Click Here

Dark/Light Mode

Kampus Blended dan Tantangan Mencerdaskan

Kamis, 15 Oktober 2020 23:34 WIB
Dr. Tantan Hermansah
Dr. Tantan Hermansah

 Sebelumnya 
Sampai saat ini, nyaris semua media yang lazim dipergunakan untuk pengajaran a la blended ini tidak berbasis produk lokal. Sebut saja yang paling populer adalah Zoom dan g-meet. Jelas, semakin banyak yang memercayakan produk ini sebagai fasilitas untuk pengajaran, maka keuntungan mereka semakin besar.

Mengapa kita tidak segera memproduksi sarana untuk daring ini, sehingga bandwith yang dipergunakan bisa lebih hemat dan anak bangsa bisa menikmati sistem blended ini dengan jauh lebih murah.

Dengan demikian, maka sebetulnya kita sedang memasuki era terekstrim dalam sistem blended ini. Di mana seluruh instrumen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa di-blended dalam sebuah kerangka pikir yang tidak didasarkan kepada infrastruktur dan suprastruktur yang jelas.

Berita Terkait : Jalan Panjang Untuk Menjadi Seorang Masinis KAI

Menghadapi persoalan ini, maka sudah sejatinya kita harus melakukan telaah ulang atas semua yang terjadi ini, termasuk mempertanyakan apakah pilihan-pilihan kita atas proses yang tengah dan akhirnya dipaksakan berlangsung itu benar-benar berdiri di pundak yang benar, atau hanya karena keterpaksaan.

Dalam kondisi “keterpaksaan” ini, sejatinya pemeritah harus tetap kokoh pada tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana yang telah digariskan Undang-Undang Dasar 1945 itu. Karena kata yang dipilih bapak-bapak pendiri bangsa adalah “mencerdaskan”, maka alat evaluasi atas pilihan-pilihan strategi pembelajaran hari ini pun harus diukur pada terma tersebut.

Menurut Haedar Nasir (Republika, 29/09/2019), “cerdas” artinya “sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir, mengerti, dan tajam pikiran; serta sempurna pertumbuhan tubuhnya menjadi sehat dan kuat”.

Berita Terkait : Kangen Mendaki Rinjani

Dengan merujuk kepada arti tersebut, maka pertanyaan kritis patut diajukan pada apa yang saat ini sedang kita setujui untuk dilangsungkan: benarkah sistem blended itu merupakan sarana yang cukup untuk mendukung upaya-upaya “menyempurnakan perkembangan akal budinya, dan menyempurnakan pertumbuhan fisiknya?”

Mari kita lihat realisasinya. Pertama, banyak kampus tergopoh-gopoh dengan metode ini karena sarana penunjangnya tidak atau belum siap. Sarana penunjang tersebut mulai dari infrastruktur penyalur data dan media pembelajarannya. Alih-alih menggunakan metode dan infrastruktur sendiri, yang terjadi hanya menumpang pada media yang sudah dibuat orang lain, yang mekanisme pembuatan platform-nya bukan untuk pembelajaran daring.

Kedua, stakeholders utamanya, mahasiswa dan dosen pun tidak sepenuhnya bisa menumpang dengan mulus di atas platform yang ada tersebut. Banyak metode ini hanya mengalihkan model kelas luring ke kelas daring, tanpa modifikasi yang sistematis dan terjelaskan secara metode pembelajaran. Sehingga kelas-kelas banyak hanya bergulat pada teaching system. Sementara kegiatan pendidikan yang mengarah ke riset, menjadi terabaikan.
 Selanjutnya