian awan.
Untuk Kalimantan Selatan, pemerintah terus memantau perkembangan cuaca, titik panas atau hotspot, dan kondisi karhutla secara intensif. Peluang pelaksanaan OMC akan dinilai berdasarkan ketersediaan awan potensial serta kebutuhan penanganan di lapangan.
“Mengingat OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, operasi hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan yang memenuhi persyaratan teknis untuk penyemaian,” kata Ristianto.
Ia menegaskan OMC bukan satu-satunya instrumen pengendalian karhutla di tiga provinsi tersebut. Pemerintah tetap memprioritaskan pemadaman darat, patroli terpadu, pendinginan lokasi, penguatan personel dan sarana, serta pencegahan agar kebakaran tidak meluas.
Baca juga : Kemenhut Amankan Truk Kayu Ilegal, Telusuri Pemasok hingga Penerima
“Evaluasi kondisi cuaca dan operasi lapangan dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap langkah penanganan dilaksanakan secara cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi,” ujarnya.
Tambah Armada Udara
Pemerintah juga menambah dukungan armada udara untuk menangani karhutla, terutama di Kalimantan Tengah. Armada tersebut terdiri atas helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing.
Ristianto mengatakan, operasi udara berfungsi mendukung satuan tugas darat, terutama untuk menjangkau titik api yang sulit atau tidak dapat diakses melalui jalur darat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi water bombing di Kalimantan Tengah.
“Penambahan armada diharapkan meningkatkan jangkauan operasi, khususnya pada lokasi yang sulit diakses dan membutuhkan pembasahan dari udara,” katanya.
Baca juga : Gerindra Minta Ke BMKG Maksimalkan Upaya OMC
Namun, pengerahan armada tetap mempertimbangkan jarak pandang, kondisi asap, cuaca, serta standar keselamatan penerbangan.
Pekatnya asap dalam dua hari terakhir menjadi tantangan bagi operasi udara, terutama di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau.
“Asap yang terlalu pekat membatasi pandangan pilot terhadap sasaran dan jalur penerbangan. Dalam kondisi jarak pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan, helikopter tidak dapat dipaksakan menjangkau lokasi pemadaman,” ujar Ristianto.
Keterbatasan operasi udara tidak menghentikan penanganan karhutla. Ketika pertumbuhan awan belum mendukung OMC atau jarak pandang belum aman untuk water bombing, satuan tugas darat tetap melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan penjagaan lokasi rawan.
“Strategi operasi terus disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya