Dark/Light Mode

Biaya Perawatan Covid-19 Mahal, Yuk Kita Terus Jaga Protokol Kesehatan

Kamis, 26 Nopember 2020 20:47 WIB
Prof. dr. Hasbullah Thabrany. (Foto: Satgas Covid)
Prof. dr. Hasbullah Thabrany. (Foto: Satgas Covid)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah terus berupaya memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap dampak pandemi Covid-19. Pemerintah juga menanggung biaya perawatan rumah sakit bagi pasien penderita virus asal Wuhan, China tersebut.

“Apabila kita bisa disipilin menjalankan protokol kesehatan 3M; Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak aman dan pemerintah aktif menjalankan 3T; Tracing, Testing, Treatment, kita dapat menghemat kerugian negara yang lebih besar lagi, kita bisa menghemat sampai Rp 500 Triliun, dan menggunakannya untuk membangun ekonomi Indonesia,” ujar Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof Hasbullah Thabrany.

Dia menyampaikan hal tersebut pada acara Dialog Produktif bertema “Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi” yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Kamis (26/11).

Untuk diketahui, berdasarkan hasil survei menunjukkan rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk perawatan Covid-19 mencapai Rp 184 juta per orang. Saat ini pemerintah menanggung biaya rumah sakit perawatan pasien Covid-19 melalui anggaran Kementerian Kesehatan.

Berita Terkait : Cegah Penularan, Satgas Covid-19 Keker Penyelenggaraan Pilkada

“Saya kira kalau dirawat lebih dari 30 hari apalagi harus masuk ICU yang biayanya bisa sehari Rp 15 juta per hari, pengeluarannya bisa lebih dari seratus juta. Tapi masyarakat perlu pahami, meski ditanggung negara maka jangan merasa nyaman dan tidak peduli menjalankan protokol Kesehatan”, terang Prof. Hasbullah.

Cara terbaik agar masyarakat dan negara tidak merugi lebih besar lagi adalah dengan mencegah, jangan sampai terkena Covid-19. Oleh karena itu Prof. Hasbullah menyarankan untuk disiplin menjalani protokol kesehatan 3M.

“Kalau nanti sudah ada vaksin, kita tambah dengan vaksin. Meskipun harga vaksin belum keluar nilainya, tapi misalnya harganya nanti katakanlah Rp 200.000, investasi ini akan memberikan kita peluang lebih aman daripada berisiko besar terinfeksi dan memerlukan pengobatan,” ujarnya.

Menurut dia, vaksin terbukti mampu memberikan ketenangan. Contohnya pada kasus penyakit TBC. “Karena hampir semua orang sudah divaksinasi BCG, kita bisa tenang menjalani kehidupan,” ujar Prof. Hasbullah.

Berita Terkait : Kapolri Perintahkan Kasatwil Tindak Tegas Pelanggar Prokes

Selain itu, dari perspektif agama, Prof. Hasbullah menilai, mencegah penularan sama derajatnya dengan melakukan ibadah, “Saking besarnya ibadah itu sampai naik haji dan sholat jumat berjamaah pun boleh ditinggalkan untuk menghindari penularan lewat kerumunan”, tegas Prof. Hasbullah.

Menurut dia, masyarakat harus berpikir positif, selektif, dan cerdas dalam menerima informasi, ambil informasi dari sumber resmi dan terpercaya seperti penjelasan pemerintah. “Kita harus menyadari bahwa mencegah penularan Covid-19 sangat besar manfaatnya bagi diri sendiri dan orang lain,” ujar Prof. Hasbullah.

Salah seorang penyintas Covid-19, Icha Atmadi ST, membenarkan pernyataan Prof. Hasbullah tersebut, semua pasien Covid-19 baik yang gejalanya ringan, sedang, maupun berat, mengalami titik terendah sehingga membuat kita lebih introspeksi.

“Ayah saya sampai mendapatkan beberapa suntikan infus, belum lagi ditambahkan alat bantu pernapasan, serta alat pendukung dan tindakan medis lainnya. Jadi benar-benar mencemaskan waktu itu,” terangnya. [DIT]

Berita Terkait : Wagub DKI: Nggak Usah Pergi Jauh, Tolong Di Rumah Saja