Click Here

Dark/Light Mode

Kampus Blended dan Tantangan Mencerdaskan

Kamis, 15 Oktober 2020 23:34 WIB
Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah

RM.id  Rakyat Merdeka - Memasuki awal-awal perkuliahan kemarin, kita dihadirkan pada suasana baru. Meski tidak pernah terbayangkan sebelumnya, namun pengalaman selama masa pandemi ini sangat berharga untuk menjadi alat evaluasi kelembagaan sistem pengajaran di kampus. Di mana, kampus yang di dalamnya bertujuan mencetak dan menghasilkan generasi terkini yang siap beradaptasi dengan budaya jaman, justru banyak yang tergopoh-gopoh mengimbangi tuntutan aktual ini.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kampus selama masa pandemi harus mengadaptasikan diri secara cepat dalam pelayanannya kepada stakeholders kampus: mahasiswa, dosen, dan masyarakat luar kampus. Jika sebelumnya daring hanya alternatif yang tidak semua orang cakap menggunakannya, kini semua pihak dituntut menceburkan diri pada sistem tersebut. Di sinilah yang disebut sebagai tergopoh-gopoh.

Berita Terkait : Jalan Panjang Untuk Menjadi Seorang Masinis KAI

Namun jangan dilupakan, realitas sosiologis masyarakat kampus. Banyak stakeholders ini datang dari berbagai kelas dan strata sosial-budaya yang berbeda. Ada yang berlatar belakang sosial-ekonomi yang mapan dan cukup, namun juga banyak dari kalangan menengah bawah baik secara ekonomi maupun sosial.

Realitas sosial ini meniscayakan, bahwa respon atas situasi pembelajaran dan akademik di kampus pun harus menyesuaikan kondisi ini. Sehingga proses fasilitas atas situasi ini sangat penting, tentu dengan tanpa mencederai keadilan. Di mana mereka yang “kekurangan” harus diberikan ruang yang cukup, agar proses mobilitas vertikal yang mereka lalui melalui sistem pendidikan ini tidak terhambat.

(*)

Berita Terkait : Kangen Mendaki Rinjani

Akhir-akhir ini kata “blended” sering dipergunakan oleh kalangan kampus untuk meringkas aktivitas formal di masa new normal ini. Berbeda dengan kata “Zoom” yang merupakan sarana atau media penghantar proses kegiatan belajar atau KBM, “blended” adalah metodenya.

Secara sederhana, “blended” merupakan aktivitas KBM yang menggunakan multi-metode. Multi metode ini bisa di aras pendekatan, bisa juga di aras yang lebih teknis, misalnya luring dan daring.

Berita Terkait : Pendidikan dan Pembelajaran Sejarah

Model KBM daring dan luring ini bukan semata proses penyajian. Misalnya menggunakan sarana internet dan kemudian mendaringkan semua materi. “Blended” ini juga mengubah banyak formasi dan metode mengajar, konten, dan bahkan sistemnya. Oleh karena itu, metode “blended” pasti akan merembes menjadi budaya baru dalam sistem belajar.

Masih berkaitan dengan term blended ini, bagaimana SDM kita? Sebab secara praktis, kultur dan kapasitas kita tidak didesain untuk belajar dalam suasana ini. Bahkan, mereka yang tidak mau meningkatkan kapasitas diri untuk mengelola situsasi ini secara cerdas, cenderung hanya memindahkan materi ajar dari luring ke daring melalui media internet.
 Selanjutnya