Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
IDI: 342 Tenaga Medis Wafat, Sudah Kewalahan Hadapi Lonjakan Pasien
Sabtu, 5 Desember 2020 14:17 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam kurun waktu sepekan pertama bulan Desember 2020, angka kematian tenaga medis naik hingga tiga kali lipat. Kini, tenaga medis yang wafat selama pandemi Covid-19 berjumlah 342.
Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), melalui Tim Mitigasi mengumumkan pembaruan data tenaga medis yang wafat akibat Covid-19. Dari Maret hingga Desember ini, terdapat total 342 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid-19.
Rinciannya, 192 dokter, 14 dokter gigi, dan 136 perawat. Para dokter yang wafat tersebut terdiri dari 101 dokter umum (4 guru besar), dan 89 dokter spesialis (7 guru besar), serta 2 residen yang keseluruhannya berasal dari 24 IDI Wilayah (provinsi) dan 85 IDI Cabang (Kota/Kabupaten). B
Berdasarkan sebaran provinsi, Jawa Timur 39 dokter, 2 dokter gigi, dan 36 perawat, DKI Jakarta 31 dokter, 5 dokter gigi dan 21 perawat. Sumatra Utara 24 dokter dan 3 perawat, Jawa Barat 17 dokter, 3 dokter gigi, dan 18 perawat, Jawa Tengah 17 dokter dan 21 perawat, Sulawesi Selatan 7 dokter dan 3 perawat, Banten 7 dokter dan 2 perawat, Bali 6 dokter, Aceh 6 dokter dan 2 perawat, Kalimantan Timur 5 dokter dan 3 perawat, Riau 5 dokter, DI Yogyakarta 5 dokter dan 2 perawat, Kalimantan Selatan 4 dokter, 1 dokter gigi, dan 6 perawat.
Baca juga : Yuk, Kita Ikut Mensukseskan Program Vaksinasi Nasional
Selanjutnya, Sumatra Selatan 4 dokter dan 5 perawat, Kepulauan Riau 3 dokter dan 2 perawat, Sulawesi Utara 3 dokter, Nusa Tenggara Barat 2 dokter, Sumatra Barat 1 dokter, 1 dokter gigi, dan 2 perawat, Kalimantan Tengah 1 dokter dan 2 perawat, Lampung 1 dokter dan 1 perawat, Maluku Utara 1 dokter dan 1 perawat, Bengkulu 1 dokter, Sulawesi Tenggara 1 dokter dan 2 dokter gigi, Papua Barat 1 dokter Papua 2 perawat, Daerah Penugasan Luar Negeri Kuwait 2 perawat, Nusa Tenggara Timur 1 perawat, dan Kalimantan Barat 1 perawat.
Divisi Advokasi dan Hubungan Eksternal Tim Mitigasi PB IDI, Eka Mulyana mengigatkan, virus ini benar-benar nyata dan telah memakan nyawa banyak orang dalam waktu yang cepat.
"Kami berharap apabila anda termasuk orang yang tidak mempercayai adanya Covid-19 ini, namun janganlah mengorbankan keselamatan orang lain dengan ketidakpercayaan tersebut," kata Eka Mulyana, Sabtu (5/12).
Tingginya lonjakan pasien Covid-19 serta angka kematian tenaga medis dan tenaga kesehatan, kata Eka, mestinya menjadi peringatan kepada kita semua untuk tetap waspada dan mematuhi protokol kesehatan (3M), memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.
Baca juga : Tenaga Kesehatan Mulai Lelah, Berharap Covid-19 Enyah
"Dengan mengabaikan protokol kesehatan, maka anda tidak hanya mengorbankan keselamatan diri sendiri namun juga keluarga dan orang terdekat termasuk orang di sekitar," kata dia.
Pandemi ini, lanjutnya, akan berlalu dengan kerjasama seluruh pihak. Tim Mitigasi PB IDI secara khusus mengingatkan kepada tenaga medis dan tenaga kesehatan waspada dan tetap menjalankan protap seperti dalam pedoman standar perlindungan dokter di saat melakukan pelayanan dan saat berada di keluarga dan komunitas.
Sementara itu, Weny Rinawati, anggota Tim Pedoman dan Protokol dari Tim Mitigasi PB IDI mengingatkan, para tenaga kesehatan agar tidak menurunkan kualitas Alat Pelindung Diri (APD) yang dikenakan.
"Saat ini standar level APD yang wajib dikenakan oleh para tenaga kesehatan adalah level tertinggi, sesuai dengan resiko tempat melakukan pelayanan. Kami juga berharap agar pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan juga menyediakan APD yang layak bagi para tenaga kesehatan," pintanya.
Baca juga : Calon Kepala Daerah Gaungkan Sumbawa Jadi Sentra Pakan Ternak Nasional
Sedangkan bagi para tenaga kesehatan yang berpraktek secara pribadi, tambahnya, sebaiknya tetap menggunakan APD level sesuai potensi risiko dalam menangani pasien.
Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhilah menjelaskan, sekitar 75 persen perawat yang meninggal akibat Covid-19 umumnya bertugas di kamar rawat inap. Kemungkinan perawat tertular dari pasien sebelum hasil swab pasien keluar dari lab laboratorium atau Orang Tanpa Gejala (OTG).
Diingatkannya, tenaga kesehatan dari berbagai divisi sudah kewalahan menangani lonjakan pasien. Oleh karenanya, pihaknya berharap dukungan pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kualitas perlengkapan pemeriksaan kesehatan. Agar bisa diperoleh hasil yang lebih cepat untuk mengurangi angka penularan di fasilitas kesehatan, termasuk pemeriksaan rutin untuk para tenaga kesehatan. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya