Dark/Light Mode

Quick Count by Litbang Kompas
Anies & Muhaimin
25.23%
Anies & Muhaimin
Prabowo & Gibran
58.47%
Prabowo & Gibran
Ganjar & Mahfud
16.30%
Ganjar & Mahfud
Waktu Update 20/02/2024, 00:17 WIB | Data Masuk 100%

Soal Vaksinasi, Jangan Percaya Berita Hoaks

Jumat, 30 Oktober 2020 21:30 WIB
Tenaga Ahli Utama Kepresidenan, KSP, Dany Amrul Ichdan (kiri) (Foto: Istimewa)
Tenaga Ahli Utama Kepresidenan, KSP, Dany Amrul Ichdan (kiri) (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tenaga Ahli Utama Kepresidenan Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Dany Amrul Ichdan menyoroti kekhawatiran masyarakat terhadap kejadian pasca imunisasi. Takut demam, flu, apalagi kalau sampai meninggal dunia.

Menurutnya, hal itu terjadi karena masyarakat banyak mengkonsumsi berita-berita di media sosial, yang kebenarannya masih dipertanyakan.

"Jangan pernah percaya pada berita-berita hoaks. Fokus saja pada berita-berita pemerintah yang rinci dan detail," kata Dany kepada RMco.id, Jumat (30/10).

Baca juga : Arsenal Vs Dundalk, The Gunners Pertajam Daya Gedor

Untuk mengantisipasi kejadian pasca imunisasi, pemerintah telah menerbitkan Perpres No.99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

"Pasal 15 Perpres tersebut mengatur bagaimana Kementerian Kesehatan memonitor kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Apabila ditemukan ada persoalan KIPI, maka itu dilaporkan ke Komisi Nasional (Komnas) dan Komisi Daerah (Komda) KIPI. Nanti akan ditelaah, apakah keluhan tersebut murni karena vaksin, atau ada faktor lain di luar itu," papar Dany.

"Hal itu perlu dimitigasi. Perlu dibuat nomor vaksin, nomor bed. Gejalanya akan kami pantau. Apakah dialami oleh orang per orang, beberapa orang, atau umum. Ini bukti pemerintah sangat prudent. Berhati-hati, supaya masyarakat tidak cemas," lanjutnya.

Baca juga : Barikade 98 Siap Pasang Badan Untuk Pemerintahan Jokowi

Lansia Dan Komorbid

Dany juga menjawab kekhawatiran publik tentang vaksin yang akan diberikan untuk masyarakat rentang usia 18-59 tahun.

"Memang ada pertanyaan seperti itu. Untuk lansia, bagaimana? Untuk komorbid, bagaimana? Itu bukannya mereka nggak dapat vaksin. Itu karena kita mengacu pada kelompok usia yang menjadi relawan pada saat uji coba di Bandung kemarin. Di Brazil, sampling komorbid dan anak-anak ada. Pemerintah akan menambah sampling lainnya melalui uji klinis," terang Dany.

Baca juga : Pentingnya Mengelola Perikanan Berkelanjutan di Indonesia

"Ke depan, tentu akan dilakukan post marketing surveillance untuk perluasan data sampling," pungkasnya. [FAQ]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.