Dewan Pers

Dark/Light Mode

8 Bulan Tangani Pasien Covid Di Wisma Atlet

Tolong, Jangan Sia-siakan Pengorbanan Kerja Nakes

Senin, 16 Nopember 2020 06:10 WIB
Ilustrasi tenaga kesehatan. (Istimewa)
Ilustrasi tenaga kesehatan. (Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dua minggu setelah libur panjang akhir Oktober, terjadi kenaikan jumlah pasien di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19 Wisma Atlet sebesar 21 persen. Meski tidak separah liburan-liburan sebelumnya, masyarakat diminta tetap waspada, jangan lengah.

Koordinator RSD Covid19 Wisma Atlet Kemayoran, Mayjen Tugas Ratmono meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) agar pengorbanan selama delapan bulan melawan Covid-19 tidak sia-sia.

“Kami berharap semua pihak melaksanakan disiplin kesehatan. Menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan,” katanya saat konferensi pers di Tower 1 RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet, Jakarta, kemarin.

Senada dengan Tugas, Afriad, seorang dokter yang sudah bertugas selama delapan bulan di RSD Wisma Atlet mengaku kesulitan dengan peningkatan kasus pasca liburan.

Berita Terkait : Bantu Penanganan Covid-19, Danone Diganjar Penghargaan Kemenkes

Padahal, dia sudah bekerja keras merawat pasien Covid-19 dan meninggalkan keluarganya. “Hal ini sangat menyulitkan bagi kami di sini,” keluhnya.

Afriadi berharap, pengorbanannya selama ini didukung masyarakat dengan menghindari kerumunan dan menerapkan protokol kesehatan.

Jangan sampai, angka pasien Covid-19 terus meningkat. “Kami di sini punya keluarga. Ingin juga kembali berkumpul bersama keluarga kami. Kami mohon sekali lagi untuk tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat dan menghindari kerumunan atau mengikuti kegiatan-kegiatan yang tidak penting,” lanjut Afriadi.

Doni Lukas juga merasakan beratnya menjadi tenaga medis Covid-19. Menurutnya, tenaga medis merupakan garda terakhir. Sementara masyarakat adalah garda terdepannya.

Berita Terkait : Luas Tanam Padi Meningkat, Kementan Berikan Penghargaan Untuk Purwakarta

“Jangan sia-siakan pengorbanan kami dengan mengikuti kerumunan acara-acara yang tidak perlu. Itu sangat menyusahkan kami di sini,” katanya. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih mengatakan, perjuangan melawan Covid-19 belum berakhir.

Banyak orang yang sudah menjadi korban, termasuk tenaga kesehatan. Menurutnya, petugas kesehatan dibutuhkan di saat sekarang. Meski sudah ratusan petugas kesehatan yang gugur, bukan berarti menyerah untuk terus berjuang.

“Kami mohon dengan sangat meminta pengertiannya agar tidak memperberat situasi. Kami mohon betul dari hati yang paling dalam agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Wakil Ketua Umum IDI Adib Khumaidi menyebutkan, sudah 159 dokter yang gugur hingga 10 November 2020. Bahkan, beberapa hari lalu ada penambahan lagi.

Berita Terkait : Kalau Takut Debat, Jangan Jadi Calon Kepala Daerah

Dua atau tiga dokter yang wafat dikarenakan Covid-19. Menurutnya, lonjakan angka Covid-19 sangat terkait pada aktivitas masyarakat. Salah satunya, berkaitan dengan mobilitas masyarakat dan kerumunan di tengah masyarakat.

“Garda terdepannya itu masyarakat. Kami benteng terakhirnya. Karena itu, diharapkan masyarakat mematuhi protokol kesehatan dengan ketat,” katanya. [QAR]