Dark/Light Mode

Ormas Islam Dan PGRI Mundur Dari Organisasi Penggerak

Pendidikan Bukan Cuma Siap Kerja, Tapi Mendidik Akhlak

Sabtu, 25 Juli 2020 08:05 WIB
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar. (Foto: Kemendikbud)
Ilustrasi kegiatan belajar mengajar. (Foto: Kemendikbud)

 Sebelumnya 
Senada, Ketua LP Maarif NU Arifin Junaidi menilai, sejak awal program ini cukup aneh. Pihaknya ditelepon untuk ajukan proposal dua hari sebelum penutupan.“Kami nyatakan tidak bisa bikin proposal dengan berbagai macam syarat dalam waktu singkat, tapi kami diminta ajukan saja syarat-syarat menyusul,” kata Arifin.

Buntutnya, proposal ditolak. Namun, kata Arifin, setelah itu pihaknya dihubungi lagi untuk melengkapi syarat-syarat. Selanjutnya, pihaknya juga diminta surat kuasa dari PBNU namun ditolak oleh Arifin karena sesuai AD/ART tidak perlu surat kuasa. “Kami terus didesak, akhirnya kami minta surat kuasa dan memasukkannya di detik-detik terakhir,” ucapnya.

Mundurnya Muhammadiyah dan Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU dalam program Organisasi Penggerak Kemendikbud, menjadi tanda tanya warganet.

Baca juga : Pembangunan Daerah Jangan Cuma Bergantung Sama APBD

“Organisasi-organisasi yang kompeten malah pada mengundurkan diri, ada apa? tanya Myonlyme. “Kemaren Muhammadiyah, NU, sekarang PGRI terus selanjutnya siapa lagi?” tanya Annisa Nurmawati.

Ahmad Syalabi menyambar. Dia mengatakan, sekelas Muhammadiyah dan NU mundur, ditambah lagi PGRI wadah berkumpulnya para pendidik. “Berarti mereka melihat ada ketidakberesan di tubuh dunia pendidikan kita,” kata dia.

Titik terang menyambung. Dia menyebut PGRI menyusul Muhammadiyah dan LP Ma’arif NU PBNU yang mengundurkan diri dari Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud. Salah satu alasan yang dikeluhkan ketiganya, lanjut dia, karena kriteria pemilihan & penetapan peserta POP tidak jelas. “PGRI minta POP ditunda dulu tahun ini,” kata dia.

Baca juga : Alex Marwata Sebut Penghentian Penyelidikan 36 Perkara Sudah Sesuai Mekanisme

Arrei menyesalkan PGRI sampe keluar. Lagian bos Gojek ditaro jadi Menteri Pendidikan. “Padahal pendidikan bukan cuma bicara siap kerja, tapi juga mendidik pola pikir luhur, integritas, karakter, dan akhlak,” kata dia.

Nur Kholis Abdillah menyayangkan dua organisasi besar yang selama ini berperan penuh malah harus hengkang. Padahal, mereka sudah turut berjuang dalam dunia pendidikan sudah lama, mungkin sebelum kemerdekaan. “Muhammadiyah bahkan pernah terlibat dalam berdirinya Budi Utomo,” kata dia.

Uidd mengatakan, peningkatan mutu pendidikan adalah keniscayaan. Namun, tidak menyerta-kan partisipasi NU dan Muhammadiyah yang telah baktikan diri mereka untuk maksud itu adalah aneh. “Sama dengan butakan diri,” kritiknya.

Baca juga : Mundur Dari Tugas Kerajaan, Harry Siap Biayai Hidup Sendiri

Arini Putri membela Kemendikbud. Dia menegaskan seleksi program Organisasi Penggerak dilakukan independen oleh lembaga SMERU Research Institute. Kemendikbud, kata dia, tak ada intervensi. [TIF]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.