Dark/Light Mode

Resensi Buku

“Transaksi Gelap Politik Uang di Indonesia”

Rabu, 15 Juli 2020 23:32 WIB
Cover buku Kuasa Uang: Politik Uang dalam Pemilu Pasca-Orde Baru. (Foto: ist)
Cover buku Kuasa Uang: Politik Uang dalam Pemilu Pasca-Orde Baru. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengambilan diksi dalam judul buku ‘kuasa uang’ menggambarkan kesan awal sebuah karya yang jorok, brutal, dan tabu. Karena kebanyakan kondisi pemilu di Indonesia menampilkan wajah panggung depan dengan resonansi positif berbumbu bualan janji manis sang politisi untuk meraih suara masyarakat sebanyak-banyaknya. 

Namun di saat yang sama, masyarakat juga dihadapkan dengan praktik kotor transaksional yang menukarkan semua harapan perbaikan dengan beberapa lembaran uang di dalam sebuah amplop. Mengesankan kondisi operasi uang dalam politik di Indonesia sama seperti udara, sangat bisa dirasakan tapi sangat sulit untuk dibuktikan. Meskipun dari sejumlah negara di Asia Tenggara, Indonesia masih cukup vulgar untuk mengakui adanya politik uang. (hal. 17)

Tetapi justru berbanding terbalik saat kita tenggelam pada kerangka pikiran buku ini. Joroknya judul yang terkesan di awal, justru berhasil disediakan dengan sangat elegan, juga dengan khazanah referensi yang ketat, penyajian dan analisis data yang menghidupkan, serta fakta penelitian yang sangat ilmiah. Menghancurkan gap antara teori dan praktik yang terkadang sangat jauh perbedaanya, namun justru menjadi kekuatan memikat pada buku ini.

Baca Juga : Gubernur Oklahoma, AS Kena Corona

Demokrasi merupakan jalan terbaik dari pilihan-pilahan sistem politk yang ada untuk mencapai tujuan Indonesia merdeka, kira-kira begitu argumentasi para pelopor demokratisasi di Indonesia 22 tahun yang lalu. Salah satu indikator terpenting demokrasi adalah terselengaranya pemilhan umun secara berkala dan memenuhi prinsip-prinsipnya, pelaksaan pemilu pasca orde baru mendapat banyak tantangan salah satunya mengenai cost politik yang sangat besar.

Salah satu penyebab tingginya cost politik di Indonesia adalah adanya praktek jual beli suara atau money politics, terdapat beberapa faktor yang menjelaskan fenomena money politics seperti sistem pemilu, makelar politik, dan pragmatisme pemilih. Buku ini mengisi kekosong literatur peran jual beli suara dalam konteks demokrasi di Indonesia. (hal. 3)

Ibarat dalam pertandingan sepak bola, buku ini bukan sekedar mengomentari permainannya, bukan menghajar tim sepak bolanya, tetapi juga menghancurkan arena permainan sepak bolanya. Buku ini secara telanjang menjelaskan bahwa pada sistem proporsional terbuka, membuat insting serigala dalam pikiran politisi aktif. Akibat dari sistem tersebut, persaingan kawan dalam partai yang sama pada akhirnya meruncing yang saling menonjolkan kekuatan jejaring sosial masing-masing individu di partai yang sama, akhirnya hanya berharap menang pada margin yang tipis pada popular votes. (hal. 38)

Baca Juga : Patuh Bayar Pajak, Menteri LHK Terima Penghargaan Dari DJP

Pertarungan satu partai, membuat para kandidat mensiasati dengan membentuk tim sukses dan tidak lagi mengandalkan struktur partai atau disebut penulis sebagai loyalis pribadi. Untuk bertarung di sistem proporsioal terbuka tim sukses mempunyai jangkau pemilih yang luas dan berfungsi sebagai distributor insentif material pada pemilih. Artinya bisnis jual beli suara lahir dari para sales politik perindividu.

Juga dalam buku ini berhasil membuat marwah uang dalam pemilu menurut, sebab faktanya bisnis jual beli suara diselimuti dengan ketidak pastian. Memastikan keterpilihan setelah mengguyur sejumlah uang seperti perjudian dengan segala kemungkinan. Tetapi meskipun marwah uang sudah jatuh, hebatnya dari uang dalam politik ternyata tetap membuat politis ketergantungan. Lagi-lagi bukan karena kepastiannya, tetapi karena latah terhadap lawan yang lain. 

Oleh karena lawan menggunakan cara mengguyur uang, maka sebuah kemutlakan jalur kotor tersebut juga harus ditempuh. Istilahnya, berlomba-lomba dalam kejahatan lebih efisien digunakan, meskipun tidak efektif. (hal. 303)

Baca Juga : Mesin Penyimpan Buatan Balitbangtan Bikin Cabe Tahan 30 Hari

Membudaya secara alami seolah para caleg justru menghindari jalur akademik, atau perihal yang sifatnya substantif dalam meraih suara, tapi justru menikmati dan memilih jalan yang sederhana dengan uang. Pembelian suara sebagai fungsi dari margin kemenangan yang ketat, politisi yang didera dilema tahanan, dan persepsi betapa pentingnya membeli suara dibandingkan menonjolkan sisi substantif yang lain, menjadi penjelasan utama  buku ini  pada kontribusi dalam menjelaskan cara dan latar belakang pembelian suara di Indonesia. (hal. 310)
 Selanjutnya