Dewan Pers

Dark/Light Mode

Padang Panjang Direkomendasi Jadi Kota Wisata Sejarah

Kamis, 31 Desember 2020 11:57 WIB
Prof Dr H Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). [Foto: Dok Warta Muslim]
Prof Dr H Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka). [Foto: Dok Warta Muslim]

RM.id  Rakyat Merdeka - Nama besar sang pahlawan nasional Prof Dr H Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), tak bisa dilepaskan dari Padang Panjang, sebuah kota kecil di Sumatera Barat. Sekarang, kota bersejarah ini digaungkan sebagai bagian dari objek wisata sejarah.

Menurut Pemerhati Sejarah Lokal, Fikrul Hanif Sufyan, meski kota ini kecil, tapi punya rekam jejak yang kuat dalam narasi sejarah nasional dan lokal. Kota ini merupakan penghubung dan menjadi gerbang lalu lintas manusia, barang, ideologi, serta modernisasi Islam.

Gagasan menjadikan Padang Panjang sebagai objek wisata sejarah dibahas di sejumlah diskusi. Salah satunya, melalui Seminar Laporan Akhir bertajuk Kajian Wisata Sejarah: Menapak Jejak Hamka dan Normaal School (kini SMAN 1 Padang Panjang) di Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata, Kota Padang Panjang, Rabu (30/12/2020) lalu.

Berita Terkait : Menguat Lagi, Stimulus AS Jadi Obat Kuat Rupiah

“Di kota ini, Hamka tumbuh berkembang, sejak dibawa hijrah di usia 4 tahun oleh ayah kandungnya, Haji Abdul Karim Amrullah," jelas Fikrul dalam pemaparannya.

Memiliki gelar Datuk Indomo, sosok yang lebih populer dengan nama pena Hamka ini adalah seorang wartawan hingga menjadikannya sebagai tokoh pers, penulis, pengajar, politisi, sastrawan dan ulama. Salah satu karyanya yang monumental adalah Tafsir Al-Azhar.

Hamka juga tercatat terjun di dunia politik melalui Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) -sampai partai tersebut dibubarkan oleh Presiden pertama, Soekarno, lalu menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif di Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Berita Terkait : Cegah Monopoli Bisnis Telekomunikasi, KPPU Diminta Terlibat Sejak Awal

Universitas Al-Azhar, Mesir dan Universitas Nasional Malaysia bahkan menganugerahinya gelar doktor kehormatan. Sementara Universitas Moestopo, Jakarta, mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya juga disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah.

Lalu pada 10 November 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menganugerahkan Hamka gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Terlepas dari itu semua, yang tak boleh dilupa adalah, Hamka pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya di Kota Padang Panjang. Bahkan di kota ini, jelas Fikrul, rekam jejak Hamka bisa ditelisik di berbagai titik. Misalnya Masjid Zuamma (Surau Jembatan Besi), Perguruan Thawalib, Diniyah Putri, Gelanggang Pacuan Kuda Bancah Laweh, dan Kauman Padang Panjang.

Berita Terkait : Pesan Nataru, Panglima TNI Dan Kapolri Jaga Persatuan Bangsa

Kepala Bidang Pemuda dari Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, Fahmi Darusman menambahkan, jejak Hamka juga bisa ditelusuri di Lubuk Mata Kucing, dan Goa Batu Batirai di Kampung Manggis.

Di Kauman, ujarnya, Hamka punya tempat tersendiri dalam narasi sejarahnya. Pada 1928, ia ditunjuk sebagai Kepala Sekolah (Hoofddirectuur) Tabligh School. Sekolah yang menempati bekas Hotel Merapi tersebut, merupakan institusi pendidikan yang bertujuan menghasilkan kader-kader Muhammadiyah yang tangguh dan siap dikirim ke seluruh Indonesia.

Ujungnya, pasca kemerdekaan, Hamka kemudian terpilih sebagai Ketua Muhammadiyah Daerah Minangkabau, menggantikan posisi Saalah Yusuf Sutan Mangkuto.
 Selanjutnya